Mengapa Peran Ayah Penting untuk Cegah Stunting?

Penulis adalah ASN Penyuluh KB di unit kerja Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah dengan lokasi binaan Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Penulis yang juga seorang konselor menyusui dan ibu satu anak ini juga peduli terhadap kesehatan mental.
Konten dari Pengguna
17 Februari 2022 10:48
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Eka Puspita Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Tidak bisa kita pungkiri bahwasanya ibu merupakan sosok pertama dalam mengasuh dan merawat anak sehingga seorang anak tetap sehat dan tumbuh serta berkembang secara optimal. Salah satu yang menjadi isu terkini adalah stunting (pendek) akibat kekurangan gizi kronis pada anak usia balita. Efek stunting dalam jangka panjang salah satunya adalah penurunan kualitas sumber daya manusia yang juga akan berpengaruh terhadap siklus stunting itu sendiri. Mengingat mengasuh dan merawat anak sangatlah kompleks, terlebih jika terdapat lebih dari 1 anak balita dalam satu keluarga. Maka sosok ayah memiliki peran penting yang amat sangat berpengaruh terhadap pencegahan stunting. Mengapa peran ayah penting untuk cegah stunting?
ADVERTISEMENT
Peran Ayah Dalam Pemenuhan Gizi dan Kenyamanan Lingkungan
Peran ayah sangat penting dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Sayangnya, tidak semua ayah memahami hal ini terlebih jika memiliki gaya hidup negatif seperti merokok. Berdasarkan hasil penelitian Semba et al, seorang ayah perokok akan menghabiskan 22% anggaran rumah tangga per minggu hanya untuk membeli rokok. Sehingga porsi pembelian bahan makanan bergizi lainnya tergeser dengan alokasi untuk memenuhi gaya hidup merokok sang ayah. Tidak hanya kebiasaan merokok, sanitasi yang buruk berupa minimnya akses air dan udara bersih dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Dartanto et al, menyimpulkan bahwa rumah yang memiliki akses air, udara, dan sanitasi yang bersih akan meningkatkan berat badan anak 1,5 kg lebih berat daripada anak yang tinggal di wilayah kumuh dan minim sanitasi layak.
Mengapa Peran Ayah Penting untuk Cegah Stunting? (123640)
zoom-in-whitePerbesar
Source : Semba, et al. 2006.
Sosok Ayah Sebagai Pendukung Utama Bagi Ibu Selama Hamil dan Menyusui
ADVERTISEMENT
Hamil, melahirkan, kemudian menyusui merupakan fase reproduksi seorang wanita. Namun, fase tersebut akan sangat berkesan jika dibersamai oleh sosok ayah. Misalnya saja, seorang pejuang ASI akan sangat mengerti dan memahami bagaimana beratnya berjuang untuk menyusui bayi terutama di awal-awal masa pasca kelahiran. Drama puting lecet, bayi menangis, bahkan baby blues menjadi tantangan tersendiri terutama bagi ibu yang memiliki bayi baru lahir. Belum lagi rasa lelah fisik dan mental karena menyusui yang seperti tidak berujung. Maka, di posisi inilah peran ayah dalam mendukung ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif dan berkelanjutan.
Seperti apa dukungan ayah bagi ibu menyusui? Ada beberapa yang bisa dilakukan, antara lain memberikan pemahaman kepada pihak luar (seperti tetangga, ibu mertua, dan lainnya) untuk berhenti mendorong ibu memberikan susu formula bagi bayi nya yang masih belajar menyusu, memberikan makanan-makanan lezat penuh gizi bagi ibu menyusui, dan bentuk perhatian lain seperti memijat punggung ibu ketika menyusui dan sebagainya. Ayah yang sukses berperan dalam mendukung pemberian ASI kepada bayi telah membantu bayi untuk terhindar dari stunting akibat kekurangan gizi pada 6 bulan pertama kehidupan anaknya.
ADVERTISEMENT
The Best Partner” Ibu Dalam Mengawasi Tumbuh Kembang Anak
Ibu memang menjadi orang pertama yang akan mengawasi tumbuh kembang anak. Namun, tidak menutup kemungkinan seorang ibu akan terlupa terhadap beberapa detail kecil selama merawat dan mengasuh anak. Sehingga, ayah diharapkan dapat memperkuat peran ibu dalam mengawasi tumbuh kembang. Salah satu peran ayah adalah menumbuhkan kesadaran sebuah keluarga dalam mengenali gejala stunting. Misalnya, ayah memiliki ketersediaan akses informasi mengenai stunting yang di dapat dari informasi digital maupun langsung dari tenaga kesehatan. Sehingga, jika suatu waktu si ibu tidak menyadari gejala tersebut, seorang ayah dapat memberi tahu gejala stunting lebih dini. Kerja sama antara ibu dan ayah membuat penurunan stunting berjalan lebih mudah.
Mengapa Peran Ayah Penting untuk Cegah Stunting? (123641)
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pribadi
Ayah Siaga Saja Tidak Cukup
ADVERTISEMENT
Sosok seorang ayah diharapkan dapat menjadi pelindung bagi keluarganya, dalam lingkup kesehatan dan keluarga berencana ayah diharapkan "tidak alergi" terhadap fasilitas dan pelayanan kesehatan. Tidak hanya untuk dirinya, ayah juga bertanggung jawab terhadap akses pelayanan kesehatan yang diterima oleh setiap anggota keluarganya. Misalnya saja, jika ada ibu hamil di dalam rumah tangganya maka ia dapat memastikan bahwa ibu hamil tersebut mendapatkan minimal 4-6 kali akses pemeriksaan kehamilan, atau jika ia memiliki anak baik balita atau remaja, maka salah satu peran ayah adalah harus dapat memastikan mereka mendapat pemantauan kesehatan berkala seperti keikutsertaan dalam pos pelayanan terpadu (posyandu) bagi bayi dan balita atau posyandu remaja.
Secara tidak langsung, bentuk-bentuk peran ayah di atas amat sangat membantu dalam menurunkan prevalensi angka stunting pada anak balita. Meskipun tentunya peran-peran tersebut haruslah mendapat dukungan dari ibu. Oleh karena itu, baik ayah maupun ibu wajib bekerja sama dalam merawat, mengasuh, dan mengawasi tumbuh kembang sang buah hati. Sehingga, ayah dapat menjadi sosok yang percaya diri dalam menjalankan perannya untuk mencegah stunting bagi anak di bawah usia 5 tahun.
ADVERTISEMENT
Referensi:
Dartanto, et al. 2018. Parent smoking behavior and children’s future development: evidence from Indonesia Family Life Survey (IFLS). Diakses melalui http://www.tobaccoinduceddiseases.org/Parent-smoking-behavior-and-children-s-future-development-evidence-from-Indonesia,94561,0,2.html
Semba, et al. 2006. Paternal smoking is associated with an increased risk of child malnutrition among poor urban families in Indonesia. Diakses melalui https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17212837/
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020