War of Narratives di Timur Tengah 2026: Framing "Genosida" vs "Pertahanan Diri"

Saya adalah mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Sriwijaya dengan minat yang kuat dalam bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, khususnya terkait isu-isu global kontemporer, diplomasi, serta dinamika hubungan antarnegara.
Ā·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Egiel Manuel Tangke tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Konflik yang terjadi dikawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Israel-Palestina, memasuki tahun 2026 dengan intensitas narasi yang belum pernah berkurang, di mana dua framing utama yaitu tuduhan "genosida" dari pihak Palestina dan "pertahanan diri" dari Israel yang terus bertabrakan secara sengit. Pertarungan ini bukan hanya soal senjata fisik, tapi juga perebutan persepsi global yang dipengaruhi kuat oleh peran Amerika Serikat sebagai aktor dominan. Pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah

Amerika Serikat telah menanamkan pengaruh mendalam di Timur Tengah sejak akhir Perang Dingin, terutama melalui Perang Teluk 1991 yang menjadikan AS sebagai penjamin keamanan kawasan. Saat ini, pada Maret 2026, AS masih mempertahankan puluhan pangkalan militer strategis seperti Al Udeid di Qatar (basis terbesar di luar negeri) dan Diego Garcia di Samudra Hindia, yang memantau lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz sebagai jalur krusial yang mengalirkan 20% pasokan minyak dunia. Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, UEA, dan Qatar bergantung pada sistem pertahanan canggih AS, termasuk rudal Patriot, jet F-35, dan drone Reaper, dengan nilai kontrak senilai miliaran dolar setiap tahun. Dukungan ini bukan hanya militer, tapi juga diplomatik: AS sering memveto resolusi PBB yang mengkritik Israel, seperti 45 kali sejak 1970-an. Ketergantungan ini sulit diputus karena ekonomi kawasan terikat pada petrodollar, ini adalah sistem di mana minyak dijual dalam dolar AS dan kebutuhan melawan pengaruh Iran serta kelompok seperti Houthi atau Hezbollah. Meski ada upaya diversifikasi melalui kemitraan dengan Rusia atau China via BRICS, pengaruh AS tetap dominan pada 2026. Kunjungan Presiden Trump pada awal 2025 memperkuat ikatan ini dengan kesepakatan investasi senilai $600 miliar, membuat kawasan ragu-ragu untuk "melepaskan diri" sepenuhnya.
Narasi "Genosida" dalam Konflik Gaza
Narasi "genosida" semakin kuat pada 2026, didorong oleh data korban sipil yang mencengangkan: lebih dari 67.000 warga Palestina tewas sejak Oktober 2023, dengan Gaza mengalami kehancuran infrastruktur hingga 70% rumah rusak atau hancur. Laporan PBB dan Amnesty International menyoroti pola seperti blokade makanan yang menyebabkan kelaparan massal (di mana 1 dari 5 anak Gaza mengalami malnutrisi akut), serangan pada rumah sakit, dan penggunaan senjata fosfor putih yang semua dikategorikan sebagai ciri genosida berdasarkan Konvensi Genosida 1948. Kasus Afrika Selatan di Mahkamah Internasional (ICJ) pada Desember 2023 menjadi tonggak, di mana hakim memerintahkan Israel untuk mencegah genosida pada Januari 2024, meski belum ada vonis akhir hingga 2026. Narasi ini diperkuat oleh saksi mata, video drone yang menunjukkan kehancuran lingkungan (ekosida), dan dukungan dari negara Global Selatan seperti Indonesia, Turki, dan Malaysia yang menggelar protes besar-besaran. Media sosial seperti TikTok dan X memainkan peran kunci, dengan hashtag #GazaGenocide mencapai miliaran tayangan, mengubah opini pemuda Barat yang semakin kritis terhadap Israel. Framing ini tidak hanya soal korban jiwa, tapi juga upaya sistematis untuk "menghapus identitas Palestina" melalui pemindahan paksa dan penghancuran situs budaya, yang membuat narasi ini resonan di forum seperti Gerakan Non-Blok. Narasi "Pertahanan Diri" dari Israel
Sebaliknya, Israel membingkai seluruh operasi militernya sebagai hak "pertahanan diri yang sah" di bawah Pasal 51 Piagam PBB, merespons serangan Hamas 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 warga Israel dan menyandera 250 orang. Pada 2026, narasi ini menekankan target militer spesifik seperti terowongan bawah tanah Gaza (panjangnya 500 km), markas Hamas, dan stok roket dengan klaim bahwa 40% korban adalah kombatan. Di forum internasional seperti ICJ dan Dewan Keamanan PBB, Israel menolak tuduhan genosida sebagai "pemalsuan fakta" oleh Hamas untuk menghindari pertanggungjawaban, didukung bukti intelijen tentang penggunaan perisai manusia oleh militan. Survei internal Israel menunjukkan 70% warga Yahudi mendukung pendekatan keras ini, melihatnya sebagai kelanjutan perang melawan eksistensi mereka pasca-Holokaus. Narasi ini juga menyoroti bantuan kemanusiaan Israel (meski dikritik terbatas) dan upaya evakuasi sipil sebelum serangan. Dukungan domestik dan diaspora Yahudi memperkuat framing ini melalui kampanye media seperti "Bring Them Home Now" untuk sandera, yang menggeser fokus dari Gaza ke ancaman eksistensial Israel. Peran Strategis AS dalam Perang Narasi AS bukan sekadar pendukung logistik, tapi arsitek utama narasi "pertahanan diri" melalui ideologi seperti Zionisme Kristen (didukung 40% pemilih Trump) dan lobbying kelompok seperti AIPAC. Media Barat seperti CNN dan Fox News sering mengulang istilah "self-defense" sambil meragukan "genosida", sementara AS memberikan $3,8 miliar bantuan militer tahunan ke Israel termasuk amunisi presisi pada 2026. Pengaruh ini membentuk opini global: veto AS di PBB memblokir gencatan senjata, dan platform seperti Meta menekan konten pro-Palestina atas tuduhan "hate speech". Namun, narasi AS mulai retak di kalangan generasi muda AS, dengan protes kampus seperti di Columbia University yang menuntut boikot. Ekonomi juga berperan: ketergantungan Teluk pada senjata AS membuat mereka enggan menentang narasi pro-Israel, meski secara diam-diam dorong normalisasi via Abraham Accords. Dampak Global dan Tantangan Mendatang Perang narasi ini memicu polarisasi ekstrem pada 2026: di Barat, dukungan Israel menurun menjadi 40% di bawah 30 tahun, sementara Global Selatan solid dengan Palestina via forum seperti D-8. Dampaknya termasuk boikot BDS yang melemahkan ekonomi Israel ($10 miliar kerugian tahunan) dan eskalasi di Lebanon serta Yaman.
Tantangan ke depan meliputi mediasi netral dari aktor seperti China atau UE untuk menyeimbangkan narasi, reformasi media sosial guna cegah disinformasi, dan dialog dua negara yang realistis. Tanpa ini, ketergantungan pada AS akan memperpanjang siklus konflik, menghambat stabilitas kawasan. Hanya dengan pengakuan narasi bersama bukan pemenang tunggal Timur Tengah bisa maju ke era baru.
