Kumparan Logo

Saat Anak Bilang ‘Aku Benci Mama/Papa', Apa yang Sebenarnya Ia Rasakan?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Saat Anak Bilang ‘Aku Benci Mama/Papa', Apa yang Sebenarnya Ia Rasakan? Foto: MIA Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Saat Anak Bilang ‘Aku Benci Mama/Papa', Apa yang Sebenarnya Ia Rasakan? Foto: MIA Studio/Shutterstock

Pernahkah si kecil tiba-tiba berkata, “Aku benci Mama” atau “Aku benci Papa”? Ucapan tersebut mungkin membuat orang tua kaget, sedih, bahkan ikut terpancing emosi.

Namun, menurut Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, kalimat tersebut biasanya tidak benar-benar berarti anak membenci orang tuanya.

“Ucapan tersebut biasanya bukan berarti anak benar-benar benci orang tuanya. Anak mungkin sedang sangat marah, kecewa, frustrasi, atau merasa tidak dipahami, tetapi belum mampu menemukan kata yang tepat,” ujar Vera kepada kumparanMOM beberapa hari lalu.

Ilustrasi anak menangis. Foto: sattahipbeach/Shutterstock

Oleh karena itu, orang tua perlu melihat emosi dan kebutuhan yang ada di balik ucapan anak, bukan hanya terpaku pada kata “benci”.

Jangan Langsung Membalas dengan Kemarahan

Ketika anak mengucapkan kalimat yang menyakitkan, orang tua sebaiknya berusaha tetap tenang dan tidak membalas dengan kata-kata yang juga dapat melukai perasaan anak.

Vera menyarankan orang tua untuk tetap menerima emosi anak, tetapi memberikan batasan mengenai cara menyampaikannya. Misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Mama tahu kamu sedang sangat marah, tapi kita tidak menggunakan kata-kata yang menyakiti.”

Ilustrasi anak sedih, murung, trauma. Foto: FAMILY STOCK/Shutterstock

Dengan begitu, anak belajar bahwa perasaan marah atau kecewa boleh dirasakan, tetapi tetap ada batasan dalam mengungkapkannya.

“Setelah anak lebih tenang, barulah ajak bicara mengenai penyebab kemarahannya,” imbuhnya.

Bantu Anak Mengenali Emosinya

Orang tua juga dapat membantu anak memberi nama pada emosi yang sedang dirasakan. Misalnya, ketika anak marah karena tidak diizinkan bermain, orang tua bisa mengatakan, “Kamu kecewa karena tidak diizinkan bermain, ya?”

Menurut Vera, anak juga perlu diajarkan kalimat alternatif untuk menyampaikan perasaannya, seperti “Aku marah”, “Aku kecewa”, atau “Aku tidak suka keputusan Mama.”

Ilustrasi ibu dan anak bersedih. Foto: 9nong/Shutterstock

Kemampuan anak dalam mengelola emosi tidak muncul begitu saja. Anak perlu berlatih berulang kali untuk mengenali dan menyampaikan perasaannya dengan cara yang lebih sehat.

“Orang tua juga perlu memberi contoh dengan mengungkapkan emosinya secara sehat,” tutur Vera.

Proses tersebut sebaiknya dilakukan dalam suasana yang aman, santai, dan tanpa menghakimi. Dengan begitu, ketika emosi besar datang, anak perlahan belajar bahwa ia boleh marah, kecewa, atau tidak setuju, tanpa harus menyakiti orang lain lewat ucapannya.

kumparan post embed