Konten dari Pengguna

Tiga Komitmen Unilever dalam Menangani Penggunaan Plastik

Eka Duwi Handayani

Eka Duwi Handayani

Konsultan Lingkungan PT Cipta Himayata, Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eka Duwi Handayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

#GenerasiPilahPlastik
zoom-in-whitePerbesar
#GenerasiPilahPlastik

Unilever Indonesia merupakan salah satu produsen yang banyak menggunakan kemasan plastik sehingga mempunyai peran yang sangat penting dalam menanganinya.

Pada kesempatan tersebut, Head of Division Environment & Sustainability Unilever Indonesia Foundation Maya Tamimi mengutarakan bahwa Unilever Indonesia berkomitmen sebelum tahun 2025 akan membuat inovasi dalam mengurangi setengah dari penggunaan plastik baru sebagai kemasan produk.

"Artinya, ini kita bicara inovasi bagaimana kalau kita menggunakan konten daur ulang, plastik daur ulang di dalam kemasan kami. Jadi itu salah satu yang kita tempuh," ujar Maya dalam virtual talk #GenerasiPilahPlastik, Selasa (16/11/2021).

Ada tiga komitmen Unilever dalam penanganan kemasan plastik yaitu:

  1. Melakukan pengurangan penggunaan plastik.

  2. Mendesain ulang (redesign) kemasan produk 100 persen agar bisa didaur ulang, digunakan kembali, dan dikomposkan.

  3. Membantu mengumpulkan dan memproses kemasan plastik lebih banyak daripada yang dijual.

Untuk menjalankan ini Unilever harus melakukan intervensi dari hulu ke hilir. Mulai design-nya kemudian bagaimana cara mengedukasi kepada konsumen dan cara menyiapkan titik-titik pengumpulannya. Unilever juga akan bekerja sama juga dengan pihak-pihak teknologi-teknologi yang ada di hilirnya yaitu teknologi daur ulang yang ada.

Perseroan juga berkomitmen untuk membantu mengumpulkan dan memproses kemasan plastik lebih banyak ketimbang yang dijual.

Pihak Pemerintah juga sudah menargetkan angka pengurangan sampah hingga 30% tahun 2025 yang diiringi dengan diterapkannya berbagai regulasi dan gerakan yang menegaskan pentingnya kolaborasi dari seluruh pihak untuk ikut andil mengurai permasalahan sampah.

Erik Armundito selaku Perencana Madya pada Direktorat Lingkungan Hidup Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan perlunya faktor peningkatan kesadaran dan kapasitas dari pemerintah, swasta, dan masyarakat terhadap lingkungan hidup dalam mewujudkan lingkungan hidup yang sehat.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) juga memiliki kebijakan dalam mengembangkan ekonomi sirkular dalam mengurangi penggunaan sampah plastik. Ekonomi sirkular ini mengadopsi pendekatan 5R yaitu reduce, reuse, recycle, refurbish, dan renew.

Terkait sumber pendanaan pemerintah juga sudah meningkatkan alokasi untuk penanganan sampah seperti pemilahan dan pengumpulan. Dana penanganan sampah plastik antara lain melalui dana alokasi khusus bidang lingkungan hidup yang diberikan kepada pemerintah daerah untuk mengelola sampahnya termasuk dalam pemilahan. Demikian juga adanya sumber pendanaan dari hibah atau bantuan dari negara lain untuk mengolah sampah yang diberikan kepada pemerintah daerah.

Oleh karena itu, demi mewujudkan Indonesia yang lebih hijau dan lebih lestari lagi Unilever Indonesia menggerakkan kampanye gerakan pilah plastik agar masyarakat diajak untuk bisa lebih aware lagi terhadap pentingnya pemilihan plastik bagi generasi yang akan datang.