Dari Tumbuhan Paku Air Jadi Pakan Ikan: Inovasi Mahasiswa UB

Mahasiswa Universitas Brawijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari EGIA ERGUNA GURUSINGA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabupaten Malang – Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya menghadirkan inovasi pemanfaatan tumbuhan air Azolla microphylla sebagai bahan pakan alternatif untuk ikan. Tanaman yang tumbuh mengapung di permukaan perairan tawar ini dikembangkan sebagai salah satu solusi untuk membantu menekan biaya pakan dalam kegiatan budidaya ikan, khususnya pada komoditas gurame, nila, dan lele.
Inovasi tersebut berangkat dari persoalan yang banyak dihadapi dalam kegiatan budidaya, yaitu meningkatnya harga pakan ikan. Ketergantungan terhadap pakan pabrikan dapat membuat biaya produksi semakin tinggi. Oleh karena itu, pemanfaatan bahan alternatif yang mudah dibudidayakan menjadi salah satu peluang untuk menciptakan pakan yang lebih ekonomis dan berkelanjutan.
Budidaya Azolla yang Mudah dan Cepat
Azolla microphylla merupakan tumbuhan paku air yang mengapung di permukaan perairan tawar, seperti kolam, sawah, dan rawa. Tanaman ini memiliki pertumbuhan yang cepat dan dapat dipanen secara berulang sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber bahan pakan alternatif.
Budidaya Azolla dapat dilakukan dengan menjaga ketinggian air sekitar 5–15 cm. Untuk mendukung pertumbuhannya, pembudidaya dapat memberikan pupuk kandang dan EM4 peternakan sesuai kebutuhan. Azolla juga membutuhkan paparan sinar matahari sekitar 50–70% serta pengawasan rutin untuk mengendalikan hama seperti keong dan serangga.
Panen pertama dapat dilakukan sekitar 10–15 hari setelah penebaran bibit. Agar dapat tumbuh kembali, sekitar 50–70 persen Azolla disisakan setelah pemanenan. Dengan cara tersebut, tanaman dapat terus diproduksi dan dipanen secara berkala. Azolla diketahui tumbuh optimal pada kondisi air yang tenang, kaya unsur hara, dan memperoleh cahaya matahari yang cukup.
Diolah Menjadi Pakan Alternatif Ikan
Setelah dipanen, Azolla microphylla difermentasi terlebih dahulu untuk membantu mengurangi kadar serat kasarnya. Azolla yang telah melalui proses fermentasi kemudian dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai pakan alternatif ikan, sehingga tanaman air tersebut tidak hanya mudah dibudidayakan, tetapi juga memiliki nilai guna dalam mendukung kebutuhan pakan ikan.
Selain diberikan secara langsung, Azolla fermentasi juga dapat diolah menjadi pelet. Azolla fermentasi diolah menjadi tepung, kemudian dicampurkan dengan 35% tepung ikan, 15% dedak halus, 12% tepung jagung, 5% tepung tapioka, dan 3% premix, dengan tepung Azolla fermentasi sebesar 30%. Seluruh bahan dicampur hingga merata, ditambahkan air secukupnya, kemudian dicetak menggunakan alat pencetak pelet dan dikeringkan hingga menghasilkan pakan yang siap digunakan untuk ikan gurame, nila, dan lele.
Sebagai inovasi di bidang akuakultur, pemanfaatan Azolla microphylla membuka peluang bagi pembudidaya untuk memanfaatkan sumber daya yang mudah dibudidayakan sebagai alternatif pakan ikan. Dengan proses fermentasi maupun pengolahan menjadi pelet, Azolla dapat dimanfaatkan untuk mendukung budidaya gurame, nila, dan lele sekaligus membantu mengurangi ketergantungan terhadap pakan komersial. Inovasi ini diharapkan dapat mendorong kegiatan budidaya yang lebih hemat, produktif, dan ramah lingkungan.
Penulis:
Mihrobi Khalwatu Rihmi, S.Pi., M.Si. sebagai Dosen Pembimbing Lapang.
Dimaz Restu Ramadhan, Dwi Virawati, Dewi Citra Nabila, Nabila Dwi Sahabiya, Lidiya Rifaun Nisah, Fulvian Rendra Oktarios, Egia Erguna Gurusinga, Ahmad Rabbani Firmansyah, Ramadani Akbar Putra Pangestu, Vania Zahirah Deniar, Raniya Ruzain Al Mutawalliy, Binal Tanjung Saraswati, Muhammad Nabil Ghaisan, Bintang Syafinul Munzi, M. Aufa Shoby, Michele Prudent Mustika Putri, Yesica Adi Pramitha, Nailah Safa Safirah, Muhammad Alfath Dafaluth Sebagai Mahasiswa KKN.
