Konten dari Pengguna

Toponimi Kebonagung Jember, Nama Desa yang Berakar pada Sejarah

Egis Febrilian

Egis Febrilian

Mahasiswa Universitas Jember

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Egis Febrilian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kantor Lurah Kebonagung, Jember, Jawa Timur. Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Kantor Lurah Kebonagung, Jember, Jawa Timur. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Desa Kebonagung Secara Geografis

Desa Kebonagung yang kini bisa disebut kelurahan Kebonagung terletak di Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Nama Kebonagung berasal dari bahasa Jawa, “kebon” yang berarti kebun atau lahan pertanian, sedangkan “agung” yang memiliki arti besar, luas atau mulia. Nama tersebut muncul karena letak geografis desa yang berada di kawasan dataran rendah dengan ketinggian sekitar 80–90 meter di atas permukaan laut dan dialiri oleh Sungai Bedadung yang menjadi sumber air utama bagi sistem pertanian masyarakat Jember. Kondisi topografinya yang relatif datar dan subur menjadikan Kebonagung berkembang sebagai kawasan agraris. Kesuburan tanah di wilayah ini dipengaruhi oleh endapan vulkanik dari Pegunungan Argopuro dan Lamongan yang memperkaya unsur hara tanah pertanian setempat. Karenanya sejak masa kolonial, masyarakat Kebonagung dikenal dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian dan perkebunan, khususnya tembakau, padi, dan tanaman hortikultura. Selain dari letak geografisnya yang membuat daerah ini subur, lokasi Kebonagung juga strategis sebab berada di jalur penghubung antara pusat kota Jember dengan wilayah selatan seperti Mayang dan Wuluhan. Hal ini menjadikan Kebonagung tumbuh menjadi daerah peralihan antara kawasan pedesaan dan perkotaan, sehingga terjadi proses urbanisasi yang cukup cepat sejak pertengahan abad ke-20.

Keterikatan Masyarakat Kebonagung dengan Pertanian dan Perkebunan

Saat masa kolonial Hindia Belanda, wilayah Kebonagung ini masuk dalam pengaruh administratif Residentie Besoeki sehingga menjadi salah satu daerah penopang ekonomi perkebunan tembakau yang terkenal sampai ke Eropa melalui perusahaan-perusahaan seperti Landbouw Maatschappij Oud Djember. Terdapat pula catatan dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië menyebutkan bahwa sistem pengairan di sekitar Bedadung merupakan salah satu proyek irigasi penting yang menopang aktivitas pertanian dan perkebunan di Jember bagian tengah, termasuk Kebonagung. Keterikatan masyarakat terhadap lahan pertanian bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga kultural, karena menurut mereka tanah dianggap sebagai warisan leluhur yang harus dijaga. Menurut Kuntowijoyo, karakter masyarakat agraris di Jawa Timur menunjukkan corak “komunitas gotong royong” yang terbangun dari solidaritas kerja dalam sistem tepo seliro dan sambatan. Tepo seliro sendiri merupakan sikap tenggang rasa, sementara sambatan adalah buaya saling membantu. Maka kedua hal itu sesuai dengan karakter masyarakat agraris, termasuk di desa-desa pertanian yang hidupnya dekat dengan sawah, lubung, dan kerja kolektif, sehingga kebiasaan gotong royong menjadi bagian alami dari kehidupan mereka. Sebagai contoh misalnya ketika masyarakat menanam, memanen, bangun rumah, atau bersih-bersih desa. Tradisi seperti bersih desa dan sedekah bumi masih rutin dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan rasa syukur atas hasil panen. Menurut penelitian Koentjaraningrat, ritual semacam ini merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat agraris Jawa yang bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.

Bagian Sejarah Lisan Masyarakat

Sebelum berstatus sebagai sebuah kelurahan, Kebonagung memiliki kisah sejarah panjang yang berakar pada legenda lokal tentang kepemimpinan seorang tokoh perempuan bernama Ratu Roro Mangli. Dalam tradisi lisan masyarakat Jember, Ratu Roro Mangli digambarkan sebagai penguasa wanita yang bijaksana, berwibawa, dan disegani oleh rakyatnya. Ia memimpin wilayah yang kala itu masih berupa pedukuhan luas dengan kekuatan politik dan spiritual yang besar. Menurut catatan Rahardjo, masa kepemimpinan perempuan seperti Ratu Roro Mangli menunjukkan adanya kesinambungan sistem sosial dari era pra-Majapahit, di mana perempuan memiliki kedudukan penting dalam struktur kekuasaan lokal, sebagaimana terlihat pada figur Ken Dedes di Singasari atau Tribhuwana Tunggadewi di Majapahit.

