Lapangan Kerja Bertambah, Mengapa Pengangguran Masih Menjadi Masalah?

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi di Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ega Mawarni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pertumbuhan lapangan kerja sering dianggap sebagai tanda bahwa kondisi ekonomi semakin membaik. Namun, bertambahnya jumlah orang yang bekerja ternyata tidak otomatis membuat masalah pengangguran hilang. Di Indonesia, jumlah penduduk yang bekerja memang terus meningkat, tetapi pada saat yang sama masih ada jutaan orang yang belum terserap pasar kerja.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2026 jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang, bertambah sekitar 1,86 juta orang dibandingkan Februari 2025. Jumlah penduduk yang bekerja juga meningkat menjadi 147,67 juta orang, atau bertambah sekitar 1,90 juta orang. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di angka 4,68 persen, turun 0,08 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa lapangan kerja memang bertambah dan tingkat pengangguran menurun. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: mengapa pengangguran masih menjadi persoalan ketika kesempatan kerja terus bertambah?
Jumlah Pencari Kerja Juga Terus Bertambah
Salah satu alasannya adalah jumlah angkatan kerja ikut meningkat. Setiap tahun, penduduk usia kerja baru masuk ke pasar tenaga kerja, baik lulusan sekolah maupun perguruan tinggi, maupun orang yang sebelumnya tidak aktif mencari pekerjaan.
Artinya, ketika perekonomian menciptakan lapangan kerja baru, pekerjaan tersebut tidak hanya diperebutkan oleh orang yang sudah menganggur. Ada pula jutaan penduduk baru yang masuk ke pasar kerja.
Karena itu, penambahan lapangan kerja perlu dilihat bersama dengan pertumbuhan jumlah angkatan kerja. Jika jumlah pencari kerja bertambah hampir bersamaan dengan jumlah kesempatan kerja, sebagian masyarakat tetap membutuhkan waktu untuk mendapatkan pekerjaan.
Masalahnya Bukan Hanya Jumlah, tetapi Juga Kesesuaian Pekerjaan
Pengangguran juga dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara keterampilan pencari kerja dan kebutuhan perusahaan.
Perusahaan mungkin membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan tertentu, sementara sebagian pencari kerja memiliki latar belakang pendidikan atau keterampilan yang berbeda. Kondisi ini membuat sebuah lowongan pekerjaan belum tentu langsung dapat diisi oleh orang yang sedang mencari pekerjaan.
BPS sendiri mencatat bahwa pada Februari 2026 sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbesar, yaitu sekitar 42,49 juta orang atau 28,78 persen dari penduduk bekerja.
Hal tersebut menunjukkan bahwa struktur ekonomi dan jenis pekerjaan yang tersedia turut menentukan bagaimana tenaga kerja dapat terserap.
Bekerja Belum Tentu Berarti Memiliki Pekerjaan yang Ideal
Persoalan ketenagakerjaan juga tidak berhenti pada status bekerja atau tidak bekerja. Ada masyarakat yang sudah bekerja tetapi memiliki jam kerja yang terbatas atau pekerjaan yang belum sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan ekonominya.
Karena itu, kondisi pasar kerja tidak cukup hanya dilihat dari angka pengangguran. Kualitas pekerjaan, tingkat pendapatan, jam kerja, serta status formal dan informal juga penting diperhatikan.
Dengan kata lain, menambah jumlah pekerjaan merupakan satu hal, sedangkan menciptakan pekerjaan yang produktif dan berkelanjutan merupakan tantangan lainnya.
Pendidikan dan Keterampilan Menjadi Faktor Penting
Perubahan dunia kerja juga membuat kebutuhan terhadap keterampilan ikut berubah. Perkembangan teknologi, digitalisasi, dan perubahan model bisnis membuat perusahaan membutuhkan kemampuan yang semakin beragam.
Karena itu, pendidikan dan pelatihan kerja memiliki peran penting dalam mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan kemampuan tenaga kerja. Pendidikan tidak hanya perlu memberikan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat digunakan di dunia kerja.
Hal ini menjadi penting terutama bagi generasi muda yang baru memasuki pasar tenaga kerja. Semakin sesuai keterampilan yang dimiliki dengan kebutuhan industri, semakin besar peluang mereka untuk masuk ke dunia kerja.
Pengangguran Menjadi Tantangan Ekonomi Makro
Dalam perspektif ekonomi makro, pengangguran bukan sekadar persoalan individu yang belum mendapatkan pekerjaan. Tingginya pengangguran menunjukkan bahwa sebagian sumber daya manusia belum dimanfaatkan secara optimal dalam kegiatan ekonomi.
Ketika lebih banyak masyarakat memperoleh pekerjaan dan pendapatan, kemampuan konsumsi rumah tangga dapat meningkat. Sebaliknya, ketika sebagian masyarakat belum bekerja, daya beli dan kontribusi mereka terhadap kegiatan ekonomi juga belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Oleh sebab itu, pemerintah dan dunia usaha perlu melihat penciptaan lapangan kerja secara lebih luas. Tidak hanya berapa banyak pekerjaan yang tersedia, tetapi juga di mana pekerjaan tersebut tersedia, keterampilan apa yang dibutuhkan, dan apakah pekerjaan tersebut mampu memberikan pendapatan yang layak.
Lapangan Kerja Bertambah, tetapi Tantangannya Belum Selesai
Data terbaru menunjukkan perkembangan yang cukup jelas: penduduk bekerja bertambah dan tingkat pengangguran terbuka menurun. Namun, masih adanya jutaan penganggur menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan belum sepenuhnya selesai.
Jadi, pertanyaan “mengapa pengangguran masih menjadi masalah?” tidak selalu berarti lapangan kerja tidak bertambah. Persoalannya lebih kompleks karena pasar tenaga kerja terus berubah, jumlah angkatan kerja bertambah, serta terdapat kebutuhan untuk mencocokkan keterampilan pekerja dengan kebutuhan dunia usaha.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya lapangan kerja yang tercipta, tetapi juga dari kemampuan ekonomi menyediakan pekerjaan yang produktif, sesuai keterampilan, tersebar secara lebih merata, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
