Kumparan Logo

Anak Saling Bantu saat Teman Kesulitan, Psikolog Jelaskan Manfaatnya

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anak Saling Bantu saat Teman Kesulitan, Psikolog Jelaskan Manfaatnya. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Anak Saling Bantu saat Teman Kesulitan, Psikolog Jelaskan Manfaatnya. Foto: Shutterstock

Momen sekelompok anak laki-laki membantu seorang anak perempuan yang mengalami masalah dengan sepedanya saat pulang les mencuri perhatian di media sosial. Rekaman CCTV yang dibagikan sang ayah memperlihatkan anak-anak tersebut membantu hingga mengantar si anak perempuan sampai ke rumah.

Sang ayah mengapresiasi sikap mereka dan menyebut anak-anak itu kompak, sopan, dan baik. Perilaku sederhana ini bisa menjadi contoh bagaimana anak belajar peduli terhadap orang lain.

embed from external kumparan

Psikolog klinis anak, Fabiola Priscilla, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa membantu teman yang kesulitan dapat mengajarkan anak sejumlah keterampilan sosial yang penting.

Manfaat Anak Membantu Teman yang Kesulitan

Menurut Fabiola, ada beberapa hal yang dipelajari anak ketika membantu temannya, di antaranya:

-Belajar berempati

Anak belajar memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain. Kemampuan ini menjadi dasar untuk mengembangkan keterampilan bersosialisasi.

-Berinisiatif menolong

Anak belajar mengambil tindakan untuk membantu tanpa harus diminta terlebih dahulu.

-Memahami arti persahabatan

Ilustrasi Anak Main Bersama. Foto: Shutterstock

Anak menyadari bahwa teman yang baik tidak hanya hadir saat senang, tetapi juga ketika ada yang mengalami kesulitan.

-Berbuat baik tanpa pamrih

Anak memahami bahwa membantu terkadang membutuhkan waktu dan tenaga tanpa mengharapkan imbalan.

-Merasa dirinya berharga

Saat menyadari bahwa dirinya bermanfaat bagi orang lain, anak dapat mengembangkan perasaan positif terhadap dirinya sendiri.

Cara Orang Tua Mengajarkan Anak untuk Peduli

Fabiola Priscilla, M.Psi, Psikolog Anak dalam acara IKEA PLAY 2025: Eksplorasi, Imajinasi, Inspirasi di Jakarta Timur, Kamis (6/11/2025). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Fabiola menjelaskan, orang tua bisa mulai menanamkan kepedulian dengan menjadi contoh bagi anak. Sebab, anak cenderung meniru perilaku yang dilihatnya sehari-hari, termasuk ketika orang tua membantu tetangga atau menolong orang yang membutuhkan.

“Anak meniru apa yang ia lihat. Ketika anak menyaksikan orang tuanya membantu tetangga atau menolong orang di jalan, nilai kepedulian itu akan tertanam dengan sendirinya,” ucap Fabiola kepada kumparanMOM beberapa waktu lalu.

Selain memberikan teladan, orang tua juga bisa melakukan beberapa hal berikut:

1. Latih kepekaan anak

Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Shutterstock

Ajak anak membicarakan perasaan orang lain, misalnya dengan bertanya, “Menurut kamu, temanmu tadi merasa bagaimana?”

2. Berikan apresiasi yang spesifik

Saat anak berbuat baik, sampaikan perilaku yang dihargai, seperti, “Ayah senang kamu mau menemani temanmu tadi.”

3. Beri kesempatan untuk membantu

Libatkan anak dalam kegiatan sederhana, seperti berbagi dengan teman, kerja bakti, atau membantu adik di rumah.

4. Ajarkan batas keselamatan

Beri pemahaman kapan anak boleh membantu sendiri dan kapan harus meminta bantuan orang dewasa.

5. Hindari hadiah setiap kali anak berbuat baik

Kepedulian sebaiknya tumbuh dari kesadaran untuk membantu, bukan karena mengharapkan imbalan.

Ajarkan Anak Bersikap Sopan dan Menghormati Orang Lain

Ilustrasi keluarga bahagia. Foto: Tirachard Kumtanom/Shutterstock

Selain kepedulian, orang tua perlu membiasakan anak bersikap sopan dan menghormati sesama sejak dini. Hal ini bisa dimulai dari kebiasaan mengucapkan “tolong”, “terima kasih”, “maaf”, dan “permisi” dengan tulus.

“Hal-hal terpenting yang perlu ditanamkan oleh orang tua adalah rasa tanggung jawab dan kejujuran. Anak dapat dibiasakan untuk berani mengakui kesalahan dan menepati janji,” imbuh Fabiola.

Orang tua juga perlu membantu anak belajar mengelola emosi agar tetap santun saat marah atau kecewa, serta menghormati batasan orang lain, termasuk ketika seseorang mengatakan “tidak”.

“Semua ini terbentuk dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Teladan orang tua tetap menjadi pengaruh terbesar, terutama cara ayah memperlakukan ibu dan cara keduanya berbicara satu sama lain,” tutupnya.

kumparan post embed