Kumparan Logo

Mata Anak Terpapar Abu Vulkanik dan Terasa Perih? Jangan Digosok, Lakukan Ini!

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi mata anak. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mata anak. Foto: Shutter Stock

Paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan. Abu vulkanik yang beterbangan juga bisa mengenai mata dan kulit, termasuk pada anak-anak.

Dokter Spesialis Anak, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, menjelaskan, abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dengan debu biasa di rumah.

“Abu vulkanik itu material batuan mineral yang terpecah sangat halus kalau terjadi erupsi,” ujar dr. Aisya kepada kumparanMOM, Minggu (6/9).

Kolom abu membubung saat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Minggu (16/8/2026). Foto: Anggi/kumparan

Meski terlihat seperti debu biasa, partikel abu vulkanik memiliki permukaan yang tajam dan abrasif. Ukurannya pun sangat kecil sehingga mudah terbawa angin dan masuk ke berbagai bagian tubuh.

“Kalau dilihat dengan mikroskop itu benar-benar tajam-tajam. Sebagian partikelnya juga bisa berukuran sangat kecil dan mudah terbawa angin,” imbuhnya.

Karakteristik tersebut membuat abu vulkanik berisiko menyebabkan iritasi, tidak hanya pada saluran pernapasan, tetapi juga mata dan kulit.

Mata Terasa Berpasir atau Perih, Jangan Dikucek!

Ilustrasi anak sakit iritasi. Foto: Thinkstock

Anak yang terpapar abu vulkanik mungkin mengeluhkan mata terasa perih, gatal, atau seperti ada pasir di dalam mata. Dalam kondisi ini, orang tua sebaiknya mengingatkan anak untuk tidak mengucek matanya.

“Kalau matanya terasa berpasir atau perih, jangan digosok. Bilas dengan air bersih,” saran dr. Aisya.

Mengucek mata justru dapat memperparah iritasi karena partikel abu vulkanik yang tajam bisa bergesekan dengan permukaan mata.

Bagi anak yang lebih besar dan menggunakan lensa kontak, sebaiknya segera melepaskannya jika mata terpapar abu vulkanik. Lensa kontak dapat membuat partikel terperangkap di area mata dan meningkatkan risiko iritasi.

Jangan Perlakukan Abu Vulkanik Seperti Debu Rumah

Warga menunjukkan abu vulkanik di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO

Selain melindungi tubuh dari paparan langsung, orang tua juga perlu berhati-hati saat membersihkan lingkungan yang tertutup abu vulkanik.

Menurut dr. Aisya, lapisan abu yang menempel di teras, kendaraan, maupun jalan tidak boleh diperlakukan seperti debu rumah biasa.

“Sebaiknya dihindari membuatnya berterbangan. Jadi dibasahi dulu, jangan disapu kering atau ditiup,” tegasnya.

Membasahi permukaan sebelum membersihkan dapat membantu mencegah partikel abu kembali beterbangan ke udara dan berisiko terhirup maupun mengenai mata dan kulit.

kumparan post embed