Wacana Siswa Tak Otomatis Naik Kelas Mulai 2027, Apa Dampaknya bagi Mental Anak?

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah mengkaji wacana pemberlakuan kembali kebijakan siswa tidak otomatis naik kelas. Jika disetujui, kebijakan ini berpeluang diterapkan mulai 2027.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, usulan tersebut berasal dari Dewan Pendidikan sebagai salah satu upaya meningkatkan mutu pendidikan. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong siswa lebih rajin belajar, memiliki semangat berkompetisi, dan tangguh.
Mu'ti juga menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai rumus RMS, yakni rajin-malas sama saja. Meski begitu, wacana tersebut masih membutuhkan kajian akademik sebelum diputuskan untuk diterapkan.
Lantas, jika siswa tidak lagi otomatis naik kelas, bagaimana dampaknya terhadap motivasi belajar dan kondisi psikologis anak?
Dampak Kebijakan Tidak Naik Kelas terhadap Psikologis Anak
Psikolog Klinis, Gita Aulia Nurani, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa dampak kebijakan tersebut bisa berbeda pada setiap anak. Sebagian siswa mungkin menjadi lebih termotivasi untuk belajar, tetapi sebagian lainnya justru berpotensi merasa cemas atau tertekan karena takut tidak naik kelas.
Menurut Gita, motivasi belajar yang sehat seharusnya tumbuh dari keinginan anak untuk berkembang, bukan semata-mata karena takut gagal.
"Motivasi belajar yang sehat seharusnya muncul dari keinginan untuk berkembang, bukan hanya karena takut tidak naik kelas," ucap Gita kepada kumparanMOM, Kamis (8/10).
Oleh karena itu, kebijakan ini perlu disertai pendampingan yang tepat agar anak tetap memiliki motivasi belajar positif.
Anak Berisiko Kehilangan Kepercayaan Diri jika Mengulang Kelas
Mengulang kelas juga berpotensi berdampak pada rasa percaya diri anak, terutama ketika ia mulai membandingkan dirinya dengan teman-teman sebaya yang naik kelas.
Gita menjelaskan, anak bisa merasa malu atau menganggap dirinya kurang mampu ketika harus tetap berada di kelas yang sama. Dalam psikologi, kondisi ini dapat memengaruhi academic self-efficacy, yaitu keyakinan anak terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas dan menghadapi tantangan akademik.
Meski demikian, dampaknya tidak selalu negatif apabila anak mendapatkan dukungan emosional dan berada di lingkungan yang tidak memberikan stigma.
"Anak bisa merasa malu atau menganggap dirinya kurang mampu," ujar Gita.
Anak yang mengulang kelas sebaiknya tidak langsung dicap malas atau tidak pintar. Orang tua dan guru perlu membantu anak memahami bahwa kesulitan belajar bukan berarti dirinya tidak mampu berkembang.
Peran Orang Tua dan Sekolah agar Anak Tetap Semangat Belajar
Jika kebijakan tidak otomatis naik kelas nantinya diterapkan, Gita menekankan pentingnya peran sekolah dan orang tua dalam mendampingi anak yang mengalami kesulitan belajar.
Sekolah perlu mengevaluasi penyebab anak belum mencapai target pembelajaran dan memberikan pendampingan sesuai kebutuhannya. Sementara itu, orang tua perlu menghindari sikap menyalahkan atau membandingkan anak dengan orang lain.
Gita juga menyarankan orang tua menanamkan growth mindset, yaitu pemahaman bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan strategi belajar yang tepat.
Dengan begitu, anak diharapkan tidak memandang kesulitan akademik sebagai tanda kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses belajar. Anak juga perlu merasa didukung agar tetap percaya diri dan termotivasi untuk berkembang.
