Kumparan Logo

Balita di Palembang Jadi Korban Kekerasan, Psikolog Ungkap Dampaknya

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Balita di Palembang Jadi Korban Kekerasan, Psikolog Ungkap Dampaknya. Foto: Prostock-studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Balita di Palembang Jadi Korban Kekerasan, Psikolog Ungkap Dampaknya. Foto: Prostock-studio/Shutterstock

Sebuah video yang memperlihatkan dugaan kekerasan terhadap seorang anak perempuan yang masih balita viral di media sosial. Video berdurasi sekitar 50 detik itu pertama kali diunggah di Instagram dan kemudian dimuat ulang sejumlah akun media sosial.

Dalam video di Talang Jambi, Palembang, seorang wanita terlihat menyuapi anak sambil bermain ponsel. Saat anak balita itu menangis, ia tampak marah dan diduga melakukan kekerasan seperti menampar, mendorong, mencekik, hingga menjambak rambut anak. Terdengar pula makian yang dilontarkan kepada anak.

Polisi Masih Selidiki Dugaan Kekerasan terhadap Balita

Ilustrasi kekerasan pada anak. Foto: Tinnakorn jorruang/Shutterstock

Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polda Sumatera Selatan (Sumsel), Kombes Pol Andes Purwanti mengatakan, kasus dugaan kekerasan terhadap anak tersebut masih dalam tahap penyelidikan. Polisi juga masih mendalami hubungan antara wanita dalam video dengan korban. Laporan terkait kasus tersebut dibuat oleh orang tua korban.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu'min Wijaya mengimbau masyarakat untuk tidak acuh terhadap dugaan kekerasan pada anak. Jika melihat, mendengar, atau mengetahui adanya kekerasan fisik, psikis, perundungan, maupun kekerasan seksual terhadap anak, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang.

Ilustrasi kekerasan pada anak. Foto: Shutterstock

“Kekerasan terhadap anak adalah tindak pidana. Pelaku kekerasan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun dan diancam sanksi pidana berat sesuai UU Nomor 23 Tahun 2023 tentang Perlindungan Anak,” ujar Kombes Pol Nandang Mu'min Wijaya.

Kekerasan Bisa Berdampak pada Psikologis Anak

Menanggapi kasus tersebut, Psikolog Anak, Fabiola Priscilla, M.Psi., Psikolog, mengatakan momen makan atau saat orang tua menyuapi seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi anak. Ketika momen tersebut justru disertai kekerasan, anak dapat mengalami dampak psikologis, termasuk gangguan emosi dan perilaku. Selain itu, anak juga mengalami:

1. Trauma

Anak bisa mengalami ketakutan saat melihat sesuatu yang mengingatkan pada kejadian tersebut.

2. Kecemasan

Ilustrasi anak cemas. Foto: MIA Studio/Shutterstock

Anak bisa merasa takut, sedih, murung, bahkan kehilangan minat pada aktivitas tertentu, seperti makan.

“Dan bahkan kehilangan minat untuk kegiatan makan, karena kegiatan makan itu mengingatkannya pada kekerasan yang diberikan dari ibunya tersebut,” ucap Fabiola kepada kumparanMOM, Jumat (18/9).

3. Kepercayaan diri rendah

Anak bisa merasa dirinya tidak berharga dan menyalahkan diri sendiri atas kekerasan yang dialaminya.

4. Sulit membangun relasi

Ketika sudah lebih besar, anak bisa sulit memercayai orang lain atau menjadi agresif sebagai bentuk pertahanan diri.

Bagaimana Membantu Anak Pulih?

Fabiola Priscilla, M.Psi, Psikolog Anak dalam acara IKEA PLAY 2025: Eksplorasi, Imajinasi, Inspirasi di Jakarta Timur, Kamis (6/11/2025). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Menurut Fabiola, proses pemulihan membutuhkan waktu, kesabaran, konsistensi, dan lingkungan yang penuh kasih sayang. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan anak berada di tempat yang aman dan jauh dari pelaku kekerasan.

Setelah itu, orang tua perlu melakukan:

1. Mengembalikan rutinitas anak, seperti jam makan dan tidur.

2. Validasi perasaan anak dan dengarkan tanpa menyela atau menyalahkan.

3. Jangan memaksa anak bercerita. Beri ruang untuk mengekspresikan perasaan lewat gambar, bermain, atau aktivitas lainnya.

Ilustrasi anak sedih, murung, trauma. Foto: myboys.me/Shutterstock

4. Berikan apresiasi dan kasih sayang untuk membangun kembali rasa percaya diri anak

“Kemudian, ketika anak juga tidak siap untuk bercerita, jangan dipaksa. Karena anak bisa mengekspresikan dengan cara yang sendiri. Misalnya, melalui gambar, menyanyi, dan lain sebagainya,” tegasnya.

Jika kondisi anak tidak menunjukkan perubahan atau justru semakin mengganggu kesehariannya, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Pendampingan dapat dilakukan melalui terapi yang sesuai dengan kebutuhan anak.

kumparan post embed