Konten dari Pengguna

Menyoal Ledakan Investasi AI di Indonesia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr Eko Setiobudi, SE, ME tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Investasi AI (ChatGPT)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Investasi AI (ChatGPT)

Dunia sedang memasuki perlombaan investasi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) yang dari waktu ke waktu skalanya semakin besar. Berbagai perusahaan teknologi berlomba melakukan investasi baik dalam rangka membangun pusat data, membeli chip komputasi, memperluas layanan komputasi awan, dan mengembangkan model AI generasi baru. Perlombaan ini tidak hanya mencerminkan persaingan teknologi, tetapi juga pergeseran arah investasi global menuju infrastruktur digital yang semakin padat modal.

Reuters melaporkan pada Februari 2026 bahwa Bridgewater Associates memperkirakan Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft akan menginvestasikan sekitar US$650 miliar untuk infrastruktur AI sepanjang 2026, meningkat dari sekitar US$410 miliar pada 2025. Angka tersebut merupakan proyeksi, bukan realisasi akhir. Namun, besarnya nilai itu menunjukkan bagaimana AI telah menjadi salah satu pusat strategi investasi perusahaan teknologi global.

Pembangunan pusat data, pengadaan prosesor khusus, jaringan berkecepatan tinggi, dan infrastruktur kelistrikan menjadi bagian dari kebutuhan tersebut. Investasi tidak lagi hanya berkaitan dengan pengembangan perangkat lunak, tetapi juga pembangunan aset fisik yang mahal dan membutuhkan waktu untuk menghasilkan pengembalian. Reuters pada 9 Oktober 2026 juga melaporkan bahwa kebutuhan pembiayaan eksternal untuk infrastruktur AI dapat mencapai US$1,5 triliun hingga 2028 menurut proyeksi Morgan Stanley. Angka itu menggambarkan besarnya kebutuhan pendanaan yang mungkin tidak seluruhnya dapat dipenuhi dari kas perusahaan.

Meski demikian, besarnya belanja yang direncanakan menunjukkan bahwa AI telah menjadi salah satu pusat strategi investasi perusahaan teknologi global sekaligus meningkatkan kebutuhan untuk memastikan bahwa ekspansi modal tersebut menghasilkan produktivitas dan pendapatan yang sepadan.

Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Pada Juli 2025, Quantum AI Data Center mengumumkan rencana investasi tahap awal sebesar US$400 juta atau sekitar Rp6 triliun. Sementara itu, pada Agustus 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital menyampaikan estimasi kebutuhan investasi sekitar US$50 juta per megawatt untuk pembangunan AI Factory berskala penuh. Jika kapasitas yang dituju mencapai satu gigawatt, kebutuhan modalnya secara teoritis dapat mencapai US$50 miliar. Namun, angka tersebut merupakan estimasi kebutuhan investasi berdasarkan target kapasitas, bukan nilai dana yang telah seluruhnya dikomitmenkan atau direalisasikan.

Kementerian Komunikasi dan Digital menyatakan bahwa Indonesia ingin berkembang dari pasar digital yang besar menjadi basis produksi, inovasi, dan investasi digital di Asia Tenggara. Infrastruktur pusat data, komputasi awan, pengembangan AI, talenta digital, dan kepastian regulasi menjadi bagian dari agenda tersebut. Ambisi tersebut menuntut lebih dari sekadar pembangunan infrastruktur. Indonesia juga perlu memperkuat kapasitas sumber daya manusia, ekosistem riset, kepastian regulasi, dan keterkaitan antara teknologi digital dengan kegiatan produksi nasional.

Arah ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi, memperluas lapangan kerja berketerampilan tinggi, dan meningkatkan kemampuan industri domestik. Namun, perlu disadari, bahwa investasi AI bukan hanya menyangkut pusat data. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan energi yang andal, infrastruktur dan jaringan telekomunikasi berkualitas dan berkecepatan tinggi, kompetensi pada tenaga ahli, serta hubungan yang kuat antara investasi teknologi dan kebutuhan industri nasional sebagai basis penguna utama. Tanpa prasyarat tersebut, investasi yang besar belum tentu menghasilkan peningkatan produktivitas dan nilai tambah yang sebanding bagi perekonomian Indonesia.

Oleh sebab itu, memperhitungkan nilai tambah investasi bagi Indonesia juga bagian penting dari investasi AI di Indonesia. Pemerintah tidak boleh hanya berfokus pada penyiapan pusat data bagi fasilitas komputasi untuk perusahaan asing. Pengembangan talenta lokal, pemasok lokal, riset, dan penggunaan teknologi oleh industri domestik adalah bentuk-bentuk nilai tambah yang memiliki manfaat ekonomi bagi Indonesia. Dengan cara ini, Indonesia tidak hanya menjadi lokasi fasilitas komputasi, tetapi juga memperoleh manfaat teknologi, peningkatan kompetensi, dan penguatan kapasitas produksi nasional.