Kisah Ratu Roro Mangli juga berkaitan erat dengan Patih Kebonagung, seorang tokoh laki-laki yang dikenal setia, sakti, dan memiliki pengaruh besar dalam mempertahankan kewibawaan kerajaan. Dalam sejumlah versi tutur, Patih Kebonagung disebut sebagai tokoh yang menjadi tangan kanan sang ratu dalam mengatur pemerintahan dan keamanan wilayahnya. Poerbatjaraka menyebutkan bahwa penggunaan gelar-gelar toponimi yang diambil dari nama pejabat atau tokoh lokal merupakan hal yang lazim dalam kebudayaan Jawa kuno, di mana suatu daerah sering dinamai untuk menghormati sosok yang berjasa besar dalam menjaga keutuhan wilayahnya. Dari sinilah, makna simbolis Kebonagung terbentuk sebagai perwujudan penghormatan terhadap kesetiaan dan keberanian seorang patih yang mengabdi kepada rajanya. Menurut tradisi lisan, sang ratu hidup pada masa ketika ajaran Islam mulai masuk dan menyebar di kawasan timur Jawa. Perubahan ini menimbulkan ketegangan antara pengikut kepercayaan lama (Hindu-Buddha) dan pemeluk agama baru (Islam), yang tercermin dalam kisah percintaan antara Ratu Roro Mangli dan Pangeran Arjasa.

Rahardjo menafsirkan kisah ini sebagai simbol benturan ideologi keagamaan yang terjadi di tingkat lokal, di mana transisi dari Hindu ke Islam tidak berlangsung secara tiba-tiba, tetapi melalui proses negosiasi sosial dan budaya yang kompleks. Perselisihan ini pun berakhir pada meletusnya peperangan antara dua kekuatan. Patih Kebonagung tampil sebagai tokoh sentral dalam peperangan itu. Ia dikenal memiliki kesaktian, keberanian, dan strategi perang yang mumpuni. Kesetiaannya kepada wilayah dan rakyat membuatnya pantang mundur dalam menghadapi lawan. Pertempuran yang terjadi bukan hanya perebutan kekuasaan, melainkan juga pertarungan ideologi antara keyakinan lama dan keyakinan baru yang tengah tumbuh. Dengan kegigihan dan kehebatannya, Patih Kebonagung berhasil memenangkan peperangan. Kemenangan tersebut membuat namanya semakin harum dan diabadikan dalam sejarah lisan masyarakat. Dari pengabdian dan kesaktiannya inilah nama “Kebonagung” muncul dan kemudian melekat sebagai identitas wilayah. Selain memiliki nilai historis yang berakar dari kisah Ratu Roro Mangli dan Patih Kebonagung, wilayah Kebonagung juga berkembang sebagai pusat kegiatan sosial dan budaya masyarakat sejak masa kolonial hingga sekarang. Dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië juga disebutkan bahwa Jember, penstribusi hasil bumi seperti kopi, tebu, dan tembakau, yang sebagian besar dikirim ke pelabuhan Panarukan untuk diekspor.

Kesimpulan

Kebonagung, Kecamatan Kaliwates, Jember, berkembang sebagai kawasan agraris subur di dataran rendah (±80–90 mdpl) yang dialiri Sungai Bedadung dengan tanah kaya endapan vulkanik dari pegunungan Argopuro dan Lamongan. Sejak era kolonial di bawah Residentie Besoeki, masyarakatnya bergantung pada pertanian dan perkebunan seperti tembakau, padi, hortikultura. Akan hal itu masyarakat terikat dengan budaya gotong royong yang kuat, serta tradisi syukur agraris yang masih lestari. Nama Kebonagung diabadikan dari sejarah lisan tentang Ratu Roro Mangli dan jasa Patih Kebonagung yang sakti dan setia, terutama setelah memenangkan perang ideologis antara kepercayaan lama dan kemudian saat itu juga Islam mulai berkembang di Jawa Timur.

Daftar Pustaka

Kuntowijoyo. (2003). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Stibbe, D. G. (1919). Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië, Deel II. ’s-Gravenhage: Martinus Nijhoff

Rahardjo, S. (1999). Kerajaan-Kerajaan di Jawa Timur: Dari Singasari hingga Majapahit. Jakarta: Balai Pustaka.

Koentjaraningrat. (1985). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

Poerbatjaraka, R. N. (1958). Tjeritera-tjeritera dari Jawa Tengah dan Timur. Jakarta: Balai Pustaka.