Konten dari Pengguna

Bisakah Ekonomi dan Alam Berdampingan di Raja Ampat?

Prawita Megatama

Prawita Megatama

Tulisan adalah jejak sunyi yang abadi, ia terus berbicara meski tangan yang menulisnya telah lama terhenti. Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prawita Megatama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Raja Ampat, yang dihuni oleh 75 % spesies karang dunia dan lebih dari 1.600 spesies ikan, adalah kawasan laut dengan biodiversitas luar biasa, juga UNESCO Global Geopark sejak 2023.

Dalam lima tahun terakhir, lahan tambang nikel di sana meningkat sekitar 494 hektar, lebih dari tiga kali lipat dibanding periode sebelumnya, dengan total izin melebihi 22.420 hektar

pixabay.com/id/photos/piaynemo-raja-ampat-indonesia-2614341/
zoom-in-whitePerbesar
pixabay.com/id/photos/piaynemo-raja-ampat-indonesia-2614341/

Adapun dampak lingkungan yang terjadi antara lain :

  • Penggundulan hutan dan pembukaan lahan menciptakan lubang-lubang besar dengan tanah jingga, menyebabkan sedimentasi yang mengalir ke laut.

  • Sedimentasi menutupi terumbu karang, mengurangi fotosintesis, dan merusak habitat laut—mengancam penyu sisik, pari manta, dan ekosistem laut dalam lainnya.

  • Pencemaran dari lumpur tambang serta kemungkinan kandungan logam berat dapat masuk ke rantai makanan manusia dan mempengaruhi padang lamun serta mangrove.

  • Masyarakat lokal melaporkan air laut menjadi semakin keruh, membuat hasil tangkapan ikan menurun.

PT Gag Nikel (anak usaha Antam/BUMN) mengklaim menerapkan pengelolaan limbah berstandar, filtrasi, pengawasan kualitas air rutin oleh pihak independen, serta program reklamasi dan reboisasi.

Namun, pemerintah pusat dan DPR mengajukan peninjauan semua izin tambang di Raja Ampat dan menangguhkan sementara operasi PT Gag Nikel, sambil mengevaluasi potensi pelanggaran lingkungan dan izin.

Masyarakat adat dan organisasi lingkungan seperti Greenpeace, menghadapi protes massal dengan seruan agar aktivitas tambang dihentikan total karena merusak “surga dunia”.

Industri pariwisata setempat juga memperingatkan bahwa tambang bisa menurunkan kepercayaan wisatawan dan perekonomian berbasis ekowisata.

Indonesia sedang mengejar dominasi global melalui cadangan nikel, penting untuk stainless steel dan baterai EV. Namun, ekspansi tambang nikel selama ini telah mendegradasi wilayah lain—seperti Morowali (Sulawesi) dan Weda Bay (Maluku). Banyak pihak melihat kontradiksi antara ambisi energi hijau global dengan degradasi ekosistem untuk perolehan mineral.

Beberapa langkah yang perlu segera diambil untuk melestarikan Raja Ampat dari degradasi permanen antara lain:

  • Penegakan aturan yang ketat: Evaluasi ulang semua izin tambang, terutama di pulau-pulau kecil dan zona konservasi laut.

  • Rehabilitasi ekosistem: Program reklamasi hutan dan restorasi terumbu karang secara berkelanjutan.

  • Pengawasan independen: Audit rutin terhadap pengelolaan limbah, sedimentasi, dan kualitas air laut.

  • Dialog inklusif: Menyatukan kepentingan pemerintah, perusahaan, masyarakat adat, dan pelaku pariwisata agar manfaat ekonomi tidak mengorbankan kelestarian alam.

Tambang nikel di Raja Ampat adalah ujian besar terhadap komitmen Indonesia untuk menyelaraskan kemajuan ekonomi dengan konservasi lingkungan. Kawasan ini adalah mahkota laut dunia dan pusat ekowisata. Jika tidak dikelola bijak, dampaknya bisa mendegradasi aset alam dan budaya yang tidak tergantikan. Pengawasan ketat dan pemulihan aktif harus jadi prioritas agar generasi mendatang masih bisa menikmati keindahan Raja Ampat.

Sumber:

papuabarat.antaranews.com

mcpr.komitmen.org

www.petromindo.com

indobisnis.co.id

satuharapan.com