Literasi Digital di Sekolah dan Pesantren Bukan Sekadar Bisa Pakai Aplikasi

Manager of Branding & Engagement at Thursina International Islamic Boarding School
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Eko Wahyulianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Literasi Digital Disederhanakan
Literasi digital di sekolah dan pesantren kini sering disederhanakan sebagai kemampuan menggunakan aplikasi pembelajaran. Padahal, menurut berbagai diskusi tentang pendidikan digital, tantangan utamanya justru terletak pada nalar dan sikap bermedia.
Selama siswa atau santri bisa mengisi Google Form, mengunggah tugas di LMS, atau mengikuti kelas daring tanpa kendala teknis, mereka dianggap sudah melek digital. Padahal, kemampuan itu baru menyentuh permukaan. Ia belum menyentuh cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan di ruang digital.
Literasi digital lalu berubah menjadi checklist administratif, bukan proses pembentukan nalar.
Teknologi Sudah Dekat, Tapi Apakah Nalar Ikut Mendekat?
Di ruang-ruang kelas hari ini—termasuk di sekolah dan pesantren—teknologi hadir nyaris tanpa jarak. Gawai ada di tangan siswa, materi tampil di layar, tugas berpindah lewat platform digital. Secara teknis, semuanya terlihat maju dan rapi.
Namun, pertanyaan yang jarang diajukan adalah: apakah cara berpikir kita ikut bergerak maju?
Seseorang bisa sangat cepat mengedit video, tetapi mudah terjebak hoaks. Bisa aktif di media sosial, tetapi kesulitan membaca konteks. Bisa mengakses beragam informasi, tetapi tidak terbiasa bertanya: siapa yang membuat konten ini, apa tujuannya, dan apa dampaknya jika saya mempercayainya?
Di titik inilah literasi digital seharusnya berdiri—bukan pada kecepatan, melainkan pada kesadaran.
Literasi Digital di Sekolah dan Pesantren: Antara Keterampilan dan Sikap
Literasi digital sejatinya bukan cuma soal bisa atau tidak bisa menggunakan teknologi. Ia adalah soal sikap dan nalar. Tentang kemampuan memilah informasi, memahami etika berinteraksi di ruang digital, serta menyadari bahwa setiap klik, unggahan, dan komentar memiliki konsekuensi.
Tanpa fondasi ini, teknologi hanya menjadi alat yang mempercepat penyebaran kekeliruan. Bahkan, tak jarang ia memperbesar kebencian dan prasangka, karena informasi beredar lebih cepat daripada proses berpikir.
Sekolah dan Pesantren di Persimpangan Budaya Digital
Dalam konteks pendidikan, persoalan ini menjadi lebih kompleks. Sekolah dan pesantren berada di persimpangan dua dunia: dunia nilai yang mengajarkan adab, kehati-hatian, dan tanggung jawab; serta dunia digital yang bergerak cepat, reaktif, dan sering kali minim etika.
Sayangnya, adopsi teknologi sering tidak diiringi dengan penguatan budaya belajar. Anak-anak diajarkan cara menggunakan aplikasi, tetapi jarang diajak berdiskusi tentang jejak digital, privasi, atau bagaimana bersikap kritis terhadap konten yang mereka konsumsi setiap hari.
Akibatnya, ruang digital hanya menjadi perpanjangan ruang kelas yang tetap pasif. Teknologi digunakan untuk mempercepat distribusi materi, bukan memperdalam pemahaman. Murid tetap menjadi penerima, bukan penanya. Padahal, teknologi seharusnya membuka ruang dialog, bukan sekadar mengganti papan tulis dengan layar.
Budaya Lebih Menentukan daripada Teknologi
Lebih jauh, literasi digital sangat berkaitan dengan budaya. Cara kita memaknai teknologi dibentuk oleh kebiasaan, nilai, dan relasi sosial yang sudah lama ada. Jika budaya belajar masih menempatkan kecepatan di atas ketepatan, viral di atas verifikasi, maka teknologi hanya akan memperbesar persoalan yang sama.
Pesantren dan sekolah sebenarnya memiliki modal kuat untuk membangun literasi digital yang lebih utuh. Nilai-nilai seperti tabayyun, tanggung jawab moral, dan adab dalam berkomunikasi sangat relevan dengan kehidupan digital. Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai itu tidak berhenti sebagai jargon, tetapi hadir dalam praktik sehari-hari bermedia.
Lebih dari Sekadar Bisa Mengikuti Zaman
Karena itu, membicarakan literasi digital tidak cukup berhenti pada pelatihan aplikasi. Ia perlu hadir dalam obrolan sehari-hari, dalam cara guru merespons informasi, dalam cara institusi pendidikan membangun ekosistem berpikir yang sehat.
Literasi digital bukan soal siapa yang paling cepat beradaptasi dengan teknologi terbaru. Ia soal siapa yang tetap waras, kritis, dan bertanggung jawab di tengah banjir informasi.
Dan itu, jelas, tidak bisa dicapai hanya dengan bisa pakai aplikasi.
