Kumparan Logo

Anak Sering Gumoh atau Sembelit? Bisa Jadi Gejala Alergi Susu Sapi

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bayi gumoh. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi gumoh. Foto: Shutter Stock

Alergi susu sapi merupakan salah satu jenis alergi yang cukup sering ditemukan pada anak. Namun, tidak sedikit orang tua yang mengira gejalanya hanya berupa ruam pada kulit. Padahal, alergi susu sapi dapat memengaruhi berbagai sistem tubuh, mulai dari kulit, saluran pencernaan, hingga saluran pernapasan.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A(K), menjelaskan bahwa gejala alergi susu sapi sangat beragam dan dapat berbeda pada setiap anak.

Gejala Alergi Susu Sapi pada Kulit

Salah satu gejala yang paling mudah dikenali adalah gangguan pada kulit. Anak dapat mengalami ruam yang muncul berulang kali dan biasanya disertai rasa gatal.

Ilustrasi eksim atopik yang terjadi pada kulit anak. Foto: Shutterstock

"Gejala alergi susu api itu sangat beragam, mulai dari bisa kena ke kulit, yang awalnya bisa ruam-ruam. Biasanya ruam-ruamnya tidak hanya ruang merah, tapi biasanya disertai rasa gatal dan itu hilang timbul," tutur dr. Molly dalam acara Talkshow Jelang World Allergy Week 2026, bersama Sarihusada di Jakarta Selatan, Kamis (11/6).

Selain ruam, anak juga bisa mengalami biduran atau kaligata yang dalam istilah medis disebut urtikaria. Kondisi ini ditandai dengan bentol-bentol kemerahan yang terasa gatal dan dapat muncul di berbagai bagian tubuh.

Bisa Menyerang Pencernaan dan Saluran Pernapasan

Talkshow Jelang World Allergy Week 2026, bersama Sarihusada di Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2026). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Selain kulit, alergi susu sapi juga dapat memengaruhi sistem pencernaan. Salah satu gejala yang paling sering ditemukan adalah regurgitasi berulang atau yang lebih dikenal sebagai gumoh. Meski gumoh umum terjadi pada bayi, orang tua perlu waspada jika kondisi tersebut terjadi berulang dan disertai gejala lain.

“Yang paling sering adalah regurgitasi berulang atau yang kita kenal dengan istilah gumoh,” sambungnya.

Anak dengan alergi susu sapi juga dapat mengalami diare, konstipasi atau sembelit, hingga buang air besar yang disertai darah. Kondisi terakhir perlu mendapatkan perhatian medis karena dapat menandakan adanya peradangan pada saluran cerna.

Ilustrasi anak minum susu. Foto: Sorapop Udomsri/Shutterstock

Tak hanya itu, gejala alergi susu sapi juga bisa muncul pada saluran pernapasan. Anak dapat mengalami batuk, pilek tanpa demam, atau suara napas berbunyi "ngik" (mengi).

Menurut dr. Molly, gejala-gejala tersebut sering kali saling tumpang tindih. Artinya, satu anak bisa mengalami satu gejala saja, tetapi ada juga yang mengalami kombinasi gejala pada kulit, pencernaan, dan saluran pernapasan sekaligus.

Karena gejalanya beragam dan menyerupai kondisi kesehatan lain, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila menemukan keluhan yang berulang atau menetap pada anak. Dengan diagnosis yang tepat, penanganan alergi susu sapi dapat dilakukan lebih dini sehingga kesehatan dan tumbuh kembang anak tetap terjaga.

kumparan post embed