Gempa Sumba Barat Daya Mengingatkan Kita, Kesiapsiagaan Bukan Sekadar Teori

Mahasiswa Sistem Informasi di Universitas Pamulang. Suka menulis tentang keseharian, produktivitas, dan hal-hal sederhana yang bermanfaat.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Efita Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gempa bumi yang mengguncang Sumba Barat Daya pada Minggu pagi (4/10/2026) menjadi pengingat bahwa bencana bisa datang kapan saja. Saat sebagian masyarakat masih beraktivitas di pagi hari, guncangan gempa M5,9 membuat warga panik dan sejumlah bangunan mengalami kerusakan.
Menurut BMKG, pusat gempa berada di laut sekitar 59 kilometer barat daya Kodi, Sumba Barat Daya, dengan kedalaman sekitar 30 kilometer. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, tetapi guncangannya cukup kuat hingga dirasakan di sejumlah wilayah.
Yang membuat kejadian ini semakin menjadi perhatian adalah adanya kerusakan pada rumah warga dan bangunan sekolah. Salah satu fasilitas pendidikan yang terdampak adalah SD Islam di Desa Perokonda, Kecamatan Kodi. Ada pula laporan seorang warga mengalami luka ringan.
Bagi saya, kejadian ini bukan hanya tentang seberapa besar kekuatan gempa. Hal yang lebih penting adalah seberapa siap masyarakat ketika bencana benar-benar terjadi.
Selama ini, pembahasan tentang kesiapsiagaan gempa sering terdengar sederhana. Kita dianjurkan berlindung di bawah meja, menjauh dari kaca, tidak menggunakan lift, kemudian keluar menuju tempat aman setelah guncangan berhenti. Namun dalam kondisi sebenarnya, rasa panik bisa membuat seseorang lupa melakukan hal-hal yang sudah pernah dipelajari.
Hal tersebut menjadi semakin penting jika melihat dampaknya terhadap sekolah. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat berkumpulnya banyak anak dan guru. Karena itu, kondisi bangunan sekolah seharusnya menjadi perhatian. Simulasi evakuasi juga tidak seharusnya dilakukan hanya ketika ada kegiatan tertentu, tetapi perlu menjadi pengetahuan yang benar-benar dipahami siswa dan guru.
Menurut saya, edukasi mengenai gempa sebaiknya dimulai sejak anak-anak. Mereka perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika meja berguncang, benda mulai berjatuhan, atau ketika harus keluar dari ruangan. Pengetahuan sederhana seperti ini bisa sangat berarti ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.
Masyarakat juga perlu lebih berhati-hati setelah gempa. Bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan sebaiknya tidak langsung digunakan sebelum dipastikan aman. Gempa susulan juga perlu diantisipasi karena kondisi bangunan yang sudah melemah dapat menjadi lebih berbahaya.
BMKG mencatat puluhan aktivitas gempa susulan setelah gempa utama Sumba Barat Daya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak cukup hanya mengetahui informasi ketika gempa terjadi. Mereka juga perlu mengetahui apa yang harus dilakukan setelahnya.
Pada akhirnya, kita memang tidak dapat menentukan kapan gempa akan datang. Namun, kita masih bisa mempersiapkan diri. Mengetahui jalur evakuasi, memahami tempat berlindung, mengikuti informasi resmi, dan memastikan bangunan dalam kondisi aman merupakan langkah sederhana yang bisa dilakukan sejak sekarang.
Gempa Sumba Barat Daya seharusnya tidak hanya menjadi berita yang dibaca hari ini lalu dilupakan. Kejadian tersebut bisa menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar teori, tetapi sesuatu yang perlu dipraktikkan sebelum bencana benar-benar terjadi.
