Konten dari Pengguna

Pendidikan Kewirausahaan Tidak Hanya di Kampus

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eka Yutriaskia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tumpukan karung bekas yang dikumpulkan dalam usaha Karung Boncos sebelum dijual kembali kepada pabrik. Foto: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Tumpukan karung bekas yang dikumpulkan dalam usaha Karung Boncos sebelum dijual kembali kepada pabrik. Foto: Dokumentasi Pribadi

Sebagai mahasiswa, saya cukup sering mempelajari ekonomi dan keuangan melalui buku, materi perkuliahan, dan tugas. Namun, ada satu tempat yang justru memberikan saya pembelajaran yang berbeda, yaitu usaha orang tua saya sendiri.

Orang tua saya menjalankan usaha kecil yang dikenal sebagai Karung Boncos. Usaha ini bergerak dalam jual beli karung bekas yang sudah tidak digunakan. Karung tersebut diperoleh dari pengepul, kemudian dikumpulkan dan dijual kembali kepada pabrik yang masih membutuhkan karung tersebut.

Jika dilihat sekilas, kegiatan tersebut memang terlihat sederhana. Karung bekas dikumpulkan, kemudian dijual kembali. Namun, dari usaha tersebut saya justru melihat banyak hal yang selama ini saya pelajari di bangku kuliah.

Salah satunya adalah bagaimana menghitung keuntungan usaha. Harga ketika membeli barang tentu harus diperhitungkan dengan harga ketika barang tersebut dijual kembali. Namun, selisih keduanya juga tidak bisa langsung dianggap sebagai keuntungan bersih karena masih ada berbagai biaya yang perlu diperhitungkan.

Ada biaya transportasi, tenaga yang digunakan untuk mengumpulkan dan memindahkan karung, tempat penyimpanan, serta kebutuhan operasional lainnya. Dari sini saya memahami bahwa menjalankan usaha membutuhkan perhitungan yang lebih detail daripada sekadar melihat uang yang masuk.

Pengalaman tersebut membuat materi yang saya pelajari di kampus terasa lebih nyata. Saya menjadi lebih memahami mengapa pengelolaan keuangan penting dalam sebuah usaha. Pemilik usaha perlu mengetahui pemasukan dan pengeluaran agar dapat melihat apakah kegiatan usahanya berjalan dengan baik.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah bagaimana barang yang dianggap sudah tidak berguna oleh seseorang ternyata masih memiliki nilai bagi orang lain.

Karung yang sudah tidak digunakan dapat berpindah dari pemilik sebelumnya ke pengepul, kemudian ke pelaku usaha, dan akhirnya kembali digunakan oleh pihak yang membutuhkan. Ada proses ekonomi yang terjadi di balik barang yang mungkin terlihat sederhana.

Dari sini saya belajar bahwa peluang usaha tidak selalu muncul dari barang baru. Barang bekas pun dapat memiliki nilai ekonomi selama masih memiliki fungsi dan terdapat pihak yang membutuhkannya.

Pendidikan Kewirausahaan dalam Kehidupan Sehari-hari

Menurut saya, hal seperti ini penting untuk dikenalkan dalam pendidikan kewirausahaan . Mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui pengertian modal, omzet, biaya, dan keuntungan. Mereka juga perlu memahami bagaimana konsep tersebut diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.

Saya sendiri menjadi lebih mudah memahami beberapa konsep ketika melihatnya secara langsung. Misalnya, ketika orang tua harus menentukan kapan membeli karung, berapa banyak yang dapat dikumpulkan, kepada siapa karung tersebut dijual, dan bagaimana mengatur biaya yang muncul selama proses tersebut.

Dari usaha orang tua, saya juga belajar bahwa menjalankan bisnis tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Usaha dapat berkembang dari sesuatu yang sederhana selama ada kebutuhan, perhitungan yang tepat, dan kemauan untuk menjalankannya secara konsisten.

Belajar Ekonomi dari Usaha Orang Tua

Pengalaman tersebut membuat saya melihat pendidikan dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Pembelajaran tidak hanya berlangsung ketika dosen menjelaskan materi di depan kelas. Lingkungan keluarga dan kegiatan sehari-hari juga dapat menjadi tempat untuk menerapkan pengetahuan yang sudah dipelajari.

Bagi saya, Karung Boncos menjadi salah satu contoh bahwa teori ekonomi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan. Saya bisa melihat secara langsung bagaimana barang memiliki nilai, bagaimana transaksi terjadi, bagaimana biaya harus diperhitungkan, dan bagaimana sebuah usaha membutuhkan keputusan yang tepat.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak teori yang dapat kita hafalkan. Pendidikan juga tentang bagaimana kita memahami dan menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan nyata.

Saya belajar bahwa belajar ekonomi tidak selalu ada di dalam buku atau ruang kelas. Terkadang, pelajaran tersebut justru hadir dari usaha sederhana yang dijalankan oleh orang tua sendiri.