Konten dari Pengguna

Workaholic : Semangat atau Tekanan?

Jonathan Eganiel Lase
Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas angkatan 2022 yang memiliki minat terhadap media televisi dan perfilman.
21 Oktober 2025 13:44 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Workaholic : Semangat atau Tekanan?
Hasrat meraih kemakmuran dapat memicu workaholisme: kerja kompulsif dipacu budaya kompetitif dan penghargaan. Kejar cita-cita namun kenali batas diri.
Jonathan Eganiel Lase
Tulisan dari Jonathan Eganiel Lase tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi - Seorang Karyawan yang Lembur (ChatGPT/Egan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi - Seorang Karyawan yang Lembur (ChatGPT/Egan)
ADVERTISEMENT
Manusia cenderung memiliki keinginan untuk menjadi kaya, sukses, banyak uang, dan bahagia. Namun hal tersebut tentu saja tidak gratis, ada hal yang harus dikorbankan demi mencapai cita-cita abadi insan manusia, salah satunya adalah menjadi seorang “Work-a-holic”.
ADVERTISEMENT
Apa itu Workaholic? Dikutip dari Jurnal Andreassen (2014), workaholic, atau workaholism didefinisikan sebagai kecenderungan untuk bekerja secara berlebihan dan terobsesi pada pekerjaan, yang termanifestasi melalui kebiasaan bekerja secara kompulsif, atau tidak terkendali.
Seorang workaholic bekerja melampaui batas yang secara wajar diharapkan dari mereka untuk memenuhi tuntutan organisasi atau kebutuhan ekonomi. bukan sekadar sering lembur, tetapi dorongan internal yang terus-menerus untuk bekerja melampaui tuntutan peran.
Mengapa seseorang bisa menjadi workaholic? Apakah karena mereka hanya terlalu rajin? Atau mereka ingin menjadi kaya secara materil? Atau hanya beban moral yang ditekan oleh perusahaan mereka?
Terdapat beberapa pengaruh yang membuat seseorang kecanduan untu bekerja, yaitu faktor pribadi, lingkungan, dan penguatan. Individu dengan harga diri yang bergantung pada kinerja, orientasi prestasi tinggi, serta self-efficacy kuat di ranah kerja cenderung fokus berlebihan pada pekerjaan.
ADVERTISEMENT
Pola ini dapat diperkuat oleh contoh dari keluarga atau atasan yang sering lembur, serta budaya kantor yang kompetitif. Ketika kerja berlebihan diberi imbalan seperti promosi atau status, perilaku tersebut semakin terbentuk, terutama jika individu merasa menikmati dan menganggapnya sebagai tanda kesuksesan (Gomes, 2023).
Seseorang yang menganut sistem ini, berkemungkinan untuk mendapatkan antara dua hal, yaitu kesuksesan, atau kesakitan, atau bahkan keduanya. Hal ini bergantung kepada lingkungan pekerjaan, dan seberapa cepat mereka menyadari batasnya.
Ingat, bahwa porsi kita masing-masing sudah ditentukan. Tetap usahakan, namun jangan sampai terlewat batas! (JEL)