Konten dari Pengguna

AI dan BI, Dari Efisiensi ke Keamanan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr Eko Setiobudi, SE, ME tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KTT SEACEN (Sumber: ANTARA)
zoom-in-whitePerbesar
KTT SEACEN (Sumber: ANTARA)

Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) dilaksanakan di Bali pada tanggal 5 Oktober 2026. Konferensi tersebut mengangkat tema "Central Banking in the Age of Artificial Intelligence: Payments, Regulation, and Financial Stability for a Connected Asia".

KTT SEACEN di Bali ini mempertemukan pejabat senior bank sentral dan para pakar internasional untuk membahas dampak kecerdasan artifisial terhadap pembayaran, regulasi, dan stabilitas keuangan. Diskusi melibatkan antara lain European Central Bank, Bank of Korea, Hong Kong Monetary Authority, Banque de France, Asian Development Bank Institute, University of Tokyo, KORIKA, dan Bank Rakyat Indonesia.

KTT ini membahas penguatan tata kelola dan kelembagaan SEACEN sebagai pusat pembelajaran dan kolaborasi bank sentral di kawasan. KTT ini menjadi menarik karena membahas secara khusus tentang artificial intelligence (AI), khususnya mengenai tata kelola AI yang terpercaya, transparan, dan akuntabel, pemanfaatan AI untuk sistem pembayaran yang efisien, aman, inklusif, dan berdaya tahan dan penguatan kolaborasi regional melalui SEACEN. Artinya ada perspektif yang jauh lebih luas dari AI, bukan lagi hanya urusan perusahaan teknologi, startup atau industri digital.

AI dan Efisiensi

Bagi bank sentral, AI mulai menjadi bagian dari persoalan ekonomi dan keuangan. Bank Indonesia (BI) sendiri, menyebutkan bahwa AI bukan hanya merupakan bagian dari transformasi digital, tetapi karena teknologi ini berpotensi memengaruhi produktivitas, efisiensi, sistem keuangan, bahkan stabilitas ekonomi.

Selama bertahun-tahun teknologi ditempatkan sebagai faktor produksi yang membantu manusia dan proses produksi agar lebih efisien, menambah kapasitas produksi, nilai tambah, daya saing dan mendorong pertumbuhan. Sementara pertumbuhan ekonomi dapat didorong melalui konsumsi, investasi dan ekspansi tenaga kerja. Tetapi dalam jangka panjang, kemampuan sebuah negara untuk naik kelas dan meningkatkan daya saing global, sangat ditentukan oleh seberapa banyak output yang dapat dihasilkan dari setiap unit tenaga kerja, modal dan sumber daya yang digunakan.

Dengan demikian peran AI menjadi sangat penting. Melalui AI dapat membantu perusahaan mengurangi biaya, mempercepat analisis, meningkatkan akurasi keputusan, mengoptimalkan rantai pasok dan meningkatkan kualitas produksi. Dalam industri manufaktur, misalnya, AI dapat digunakan untuk predictive maintenance, pengendalian kualitas dan efisiensi penggunaan bahan baku.

Dalam sektor keuangan, bukan sekadar alat untuk meningkatkan efisiensi. AI sedang berubah menjadi infrastruktur baru bagi pengelolaan risiko, keamanan sistem pembayaran, pengawasan, dan perluasan inklusi keuangan. Karena itu, tantangan bank sentral bukan hanya mendorong adopsi AI, tetapi memastikan bahwa AI berkembang secara aman, transparan, dan dapat dipercaya.

Bank Indonesia sendiri dalam berbagai agenda transformasinya telah menghubungkan inovasi digital dengan produktivitas. Pada September 2026, BI menegaskan bahwa inovasi merupakan kunci peningkatan produktivitas dan produktivitas yang lebih tinggi akan menciptakan nilai tambah serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Bank sentral memang bukan regulator industri AI. Namun perubahan produktivitas akibat AI dapat memengaruhi inflasi, investasi, kredit, konsumsi, pasar tenaga kerja dan stabilitas sistem keuangan. AI yang meningkatkan efisiensi perusahaan berpotensi menurunkan biaya produksi. Dalam jangka panjang, peningkatan produktivitas juga dapat memperbesar kapasitas produksi tanpa menciptakan tekanan harga sebesar ekspansi permintaan semata.

Demikian juga sebaliknya, adopsi AI yang tidak terkendali juga menciptakan risiko baru. Seperti ketergantungan pada penyedia teknologi, cloud computing, keamanan data dan algoritma dapat menciptakan konsentrasi risiko baru dalam sistem keuangan. Dengan demikian KTT yang dihadiri para pejabat senion Bank Sentral ini mengandung pesan yang jauh lebih besar, dimana bank sentral harus mulai memahami ekonomi yang semakin dipengaruhi oleh algoritma.

Telepas dari pembahasan KTT SEACEN terhadap peran AI, sepertinya ada yang lepas dari potret para peserta KTT. Yakni mengenai faktor keamanan. Perkembangan geopolitik dunia, perang Rusia-Ukraina, perang di kawasan Timur Tengah adalah potret bahwa keamanan menjadi salah satu ancaman bagi AI.

