Konten dari Pengguna

Pemimpin Bisnis Itu Harus Kreatif dan Kolaboratif

Eka Sari Lorena

Eka Sari Lorenaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eka Sari Lorena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Eka Sari Lorena. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Eka Sari Lorena. Foto: kumparan

The Economist, Februari 2020, menyampaikan informasi yang menarik. Kata the Economist, 500 orang yang menjalankan perusahaan-perusahaan terbesar di Amerika mengendalikan 26 juta staf. Banyak banget ya. Populasi berapa kota tuh.

Itu baru banyaknya staf, belum lagi bicara soal aset. Tapi, aset di masa kini tidak harus berarti fisik. Sekitar 60 persen dari market value 500 perusahan itu katanya justru ada di riset dan rencana pengembangan. Nah, ini yang menarik. Berapa banyak perusahaan Indonesia yang kuat di riset?

Lalu, ada pula banyak perusahaan yang tidak punya “karyawan”. Ini fakta baru di masa sekarang ini. Apa contohnya? Uber misalnya, 4 juta pengemudinya bukanlah karyawan. Di Indonesia, GoJek kalau gak salah memanggil pengemudinya sebagai: mitra.

Artinya, ada hal-hal baru dalam bisnis di masa kini. Komponen iPhone juga dipasok dari ribuan pemasok yang jutaan karyawannya bukanlah bagian dari Apple. Ini butuh keahlian sendiri untuk memastikan pasokan komponen tetap dibuat sehingga iPhone bisa dijual.

Jadi apa yang dibutuhkan untuk jadi pemimpin bisnis di tahun 2020? Kata the Economist, harus yang tricky, kreatif, dan bisa kolaboratif. Kolaboratif ini penting karena tidak semua hal harus kita lakukan sendiri di masa sekarang ini.

Kita boleh berperan lebih tapi ya hanya di bidang-bidang yang kita ahli. ESL Express misalnya, ahli di dalam negeri, dan untuk pengiriman di luar negeri ya kami kolaborasi dengan Aramex. Gak salah kan? Ya jelas tidak kita berkolaborasi kok.

So, kalau pikiranmu masih sempit, tidak kreatif dan tidak mau kolaboratif maka sulit jadi pemimpin di masa-masa menantang ini. Ayo semangat. / ESL