Konten dari Pengguna

Revenge Bedtime Procrastination: Ketika Otak, Emosi, dan Tubuh Melawan Jam Tidur

Efra Elya Mufida

Efra Elya Mufida

Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Efra Elya Mufida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Revenge Bedtime Procrastination dengan begadang bermain gawai
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Revenge Bedtime Procrastination dengan begadang bermain gawai

Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena Revenge Bedtime Procrastination (RBP) semakin sering dibicarakan. Revenge Bedtime Procrastination (RBP) adalah fenomena ketika seseorang sengaja menunda tidur demi menikmati waktu pribadi setelah seharian penuh merasa waktunya tersita untuk melakukan aktivitas melelahkan. Ini bukan sekadar begadang biasa, tetapi bentuk “balas dendam” halus terhadap tuntutan rutinitas yang membuat seseorang merasa tidak punya kendali atas waktunya sendiri. Banyak orang tahu bahwa tidur adalah kebutuhan utama tubuh, namun banyak yang tetap memilih mengabaikannya demi menebus waktu luang yang hilang. Dalam penelitian menunjukkan bahwa penundaan tidur bukan dipicu faktor eksternal, tetapi karena memang seseorang tidak mampu mematuhi waktu tidur yang sudah dia niatkan sendiri.

Pada kehidupan masyarakat yang serba cepat dan penuh tekanan, urgensi memahami RBP menjadi semakin besar. Kebiasaan kecil ini dapat mempengaruhi kognisi, kesehatan emosional, produktivitas hidup, hingga keseimbangan biologis tubuh. Untuk itulah, dengan memahami proses biologis dan psikologis yang terlibat, kita bisa melihat lebih jelas bagaimana RBP terbentuk dalam keseharian.

Otak yang Kelelahan dan Sistem Reward yang Mendominasi

RBP adalah hasil interaksi kompleks antara kelelahan otak dan pencarian rasa nyaman. Ketika malam hari, bagian otak yang bertanggung jawab atas kendali diri dan pengambilan keputusan, yaitu prefrontal cortex mengalami penurunan lebih cepat dibandingkan bagian yang merespons kesenangan. Sebaliknya, sistem reward yang memicu rasa senang masih aktif dan sangat responsif terhadap stimulus yang membuat bahagia, seperti percakapan ringan dan scroll media sosial.

Itu sebabnya, meski kita sudah tahu harus tidur lebih awal, sekali scroll melihat video pendek atau konten lucu saja bisa langsung memicu dorongan dopamin. Hal inilah yang membuat seseorang mudah tergoda untuk terus menunda tidur. Penelitian menemukan bahwa penundaan tidur lebih banyak dipengaruhi kegagalan self-regulation, terutama saat seseorang sudah berada di fase kelelahan mental.

Cahaya dari layar ponsel juga dapat menghambat produksi hormon melatonin yang menentukan kapan kita akan tidur. Paparan cahaya membuat otak membaca kondisi seolah masih siang, sehingga sinyal untuk mulai tidur dapat tertunda. Pada saat yang sama, tingkat lelah dan stres yang menumpuk dalam sehari dapat meningkatkan kortisol, sehingga tubuh mencari pengalihan aktivitas yang mampu memberikan rasa nyaman. Di sinilah RBP sering muncul sebagai “balas dendam” untuk waktu luang yang hilang.

Emosi yang Terabaikan dan Ilusi “Self-Love” yang Keliru

Walaupun terlihat seperti kebiasaan ringan dan hanya begadang, RBP sebenarnya sering berfungsi untuk mengalihkan beban pikiran setelah hari yang berat. Banyak orang menunda tidur untuk memulihkan perasaan, ingin bebas, ingin merasa berkuasa atas waktu sendiri, atau ingin menghibur diri setelah hari yang padat.

Dalam beberapa penelitian, RBP bahkan dijelaskan sebagai bentuk self-love yang salah arah, usaha memberi waktu untuk diri sendiri, tetapi dengan cara yang justru merusak kebutuhan biologis tubuh. Secara emosional, waktu pribadi yang diperoleh dengan mengorbankan tidur terasa sangat berharga, padahal dampak jangka panjangnya bisa merugikan kesehatan mental maupun fisik. Penelitian menunjukkan bahwa RBP berkontribusi terhadap kelelahan siang hari dan penurunan kualitas hidup.

Layar yang Tidak Tidur dan Otak yang Terus Terbangun

Jika dilihat dari sisi persepsi dan sensasi, perangkat digital menjadi pemicu kuat terjadinya RBP. Stimulus dari layar mulai dari cahaya, warna, hingga gerakan, menjaga otak dalam kondisi waspada.

Rangsangan visual semacam ini dapat menunda rasa kantuk, otak yang sudah lelah tidak mampu memilah stimulus mana yang seharusnya diabaikan, membuat seseorang mudah terjebak dalam aliran konten tidak berujung.

Ketika Siklus Kurang Tidur Menjadi Kebiasaan yang Sulit Diputus

RBP juga memiliki kaitan dengan proses kognitif seperti perhatian, memori, dan pengambilan keputusan. Kurang tidur berdampak langsung pada kemampuan ini, sehingga produktivitas dapat menurun keesokan harinya. Ironisnya, semakin lelah seseorang, semakin besar kemungkinan mereka kembali mengulang pola RBP karena kelemahan kontrol diri yang meningkat.

Penelitian menunjukkan bahwa RBP memiliki kemiripan dengan perilaku adiktif ringan. Aktivitas yang memberi kepuasan instan, seperti membuka media sosial atau menonton konten tertentu akan mengaktifkan sistem reward di otak yang sama dengan perilaku kebiasaan. Begitu rasa senang muncul, otak meminta pengulangan, meski tubuh sebenarnya membutuhkan istirahat.

Pada akhirnya, seseorang terjebak dalam rutinitas malam yang tidak sehat tanpa benar-benar merencanakannya. Namun, ketika seseorang mulai menerapkan bentuk self-love yang lebih sehat, kecenderungan RBP dapat berkurang karena tubuh dan pikiran mendapat ruang pemulihan yang lebih seimbang.

Revenge Bedtime Procrastination menunjukkan bahwa menunda tidur atau begadang bukanlah sekadar kebiasaan buruk, tetapi hasil pertemuan antara otak yang kelelahan, hormon yang terganggu, emosi yang menuntut perhatian, dan godaan digital yang sulit ditolak.

Memahami ini membantu kita menyadari bahwa waktu luang pribadi tidak harus dicari dengan mengorbankan kesehatan. Ketika kebutuhan biologis dan emosional dapat dipenuhi dengan cara yang lebih baik dan seimbang, dorongan untuk “balas dendam” di malam hari perlahan mereda dengan sendirinya.