IPK Tinggi Saja Tidak Cukup: Pentingnya Kemampuan Komunikasi Mahasiswa

Mahasiswa Manajemen Keuangan Universitas Pamulang yang tertarik pada bidang keuangan dan bisnis.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Eka Yutriaskia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan ada seorang mahasiswa dengan IPK tinggi. Nilainya hampir selalu bagus, tugasnya selesai tepat waktu, dan ia memahami materi kuliah dengan baik. Namun, ketika harus mempresentasikan hasil pekerjaannya, ia justru kesulitan menjelaskan apa yang sudah dikerjakannya. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi juga penting bagi mahasiswa untuk dikembangkan sejak masih berada di bangku kuliah.
Selama menempuh pendidian tinggi, mahasiswa terbiasa melihat angka sebagai salah satu ukuran keberhasilan. IPK menjadi bagian dari transkrip dan sering menjadi salah satu pertimbangan ketika melamar beasiswa, mengikuti program tertentu, bahkan mencari pekerjaan.
Namun, dunia kerja tidak hanya meminta seseorang mendapatkan nilai yang baik. Setelah lulus, mahasiswa akan berhadapan dengan wawancara, presentasi, diskusi, rapat, kerja tim, dan berbagai situasi yang menuntut kemampuan berkomunikasi.
"Lalu, apakah IPK tinggi saja sudah cukup?"
Menurut saya, tidak.
IPK tetap penting karena menunjukkan capaian akademik seseorang. Namun, IPK tidak dapat menggambarkan seluruh kemampuan yang dibutuhkan ketika seseorang mulai bekerja. Salah satunya adalah kemampuan menyampaikan gagasan dengan jelas.
Dunia Kerja Terus Berubah
Kebutuhan dunia kerja juga tidak berhenti pada kemampuan yang dipelajari mahasiswa di ruang kelas.
World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 memperkirakan sekitar 39% keterampilan utama yang dibutuhkan dalam pekerjaan akan berubah hingga 2030. Perubahan teknologi menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan tersebut.
Di tengah perubahan itu, kemampuan manusia tetap memiliki peran penting. Sebanyak 61% perusahaan dalam laporan tersebut menilai leadership and social influence sebagai salah satu keterampilan inti yang dibutuhkan tenaga kerja.
Data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berinteraksi dengan orang lain masih menjadi bagian penting dalam dunia kerja.
Mahasiswa mungkin memiliki pengetahuan yang baik mengenai bidang studinya. Namun, pengetahuan tersebut akan sulit terlihat apabila tidak mampu disampaikan dengan baik.
Seorang mahasiswa bisa saja mampu mengolah data, membuat analisis, dan menghasilkan kesimpulan. Tetapi ketika diminta menjelaskan hasilnya dalam presentasi, ia mungkin kesulitan menyusun penjelasan secara runtut.
Masalahnya bukan selalu karena ia tidak memahami materi. Bisa jadi, ia belum terbiasa menyampaikan apa yang ada di pikirannya.
Public Speaking Bukan Hanya Soal Berani Tampil
Public speaking sering dianggap sebagai kemampuan untuk berbicara di depan banyak orang. Padahal, kemampuan komunikasi jauh lebih luas.
Di tempat kerja, seseorang perlu menjelaskan pekerjaan kepada atasan, menyampaikan pendapat dalam rapat, melakukan presentasi kepada klien, berdiskusi dengan rekan kerja, atau menjawab pertanyaan saat wawancara.
Semua situasi tersebut membutuhkan kemampuan untuk menyampaikan pesan secara jelas.
Karena itu, mahasiswa tidak harus menunggu sampai lulus untuk mulai melatih kemampuan komunikasi.
Presentasi di kelas sebenarnya sudah menjadi salah satu kesempatan latihan. Begitu juga dengan diskusi kelompok, organisasi, kepanitiaan, menjadi moderator, atau kegiatan lain yang mengharuskan mahasiswa berinteraksi dengan orang lain.
Sayangnya, aktivitas tersebut terkadang hanya dianggap sebagai kewajiban yang harus diselesaikan. Padahal, jika dilakukan secara sadar, kegiatan tersebut dapat menjadi latihan menghadapi situasi profesional.
IPK Tetap Penting, tetapi Bukan Satu-satunya Bekal
Pentingnya kemampuan komunikasi tidak berarti mahasiswa harus mengabaikan IPK.
IPK tetap memiliki nilai. Namun, mahasiswa juga perlu membangun pengalaman dan keterampilan yang tidak tercermin dalam transkrip nilai.
World Economic Forum mencatat bahwa 81% perusahaan memperkirakan pengalaman kerja tetap digunakan dalam proses penilaian kandidat selama periode 2025 hingga 2030. Sementara itu, 48% perusahaan memperkirakan akan menggunakan skills assessment untuk menilai kandidat.
Artinya, mahasiswa perlu memikirkan bagaimana menunjukkan kemampuan yang mereka miliki, bukan hanya bagaimana mendapatkan nilai yang tinggi.
Pengalaman organisasi, magang, proyek, kepanitiaan, maupun kegiatan kampus dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
Dari sana, mahasiswa bisa belajar membagi tugas, bekerja dalam tim, menyampaikan pendapat, menghadapi perbedaan pandangan, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan.
Tidak Perlu Menunggu Percaya Diri
Salah satu alasan mahasiswa menghindari public speaking adalah merasa belum percaya diri.
Padahal, rasa percaya diri tidak selalu muncul terlebih dahulu baru seseorang berani berbicara. Dalam banyak situasi, rasa percaya diri justru terbentuk karena seseorang terus berlatih.
Mahasiswa dapat memulainya dari hal sederhana.
Berani bertanya di kelas. Berani menyampaikan pendapat dalam diskusi. Mencoba menjadi moderator. Mengambil bagian dalam presentasi kelompok. Atau menjelaskan sebuah ide kepada teman.
Tidak harus langsung menjadi pembicara yang hebat.
Yang penting adalah membangun kebiasaan untuk menyampaikan gagasan secara jelas dan terstruktur.
Pada akhirnya, mahasiswa tidak perlu memilih antara mengejar IPK dan mengembangkan kemampuan komunikasi. Keduanya dapat berjalan bersama.
IPK dapat menunjukkan capaian akademik. Sementara itu, kemampuan komunikasi membantu seseorang menunjukkan pengetahuan dan kompetensinya kepada orang lain.
Karena itu, selama masih berada di bangku kuliah, mungkin sudah waktunya mahasiswa tidak hanya bertanya, "Berapa IPK saya?"
Tetapi juga bertanya, "Apakah saya sudah mampu menjelaskan apa yang saya ketahui kepada orang lain?"
Sebab, mengetahui sesuatu dan mampu menyampaikannya adalah dua kemampuan yang berbeda.
