Konten dari Pengguna

Narasi AS-Israel: Melegitimasi Serangan & Mendemoralisasi Iran

Egiel  Manuel Tangke

Egiel Manuel Tangke

Saya adalah mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Sriwijaya dengan minat yang kuat dalam bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, khususnya terkait isu-isu global kontemporer, diplomasi, serta dinamika hubungan antarnegara.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Egiel Manuel Tangke tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada 28 Februari 2026, serangan udara yang dilakukan secara bersamaan oleh Amerika Serikat dan Israel mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di kota Teheran. Kejadian ini tentunya memicu peningkatan ketegangan di kawasan Timur Tengah, di mana Iran memberikan respon dengan meluncurkan serangan misil ke pangkalan militer AS di wilayah tersebut. Di balik konflik militer, juga terjadi pertempuran narasi yang intens di mana Amerika Serikat dan Israel memanfaatkan propaganda untuk membenarkan tindakan mereka kepada Iran, sementara Iran berusaha menjaga dukungan dari warganya sendiri. Artikel ini akan mencoba untuk untuk mengupas tentang peran propaganda sebagai instrumen utama dalammemperoleh legitimasi dan mereduksi kekuatan lawan melalui pendekatan psikologis.

Pendahuluan

Sumber: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Shutterstock

Pertikaian atau konflik yang terjadi antara AS, Israel, dan Iran tidak hanya berkaitan dengan peralatan militer, tetapi juga melibatkan persaingan narasi yang berdampak pada pandangan masyarakat internasional. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa serangan tersebut merupakan "operasi militer utama" bertujuan untuk menghalangi Iran memperoleh senjata nuklir serta melindungi kepentingan Amerika. Sementara itu, Iran menyebut situasi tersebut sebagai"kebebasan" dan melancarkan serangan balasan terhadap 14 pangkalan milik AS. Konflik naratif ini sejalan dengan ide Harold Lasswell, di mana propaganda diarahkan untuk membangkitkan semangat domestik, melemahkan musuh, dan memperoleh legitimasi di tingkat internasional. Tulisan ini akan mencoba mengkaji taktik propaganda yang diterapkan oleh AS dan Israel setelah meninggalnya Khamenei, dengan penekanan pada legitimasi serangan serta usaha untuk melemahkan moral Iran.

Strategi Legitimasi Serangan AS-Israel

Sumber: Shutterstock

AS dan Israel menggambarkan serangan tersebut sebagai tindakan pertahanan yang diperlukan. Dalam pidatonya, Trump menyerukan kepada rakyat Iran untuk berdiri melawan pemerintah, dengan menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk "melindungi warga Iran". Ini menciptakan persepsi Amerika Serikat sebagai penjagal, alih-alih penyerang, mirip dengan kampanye propaganda pada Perang Dunia I di mana negara-negara Sekutu mendasari intervensi mereka dengan argumen moral. Israel mengklaim telah menemukan jenazah Khamenei setelah serangan bom yang akurat, di mana Perdana Menteri Netanyahu menegaskan pentingnya mencegah ancaman nuklir dari Iran. Narasi ini disebarluaskan melalui media Barat dan platform media sosial, dengan tujuan untuk meraih dukungan di dalam negeri AS (menghindari protes anti-perang) dan untuk menjaga posisi netral seperti yang dilakukan oleh negara-negara Eropa. Media Iran merespons dengan menyebut “pengorbanan” Khamenei dan menuduh Amerika Serikat dan Israel menggunakan “kebohongan besar seperti yang dilakukan Goebbels. ” Namun, pendekatan yang diambil oleh AS dan Israel berjalan dengan baik berkat adanya bukti dari citra satelit yang menunjukkan kerusakan pada fasilitas nuklir Iran. Sebagai hasilnya, pendapat masyarakat di Barat menunjukkan kecenderungan untuk mendukung, dengan survei awal menunjukkan bahwa 60% warga Amerika Serikat mendukung tindakan tersebut.

Demoralisasi Rakyat dan Pemerintah Iran

Sumber: Shutterstock

Propaganda yang dilakukan oleh AS dan Israel bertujuan untuk melemahkan moralitas dengan menyoroti praktik korupsi dalam pemerintahan Iran dan menawarkan janji akan kebebasan setelah jatuhnya rezim tersebut. Trump menyebut Iran sebagai "Poros Perlawanan" yang mengancam stabilitas, sambil mendukung gerakan pemberontakan rakyat. Ini mengikuti strategi peperangan psikologis: melemahkan semangat lawan, menggerakkan rasa kebencian di dalam negeri, dan memecah belah internal. Serangan terhadap rumah Khamenei dan lokasi militer IRGC menimbulkan rasa takut, dengan laporan dari Palang Merah yang menyebutkan 201 orang tewas. Iran memberikan tanggapan melalui propaganda balasan: Kementerian Luar Negeri menyebut serangan dari AS sebagai "pengkhianatan" dan membela tindakan balasan dengan rudal sebagai hak untuk mempertahankan diri sesuai dengan Piagam PBB. Media IRGC mengklaim telah menyerang 14 basis militer AS sebagai upaya untuk menunjukkan kekuatan, serta menargetkan audiens dalam negeri untuk menjaga solidaritas rakyat. Namun, narasi AS-Israel lebih dominan di platform globalseperti X, di mana hashtag #FreeIran sedang trending. Hal ini memicu unjuk rasa di dalam negeri Iran, meskipun pemerintah telah mengumumkan masa berkabung selama 40 hari untuk menormalkan keadaan. Dampak Jangka Panjang Perang narasi ini dapat memperpanjang konflik karena mengurangi ruang untuk mencapai kesepakatan, seperti ketika musuh dijadikan sasaran demonisasi yang menguatkan posisi mereka. Kritik yang disampaikan oleh Andreas Krieg menyatakan bahwa strategi militer yang diterapkan oleh AS-Israel tidak mengubah perilaku Iran, melainkan justru memicu eskalasi. Sebaliknya, propaganda setelah konflik memiliki dampak yang lebih bertahan lama, membentuk pandangan yang mirip dengan kisah-kisah Hollywood setelah Perang Dunia II. Untuk Indonesia, ini merupakan kesempatan untuk melakukan diplomasi netral, tidak memihak kepada negara manapun juga, seperti yang diusulkan oleh Presiden Prabowo sebagai mediator.