In This Economy: Memahami Kebutuhan, Keinginan, dan Gaya Hidup

Mahasiswi Manajemen Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Eka Aprillia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“In this economy” sering terdengar ketika kebutuhan dan keinginan harus berhadapan dengan gaya hidup. Seseorang mungkin melihat harga segelas kopi, tiket konser, atau sepasang sepatu yang sedang tren, lalu berpikir dua kali sebelum membeli. Kalimat itu sering muncul sebagai candaan di grup obrolan dan kolom komentar. Di balik candaan tersebut, ada persoalan yang lebih serius: bagaimana menentukan kebutuhan, membatasi keinginan, dan tetap menjalani gaya hidup ketika kondisi keuangan memiliki batas?
"In This Economy" dan Cara Baru Memandang Pengeluaran
Coba perhatikan percakapan di sekitar kita. Seorang mahasiswa menimbang apakah akan makan di luar atau membawa bekal dari kos. Pekerja muda berhenti sejenak di depan gerai kopi, lalu bertanya pada diri sendiri apakah minuman itu perlu dibeli hari ini. Ajakan nongkrong, pakaian baru yang sebenarnya bisa ditunda, atau liburan singkat ketika tagihan lain menunggu, kini lebih sering dipikirkan dua kali. Dalam situasi seperti itu, "in this economy" bukan sekadar tren bahasa. Ungkapan itu menggambarkan cara orang merespons pengeluaran ketika kondisi ekonomi terasa menekan.
Perlu dicatat bahwa berhemat tidak selalu berarti seseorang sedang kesulitan. Banyak orang mulai menimbang pengeluaran karena sudah memahami pentingnya prioritas, bukan karena terdesak.
Kapoor, Dlabay, dan Hughes (2020) memandang perencanaan keuangan pribadi sebagai proses mengelola uang untuk mencapai kepuasan ekonomi yang diinginkan seseorang. Definisi ini menarik karena tujuannya adalah kepuasan, bukan penderitaan. Sementara itu, Thaler (2016) melalui kajian ekonomi perilaku menunjukkan bahwa manusia tidak selalu mengambil keputusan seperti pelaku ekonomi yang sepenuhnya rasional. Kebiasaan, emosi, dan cara kita mengelompokkan uang di kepala ikut memengaruhi pilihan membeli. Artinya, keputusan membeli tidak selalu lahir dari hitungan yang dingin dan tertata. Kalimat "in this economy" berada di antara dua gagasan itu: ada upaya merencanakan, tetapi ada juga pengaruh perasaan dan pergaulan. Persoalannya, ketika uang terbatas, bagaimana kita menentukan mana yang kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan?
Kebutuhan, Keinginan, dan Gaya Hidup yang Semakin Sulit Dibedakan
Secara sederhana, kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan untuk menjalani kehidupan dan memenuhi kewajiban, seperti makan, tempat tinggal, transportasi ke kampus atau kantor, dan biaya kuliah. Keinginan adalah sesuatu yang ingin dimiliki atau dilakukan, tetapi masih bisa ditunda tanpa mengganggu kebutuhan utama.
Garis pembatasnya tidak sekaku itu. Laptop bagi mahasiswa desain adalah kebutuhan, sedangkan bagi orang lain mungkin hanya peningkatan yang belum mendesak. Kopi bagi pekerja yang butuh tempat tenang untuk menyelesaikan laporan bisa punya fungsi berbeda dari kopi yang dibeli untuk difoto. Pekerjaan, tanggung jawab, dan kemampuan keuangan membuat kebutuhan setiap orang tidak sama.
Di sinilah gaya hidup masuk. Media sosial, lingkaran pertemanan, promosi, dan budaya ikut-ikutan membuat keinginan terasa seperti kebutuhan. Seseorang sudah punya lemari penuh, tetapi tetap membeli pakaian baru karena melihat tren yang sama berulang kali. Ada pula yang sudah membawa bekal, lalu tergoda membeli makanan viral yang antreannya memenuhi beranda. Media sosial dan gaya hidup tidak sepenuhnya salah. Masalah muncul ketika keinginan didahulukan tanpa menimbang kemampuan keuangan.
