Kumparan Logo

Kenapa Balita Suka Disuruh-suruh? Ini Alasannya Menurut Psikolog

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kenapa Balita Suka Disuruh-suruh? Ini Alasannya Menurut Psikolog. Foto: TimeImage Production/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Kenapa Balita Suka Disuruh-suruh? Ini Alasannya Menurut Psikolog. Foto: TimeImage Production/Shutterstock

Pernah merasa anak balita justru antusias ketika diminta membantu pekerjaan rumah? Mulai dari membereskan mainan, membuang sampah, hingga mengambil barang.

Ternyata, kebiasaan tersebut berkaitan dengan tahap perkembangan anak. Di usia balita, kemandirian anak memang sedang berkembang. Mereka mulai senang memiliki pilihan dan merasa mampu melakukan sesuatu sendiri.

Psikolog Klinis Anak Rumah Dandelion, Faradila Azka, M.Psi., Psikolog, CMHA, mengatakan, anak balita juga senang ketika diberikan kesempatan untuk membantu orang tua.

Ilustrasi balita membantu orang tua. Foto: Rulan24/Shutterstock

"Anak usia balita itu memang kemandiriannya lagi berkembang. Mereka lagi senang banget punya pilihan, bisa mengambil tindakan, merasa bisa membantu," ujar Faradila kepada kumparanMOM, Rabu (23/9).

Menurutnya, ketika orang tua meminta anak membantu pekerjaan rumah, hal tersebut bukan sekadar untuk meringankan pekerjaan. Lebih dari itu, orang tua sedang memberikan kesempatan kepada anak untuk melatih kemandiriannya.

"Ketika kita minta mereka bantu itu, bukan sekadar soal meringankan beban rumah tangga, tapi mereka senang. Kita sedang mendukung kemandirian mereka," lanjutnya.

Beri Tugas Sederhana Sesuai Usia

Anak membantu mengepel lantai rumah. Foto: shutterstock

Faradila menyarankan orang tua mulai melibatkan anak dalam tugas-tugas sederhana di rumah. Misalnya, memasukkan mainan ke dalam kotak, mengambil dan menaruh barang, mengelap meja, hingga membuang sampah.

Namun, orang tua perlu menyesuaikan tugas dengan kemampuan anak. Jangan memberikan pekerjaan yang terlalu sulit karena justru bisa membuat anak merasa stres atau enggan melakukannya.

"Yang simpel-simpel saja, soalnya kalau terlalu susah, nanti takutnya keburu stres, keburu malas," tutur Faradila.

Selain itu, orang tua juga perlu mengatur ekspektasi ketika meminta bantuan anak. Sebab, pekerjaan yang biasanya bisa selesai dengan cepat mungkin membutuhkan waktu lebih lama ketika dilakukan bersama balita.

Anak laki-laki melakukan pekerjaan rumah tangga. Foto: Travelpixs/Shutterstock

Bahkan, tidak menutup kemungkinan orang tua harus mengerjakan ulang pekerjaan tersebut setelah anak selesai membantu.

"Ketika kita minta tolong anak untuk membantu tugas sehari-hari, mungkin bisa jadi lebih lama. Atau kita kayak kerja dua kali, dan itu enggak apa-apa banget," imbuhnya.

Jangan Lewatkan Kesempatan Melatih Kemandirian Anak

Rumah yang kembali berantakan atau pekerjaan yang menjadi sedikit lebih lama memang bisa dibereskan. Namun, kesempatan untuk melibatkan anak dalam proses belajar mandiri tidak selalu datang dua kali.

Ilustrasi keluarga bahagia Foto: Shutterstock

"Rumah berantakan bisa diberesin lagi. Tapi masa balita ini cuma sebentar banget," tutur Faradila.

Oleh karena itu, orang tua disarankan tidak terlalu fokus pada hasil akhir pekerjaan rumah. Yang tidak kalah penting adalah proses ketika anak belajar mengambil peran dan merasa dirinya mampu melakukan sesuatu.

"Jangan sampai kita yang keburu pengin rumah bersih dan rapi, malah melewatkan kesempatan penting buat mendukung perkembangan anak-anak kita," pungkasnya.

kumparan post embed