Viral Anak 4 Tahun Fasih Baca Al-Quran, Perlukah Anak Belajar Baca Sejak Dini?

Balita 4 tahun, Syakir Al Fatih Kurniawan, ramai diperbincangkan karena mampu membaca Al-Quran dengan fasih. Bukan hanya menghafal, Syakir juga diketahui mampu membaca sejumlah surah panjang, salah satunya Surah Maryam.
Kemampuan tersebut ternyata tidak muncul begitu saja. Sang ibu, Rahma, telah mengenalkan Al-Quran sejak Syakir masih dalam kandungan dengan rutin memperdengarkan murottal Surah Maryam dan Yusuf sambil mengelus perut.
Setelah Syakir mulai belajar berbicara di usia sekitar 1,5 tahun, Rahma mulai mengajaknya menirukan potongan ayat sederhana. Huruf hijaiyah juga dikenalkan melalui lagu dan poster tanpa screen time. Sementara belajar Iqra baru dimulai sekitar usia 3 tahun, ketika Syakir mulai menunjukkan ketertarikan untuk membaca.
Lantas, apakah kemampuan Syakir berarti anak perlu mulai belajar membaca sejak usia 4 tahun atau bahkan lebih dini?
Tidak Ada Usia Ideal yang Mutlak
Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Ayoe Sutomo, M.Psi., Psikolog, tidak ada satu usia ideal yang berlaku untuk semua anak ketika mulai belajar membaca.
Sebagian besar anak mulai belajar membaca sekitar usia 6–7 tahun. Namun, belajar lebih awal pada usia 4–5 tahun juga bukan sesuatu yang salah selama anak memang sudah menunjukkan kesiapan.
“Atau meskipun ada yang udah mulai tuh di start earlier. Kayak 4 atau 5 tahun dan sebenarnya itu nggak apa-apa banget gitu. Wajar-wajar saja karena sebetulnya yang lebih menentukan itu tuh bukan usia dia secara kronologis berapa tahun,” ucap Ayoe saat dihubungi kumparanMOM, Jumat (15/8)..
Menurut Ayoe, yang lebih penting bukan hanya usia kronologis anak, tetapi kesiapannya untuk belajar membaca, seperti:
-Mengenal huruf, sebelum mulai menghubungkan huruf menjadi bacaan.
-Kesadaran fonem, yaitu kemampuan mengenali dan menghasilkan bunyi.
-Minat anak terhadap aktivitas membaca.
-Stimulasi yang diberikan secara konsisten dari lingkungan terdekat.
Haruskah Belajar Alfabet Dulu sebelum Huruf Hijaiyah?
Tidak ada aturan baku bahwa anak harus mengenal alfabet terlebih dahulu sebelum belajar huruf hijaiyah. Menurut Ayoe, huruf mana yang dikenalkan lebih dulu dapat mengikuti minat anak dan stimulasi yang diberikan orang tua.
Anak usia 3–6 tahun bahkan dapat mempelajari dua sistem huruf sekaligus, selama prosesnya dikemas dengan cara yang menyenangkan dan tidak memberikan beban.
“Sepanjang ini kemudian dikemasnya atau diajarkan dengan cara yang menyenangkan dan tidak jadi sesuatu beban buat anak. Memang sebetulnya waktunya idealnya itu dipisah supaya anak itu tidak bingung untuk membedakan dua sistem dari urutan huruf,” ujarnya.
Jangan Sampai Belajar Membaca Jadi Tekanan
Mengajarkan membaca terlalu dini bukan masalah selama anak siap. Yang perlu diperhatikan adalah ketika proses belajar dilakukan dengan paksaan dan tekanan.
Jika anak belum siap secara psikologis maupun kemampuan, tetapi terus didorong untuk membaca, aktivitas tersebut bisa membuat anak mengasosiasikan membaca dengan tekanan dan pengalaman yang tidak menyenangkan. Dalam jangka panjang, hal ini justru berisiko membuat minat baca anak menurun.
Ayoe juga mengingatkan bahwa tekanan berlebihan dapat membuat anak rentan mengalami stres, terutama jika waktu bermain aktif berkurang atau kegiatan belajar dilakukan dalam suasana yang terlalu kaku.
Jadi, Apa yang Perlu Dilakukan Orang Tua?
Orang tua tidak perlu menjadikan kemampuan anak lain sebagai patokan. Yang lebih penting adalah melihat kesiapan dan ketertarikan Si Kecil. Beberapa hal yang bisa dilakukan:
-Kenalkan huruf melalui aktivitas yang menyenangkan.
-Ikuti minat anak, termasuk jika ia tertarik pada alfabet maupun huruf hijaiyah.
-Berikan stimulasi secara konsisten tanpa memaksa.
-Jangan mengurangi porsi bermain demi mengejar kemampuan akademik.
-Beri kesempatan anak mengeksplorasi buku dan aktivitas membaca dengan caranya sendiri.
“Ini tuh semuanya harus distimulasi secara merata dan aspek-aspek yang tadi saya sebutkan itu. Juga perkembangannya sama crucialnya dengan perkembangan akademik anak termasuk kemampuan membaca tadi gitu,” tuturnya.
Jadi, kemampuan Syakir membaca Al-Qur'an di usia 4 tahun merupakan salah satu contoh bahwa setiap anak memiliki perjalanan perkembangan yang berbeda. Bukan berarti semua anak harus mencapai kemampuan yang sama di usia yang sama ya, Moms.