Ilustrasi Gedung BI (ChatGPT)

Dari Efisiensi ke Keamanan

Reuters melaporkan bahwa pada 1 Maret 2026, serangan drone Iran telah menyebabkan kerusakan pada dua data center Amazon Web Services (AWS) di UAE. Kemudian pada 2 April 2026, Iran/IRGC mengklaim telah menyerang data center Oracle di Dubai. Namun, Dubai Media Office awalnya membantah laporan tersebut sebagai “fabricated and incorrect”. Belakangan, laporan lain menyebut pecahan akibat intersepsi udara jatuh mengenai fasad fasilitas Oracle. Jadi untuk kasus Oracle Dubai, statusnya lebih tepat ditulis sebagai klaim serangan yang diperdebatkan, bukan serangan langsung yang terkonfirmasi seperti kasus AWS.

Serangan terhadap data center menunjukkan bahwa infrastruktur digital sekarang memiliki karakter seperti infrastruktur strategis. Data center bukan sekadar gedung komputer, di dalamnya terdapat cloud computing, sistem pembayaran, layanan bank, aplikasi bisnis, dan infrastruktur AI. Dalam perspektif ini kita harus menyimak dua perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini:

Pertama, ancaman keamanan akan mendorong perusahaan teknologi dan AI akan mencari lokasi produksi tidak sebatas pada pendekatan efisiensi, tetapi jaminan keamanan. Bahkan banyak perusahaan dipastikan akan berusaha memiliki alternatif lokasi produksi apabila terjadi gangguan terhadap satu negara atau satu rantai pasok. Konsekuensinya, biaya ekonomi dunia menjadi lebih mahal. Dan perubahan ini tentunya memiliki harga yang harus dibayar. Jika sebuah perusahaan sebelumnya cukup mempunyai satu pusat produksi yang sangat efisien, sekarang perusahaan mungkin harus mempunyai dua atau tiga basis produksi. Artinya, lebih banyak pabrik, lebih banyak persediaan, lebih banyak pemasok dan lebih banyak investasi. Dalam kontek inilah maka AI juga memberikan tantangan dilema, satu sisi mendorong efisiensi, sisi lain mendorong investasi yang besar karena ancaman keamanan. Dan ini harus dibayar dengan harga yang tentunya menjadi lebih mahal.

Kedua, pada 30 September 2026 Pentagon secara resmi menunjuk Elon Musk bersama pendiri Anduril Palmer Luckey dan mantan Ketua DPR AS Newt Gingrich ditunjuk untuk ikut memimpin Project Meridian. Sebuah proyek untuk mempelajari medan perang masa depan dan teknologi yang akan digunakan militer. Pada saat yang sama, Pentagon juga membentuk Autonomous Warfare Command, komando baru yang akan berfokus pada sistem otonom, robotika, drone dan kecerdasan buatan.

Keterlibatan Musk dalam Project Meridian merupakan representasi dari semakin tipisnya batas antara perusahaan teknologi komersial dan kepentingan strategis negara. SpaceX misalnya telah membangun kemampuan roket dan satelit yang memiliki kegunaan sipil sekaligus strategis pertahanan negara. Ekosistem perusahaan teknologi Musk berhubungan dengan AI, robotika, komunikasi satelit dan manufaktur.

Dengan demikian, fenomena Musk memperlihatkan perubahan dalam skala lebih luas, dimana perusahaan teknologi semakin menjadi bagian dari infrastruktur strategis pertahanan dan keamanan negara. Pentagon sendiri mengatakan bahwa perkembangan teknologi dan AI telah mendorong murahnya komputasi, superintelligence dan manufaktur komersial maju telah memungkinkan berkembangnya sistem serangan berpresisi tinggi dengan biaya lebih rendah.

Kondisi ini memili konsekuensi terhadap ekonomi. Pada saat teknologi yang sama dapat digunakan untuk konsumen sekaligus pertahanan negara, maka investasi pemerintah dalam teknologi pertahanan dapat menciptakan efek domino ke industri sipil termasuk industri keuangan.

Dari dua perkembangan tersebut, ada satu dimensi yang layak mendapat perhatian lebih besar dalam agenda SEACEN, keamanan infrastruktur teknologi. Bank sentral memang bukan institusi pertahanan dan bukan regulator industri AI. Namun mereka memiliki kepentingan langsung terhadap ketahanan sistem pembayaran, stabilitas lembaga keuangan, dan keberlangsungan aktivitas ekonomi.

Karena itu, bank sentral perlu mendorong koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk membangun ekosistem keamanan teknologi, termasuk perlindungan data center, jaringan cloud, sistem pembayaran, dan infrastruktur AI. Sebab dalam ekonomi yang semakin bergantung pada AI, keamanan data center pada akhirnya bukan lagi sekadar persoalan teknologi. Ia telah menjadi bagian dari stabilitas ekonomi dan keuangan.