Risikonya sering tidak terasa karena nominalnya kecil. Satu minuman, satu ongkos kirim, satu pembelian impulsif. Jika diulang setiap minggu dan tidak pernah dihitung, jumlahnya bisa menggerus uang yang seharusnya untuk kebutuhan utama. Dari situlah perilaku konsumtif biasanya bermula.
Maka muncul pertanyaan yang mengganjal. Jika seseorang berkata "in this economy" tetapi tetap membeli sesuatu hanya karena tren, apakah ungkapan itu benar-benar menunjukkan kesadaran finansial? Kalimat itu terdengar seperti pertimbangan, padahal bisa saja hanya pelumas untuk keputusan yang sudah diambil. Kesadaran yang sesungguhnya seharusnya hadir sebelum transaksi, bukan sesudahnya sebagai bahan lelucon.
"In This Economy" Bukan Berarti Berhenti Menikmati Hidup
Meski begitu, saya tidak ingin tulisan ini terdengar seperti ajakan untuk berhenti menikmati hidup. Hidup hemat bukan berarti tidak boleh membeli apa yang kita suka. Pengelolaan keuangan yang sehat berarti tahu kapan memenuhi kebutuhan, kapan menikmati keinginan, dan kapan menunda.
Bandingkan dua kalimat ini: "Saya tidak mampu membeli ini" dan "Saya memilih tidak membeli ini karena ada prioritas lain." Kalimat pertama menggambarkan keterbatasan yang dialami. Kalimat kedua menggambarkan keputusan yang diambil. Uang yang tersimpan mungkin sama banyaknya, tetapi posisi orangnya berbeda. Pada kalimat kedua, seseorang memegang kendali atas uangnya. Di situlah kesadaran finansial bekerja: bukan sekadar kemampuan menahan diri, melainkan kemampuan membuat keputusan sesuai kondisi keuangan.
Dengan cara pandang itu, gaya hidup masih bisa dinikmati. Seseorang tetap bisa nongkrong, asalkan memilih tempat yang sesuai anggaran. Kopi tetap bisa dinikmati tanpa harus dibeli setiap hari. Barang yang lama diinginkan boleh dibeli setelah kebutuhan utama terpenuhi, dan hiburan tetap bisa dijalani dengan batas pengeluaran yang jelas. Semua itu bukan resep, melainkan bukti bahwa menikmati hidup dan bertanggung jawab pada keuangan tidak perlu dipertentangkan.
Karena itu, "in this economy" seharusnya bukan sekadar kalimat untuk membenarkan keinginan menunda pembelian atau candaan di media sosial. Ungkapan tersebut dapat menjadi pengingat untuk berpikir sebelum mengeluarkan uang. Gaya hidup bukan sesuatu yang harus dihapus, tetapi perlu disesuaikan dengan kemampuan. Kesadaran finansial bukan tentang tidak membeli apa pun, melainkan mengetahui apa yang layak dibeli, kapan membelinya, dan apakah pengeluaran itu sesuai dengan prioritas. Pada akhirnya, kita tidak harus memilih antara hemat dan menikmati hidup. Yang lebih penting adalah mampu membedakan kebutuhan, keinginan, dan gaya hidup.
Lain kali kalimat "in this economy" terlintas saat kita menatap keranjang belanja, mungkin itu saatnya berhenti sejenak. Bukan untuk otomatis membatalkan, melainkan untuk bertanya: ini kebutuhan atau keinginan, dan apakah sesuai dengan kondisi keuangan saya sekarang? Jika ya, belilah tanpa rasa bersalah. Jika belum, tidak ada yang salah dengan menunda.
Di tengah banyaknya pilihan konsumsi yang menggoda setiap hari, kemampuan mengatakan "belum perlu" terkadang sama pentingnya dengan kemampuan untuk membeli. Mengelola keuangan bukan cara membuat hidup menjadi pelit, melainkan cara membuat pilihan yang lebih sadar.
Ditulis oleh Eka Aprillia Putri