Ilustrasi Persebaran Pusat Data Dunia (Sumber: Xpert-Digital.id)

Maka, mengukur keberhasilan investasi pada sektor AI bukan hanya pada nilai investasi serta imbal balik investasinya dan keberhasilan transformasi digital yang berjalan di Indonesia. Dalam skala yang lebih luas, Pemerintah perlu menetapkan indikator yang mampu menilai kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi, produktivitas, kualitas tenaga kerja, dan penguatan industri domestik. Indikator tersebut juga harus dapat dievaluasi secara berkala agar kebijakan investasi didasarkan pada manfaat ekonomi yang terukur. Beberapa ukuran keberhasilan tersebut antara lain:

Pertama, pertumbuhan ekonomi sebagai imbal balik investasi AI. Seberapa besar pertumbuhan yang dihasilkan dari ledakan investasi AI menjadi penting untuk memastikan bahwa investasi AI mampu menghadirkan ekonomi baru. IMF dalam pembaruan World Economic Outlook Juli 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027. Bagi Indonesia, persoalan utamanya adalah seberapa besar investasi AI dapat mendorong pertumbuhan PDB, ekspor jasa digital, penerimaan negara, dan aktivitas industri domestik.

Melakukan perhitungan matematis atas investasi AI menjadi penting untuk memastikan bahwa semakin besar investasi AI semakin besar pula kontribusinya bagi pertumbuhan ekonomi dan nilai tambahnya bagi Indonesia. Pemerintah perlu mengembangkan kerangka pengukuran untuk menilai hubungan antara investasi AI dan tambahan nilai ekonomi yang dihasilkan. Pengukuran tersebut dapat mencakup tambahan output, efisiensi operasional, efisiensi energi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan penerimaan negara. Tujuannya bukan mengasumsikan bahwa setiap tambahan investasi pasti menghasilkan pertumbuhan yang sebanding, melainkan mengidentifikasi kondisi yang membuat investasi AI benar-benar produktif bagi perekonomian Indonesia.

Kedua, peningkatan produktivitas. Keberhasilan AI tidak cukup di ukur dari kemampuan perusahaan memperoleh pengembalian modal. Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah teknologi tersebut meningkatkan output, memperbaiki kualitas produk dan layanan, mengurangi pemborosan, serta meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja dan energi. Dengan ukuran ini, produktivitas dinilai dari manfaat nyata bagi kegiatan ekonomi, bukan hanya dari keuntungan finansial investor.

Sejarah mengingatkan bahwa potensi teknologi yang besar tidak selalu membuat setiap investasi menjadi menguntungkan. Pada masa ledakan perusahaan internet di akhir tahun 1990-an, pembangunan infrastruktur berlangsung sangat cepat, sementara sebagian perusahaan dan industri tidak mampu memenuhi ekspektasi pasar. Akibatnya produktivitas hanya diukur dengan kemampuan mengembalikan investasi.

Situasi saat ini, tentu berbeda era dot-com. Investasi AI sekarang memiliki perbedaan penting, termasuk skala perusahaan teknologi yang lebih besar dan penggunaan AI yang sudah nyata dalam sejumlah kegiatan bisnis. Meski demikian, perbedaan tersebut tidak menghilangkan risiko salah memperkirakan permintaan, persaingan, maupun waktu pengembalian investasi.

Pengunaan AI memang dapat membantu perusahaan mempercepat analisis data, mengotomatisasi pekerjaan rutin, meningkatkan layanan pelanggan, dan memperbaiki proses produksi. Jika diterapkan secara tepat, teknologi ini berpotensi menekan biaya operasional dan meningkatkan nilai tambah. Bahkan AI dapat membantu perusahaan mempercepat analisis data, mengotomatisasi pekerjaan rutin, meningkatkan layanan pelanggan, dan memperbaiki proses produksi. Jika diterapkan secara tepat, teknologi ini berpotensi menekan biaya operasional dan meningkatkan nilai tambah.

Tetapi manfaat tersebut tidak selalu muncul secara otomatis. Perusahaan tetap membutuhkan tenaga kerja terampil, perubahan proses bisnis, keamanan data, dan investasi pendukung termasuk ketersediaan insfrastruktur teknologi dan komunikasi dan energi yang disiapkan oleh pemerintah.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan investasi AI seharusnya bukan hanya di ukur dari berapa jumlah pusat data yang dibangun atau besarnya chip yang dibeli, tetapi juga peningkatan produktivitas dan arus kas yang dihasilkan dan manfaatnya bagi perekonomian Indonesia. Hal ini penting karena juga menyangkut dengan peran pemerintah dalam menyiapkan infrastruktur teknologi dan energi.

Selain itu, pemerintah perlu mendorong agar investasi AI memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian nasional. Hal ini dapat dilakukan melalui penguatan keterampilan tenaga kerja lokal, kerja sama riset dengan perguruan tinggi, pengembangan pemasok domestik, dan perluasan akses AI bagi industri pengolahan serta UMKM. Dengan demikian, investasi AI tidak hanya memperbesar kapasitas komputasi, tetapi juga memperkuat kemampuan produksi dan daya saing ekonomi Indonesia.