Konten dari Pengguna

"Tanya AI saja, Jawabanya Langsung Keluar Kok"

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sarwo Edy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi belajar AI. Foto: Summit Art Creations/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi belajar AI. Foto: Summit Art Creations/Shutterstock

"Tanya AI saja, jawabannya langsung keluar kok." Kalimat itu makin sering kita dengar belakangan ini. Bagi Generasi Z yang tumbuh di tengah derasnya arus informasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) bukan lagi sekadar alat bantu ketik, melainkan sudah bergeser menjadi Oracle tempat memverifikasi fakta, menyelesaikan tugas akademik, bahkan mencari jawaban atas krisis eksistensial. Fenomena ini sejalan dengan teori Technology Acceptance Model (TAM) dari Fred Davis, di mana persepsi akan kemudahan (perceived ease of use) dan kegunaan (perceived usefulness) mendorong adopsi teknologi secara masif. Namun, ada satu paradoks besar yang luput dari perhatian kita: AI selalu menjawab dengan nada yang sangat meyakinkan, padahal sains yang menjadi fondasi ilmu pengetahuan justru bekerja di atas ketidakpastian.

Gaya bahasa Large Language Model (LLM) memang dirancang untuk percaya diri. Saat ditanya topik sains yang rumit sekalipun, AI akan menyusun kalimat yang rapi, runtut, dan terkesan tanpa cela. Sayangnya, kepastian bahasa ini sering kali hanyalah ilusi. Dalam dunia AI, dikenal fenomena hallucination—kondisi ketika algoritma merangkai fakta palsu dengan gaya penyampaian yang sangat persuasif. Di sinilah letak benturannya dengan sains. Filsuf ilmu pengetahuan Karl Popper pernah menegaskan konsep falsifiabilitas: sebuah teori dianggap ilmiah bukan karena bisa dibuktikan benar secara mutlak, melainkan karena ia siap dan terbuka untuk dibuktikan salah. Sains tidak pernah menjanjikan kepastian 100%, melainkan bekerja memakai probabilitas, p-value, peer review, serta revisi terus-menerus berdasarkan bukti baru. Ketika Gen Z mengonsumsi jawaban AI yang serba instan dan terasa pasti, mereka berisiko terjebak dalam skripturalisme algoritma—mempercayai narasi yang dihasilkan mesin tanpa melewati proses skeptisisme dan pengujian kritis yang menjadi ruh dari metode ilmiah.

Mengapa Gen Z begitu rentan terhadap ilusi ini? Jawabannya ada pada situasi zaman. Gen Z hidup di era yang dinaungi ketidakpastian tinggi: krisis iklim yang makin nyata, disrupsi ekonomi, hingga simpang siur informasi digital. Secara psikologis, berada dalam ketidakpastian yang terus-menerus memicu epistemic anxiety—kecemasan mendalam akibat rasa tidak tahu atau ketidakmampuan memprediksi masa depan. Hal ini diperkuat oleh Cognitive Load Theory dari John Sweller, yang menjelaskan bahwa kapasitas memori kerja manusia memiliki keterbatasan saat memproses informasi kompleks. Dalam situasi ini, AI hadir bagai oasis untuk mengurangi beban kognitif tersebut. Ketika metode ilmiah menuntut waktu berbulan-bulan untuk validasi data dan keberanian untuk mengatakan "kami belum tahu secara pasti", AI menawarkan jalan pintas yang menenangkan dengan memberikan kepastian instan yang memanjakan otak kita yang lelah.

Namun, memotong kompas dalam sains punya konsekuensi fatal. Kebiasaan ini perlahan melatih mental anak muda untuk tidak tahan menghadapi keraguan ilmiah. Jika ditinjau melalui perspektif sosiologi pengetahuan, fenomena ini berisiko melahirkan epistemic laziness (kemalasan epistemik), di mana individu enggan melakukan upaya kognitif mendalam untuk memverifikasi kebenaran. Risikonya adalah lahirnya fenomena "ahli dadakan"—generasi yang merasa memahami suatu fenomena kompleks hanya karena sudah membaca ringkasan 300 kata buatan AI, tanpa pernah memahami bagaimana data tersebut diuji dan dikoreksi di lapangan melalui metode ilmiah yang ketat.

Kita tentu tidak perlu menjadi anti-teknologi dan membuang AI jauh-jauh. AI adalah pencapaian luar biasa yang bisa mempercepat riset, memetakan struktur protein, hingga membantu prediksi cuaca ekstrem. Namun, cara pandang kita terhadapnya harus diluruskan. Filsuf Perancis, Paul Ricœur, mengenalkan konsep hermeneutika kecurigaan (hermeneutics of suspicion)—sebuah sikap kritis yang mengajarkan kita untuk tidak langsung menelan mentah-mentah apa yang disajikan di depan mata, melainkan mempertanyakan asumsi di baliknya. Sikap inilah yang harus diintegrasikan kembali oleh Gen Z saat berinteraksi dengan AI.

AI seharusnya diperlakukan sebagai mitra dialog atau penyedia hipotesis awal, bukan hakim penentu kebenaran mutlak. Ketika AI memberikan sebuah analisis, pertanyaan pertamanya bukanlah "apakah ini benar?", melainkan "bagaimana metode ilmiah membuktikannya, dan di mana letak batas ketidakpastiannya?". Pada akhirnya, sains mengajarkan kita satu hal yang sangat penting dalam kehidupan: kecerdasan sejati tidak diukur dari seberapa cepat kita mendapatkan kepastian palsu, melainkan dari seberapa berani kita menerima ketidakpastian sambil terus mencari kebenaran secara jujur dan kritis