Konten dari Pengguna

Gen Z dan Substack sebagai Ruang Baca Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Natasya Eka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://chatgpt.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://chatgpt.com

“Benarkah Gen Z malas membaca?” Menurut Indonesia Gen Z Report 2024 dari IDN Research Institute menunjukkan bahwa pada kelompok Gen Z usia 16-20 tahun sebanyak 47% memilih artikel online sebagai salah satu jenis bacaan yang mereka konsumsi, sedangkan pada usia 21-26 tahun angkanya mencapai 53%. Angka ini mungkin cukup mepertanyakan kembali anggapan bahwa Gen Z malas membaca. Mungkin mereka tidak selalu menghabiskan waktu dengan membawa buku fisik kemana-mana, namun mereka tetap membaca artikel, cerita, opini, hingga tulisan-tulisan yang ditemukan melalui layar ponsel. Perubahan inilah yang melahirkan ruang baca digital, salah satunya adalah Substack.

GoodStats yang merangkum data Indonesia Gen Z Report 2024 mencatat 58% responden laki-laki dan 61% responden perempuan Gen Z menyukai semua genre bacaan. Ada juga penelitian tentang kecenderungan literasi Gen Z di perpustakaan yang menemukan bahwa Gen Z masih tertarik membaca baik secara online maupun melalui buku fisik, dan teknologi membuat mereka lebih mudah mengeksplorasi bahan bacaan. Dari data tersebut menunjukkan bahwa mereka bukan berhenti atau malas membaca hanya saja tempat mereka menemukan bacaan sudah berubah.

Ada juga penelitian tentang kecenderungan literasi Gen Z di perpustakaan yang menemukan bahwa Gen Z masih tertarik membaca baik secara online maupun melalui buku fisik, dan teknologi membuat mereka lebih mudah mengeksplorasi bahan bacaan. Karena survey yang sama justru menunjukkan buku fisik masih disukai oleh banyak responden. Gen Z bukan generasi yang sepenuhnya meninggalkan buku fisik. Mereka masih menikmatinya, tetapi di saat yang sama mereka juga semakin akrab dengan berbagai bentuk bacaan digital.

Seperti Substack, Aplikasi yang saat ini sedang populer dikalangan Gen Z. Dibeberapa platform seperti tiktok, threads, dan X, banyak yang saling merekomendasikan judul menarik. Substack menjelaskan dirinya sebagai tempat bagi pembaca untuk membaca tulisan, mendengarkan podcast, menonton video, dan berinteraksi dengan kreator melalui web atau aplikasi. Platform ini juga menyediakan berbagai bentuk tulisan, Mulai dari essay, review, reporting, fiksi, sampai konten seperti podcast dan video.

Menurut panduan resmi Substack, aplikasi tersebut punya reading queue, fitur untuk menemukan tulisan dan kreator baru, notes, rekomendasi, komentar, serta Chat. Substack juga menyediakan berbagai jenis tulisan dan panjang tulisan, pada halaman resmi mereka bahkan menjelaskan bahwa alat menulisnya dirancang untuk berbagai bentuk tulisan, dari postingan singkat sampai esai 10.000 kata. Substack memberikan rentang pengalaman membaca yang cukup luas. Pembaca bisa memilih sendiri apa yang ingin mereka baca dan mengikuti penulis yang sesuai dengan minatnya.

Di tengah kebiasaan digital yang serba cepat, Substack dapat menjadi salah satu alternatif ruang membaca bagi Gen Z. Platform ini memungkinkan pembaca untuk memilih sendiri tulisan dan topik yang sesuai dengan minat mereka, mulai dari tulisan ringan hingga esai yang lebih panjang dan mendalam. Dengan akses yang mudah melalui perangkat digital, pengalaman membaca pun dapat menyesuaikan dengan kebiasaan Gen Z yang sudah dekat dengan teknologi. Namun, kehadiran Substack bukan berarti buku fisik atau cara membaca konvensional akan tergantikan. Sebaliknya, platform seperti Substack menunjukkan bahwa kebiasaan membaca dapat berkembang mengikuti perubahan zaman. Membaca tidak lagi hanya dilakukan melalui halaman buku, tetapi juga melalui berbagai ruang digital yang menawarkan pengalaman membaca yang berbeda.

Pada akhirnya, mungkin Gen Z bukan malas atau berhenti membaca. Mereka hanya menemukan ruang dan cara yang berbeda untuk menikmati tulisan. Substack hanyalah salah satu contoh bahwa di tengah budaya digital yang serba cepat, masih ada kesempatan bagi pembaca untuk berhenti sejenak, membaca lebih lama, dan menikmati sebuah tulisan. Kehadirannya juga menunjukkan bahwa pengalaman membaca terus berubah mengikuti perkembangan zaman dan kebiasaan generasi digital.