Konten dari Pengguna

Obesitas Naik Terus, Obat Pelangsing Kini Lebih Cerdas dan Berbasis Hormon

Eko Aprianto

Eko Aprianto

seorang apoteker yang aktif berbagi edukasi kesehatan dan isu farmasi. Berkomitmen mendukung literasi obat dan gaya hidup sehat melalui tulisan yang informatif dan mudah dipahami.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eko Aprianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi kapsul obat pelangsing. Sumber : AI
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi kapsul obat pelangsing. Sumber : AI

Obesitas itu bukan cuma soal penampilan. Dalam 20 tahun terakhir, berat badan berlebih udah jadi masalah kesehatan yang serius banget—bukan cuma di luar negeri, tapi juga di Indonesia. Menurut UNICEF Indonesia, obesitas meningkat tajam sejak 2013. Masalah ini nyambung ke diabetes, darah tinggi, kolesterol, bahkan risiko stroke dan jantung. Nah, cara ngatasinnya pun udah berubah jauh. Dulu mainnya di otak, sekarang langsung ke hormon tubuh.

Yuk kita bahas dari awal.

Dulu: Obat Pelangsing yang Bikin Deg-degan

Di era 2000-an sampai sekitar 2015, obat pelangsing yang populer itu jenis yang ngegas sistem saraf. Contohnya kayak phentermine atau diethylpropion. Cara kerjanya simpel: bikin kita nggak lapar. Tapi efek sampingnya lumayan bikin deg-degan—literally. Jantung berdebar, susah tidur, dan kalau nggak diawasi dokter, bisa bikin ketergantungan.

Ada juga yang dicampur sama obat lain biar lebih stabil, tapi tetap aja harus hati-hati. Intinya, pendekatan zaman dulu itu fokusnya di otak, bukan di akar masalah metabolisme tubuh.

Sekarang: Suntikan Hormon yang Bikin Tubuh Lebih Cerdas

Masuk ke era 2015 ke atas, dunia medis mulai pakai cara yang lebih pinter. Obat pelangsing sekarang banyak yang berbasis hormon—kayak liraglutide, semaglutide, atau tirzepatide. Mereka ini niru hormon alami tubuh yang ngatur rasa kenyang, gula darah, dan pembakaran lemak.

Biasanya bentuknya suntikan mingguan, dan hasilnya bisa bikin berat badan turun sampai 15–20%. Nggak cuma bikin kenyang lebih lama, tapi juga bantu tubuh ngatur metabolisme dengan lebih efisien. Ini yang bikin pendekatan baru ini disebut revolusioner—karena nggak cuma ngurangin makan, tapi beneran bantu tubuh kerja lebih optimal.

Meski obat makin canggih, angka obesitas di Indonesia justru makin naik. Data dari UNICEF dan Kemenkes nunjukin trean kenaikan dari 2013 sampai dengan 2023 :

• Anak usia sekolah (5–12 tahun): naik dari 10.8% ke 11.9%

• Remaja (13–15 tahun): dari 8,3% ke 12,1%

• Dewasa (18 tahun ke atas): dari 13,5% ke 14.4%

Penyebabnya? Gaya hidup mager, makanan instan yang tinggi gula dan lemak, plus iklan makanan nggak sehat yang makin gencar. Bahkan anak-anak sekarang udah banyak yang kelebihan berat badan.

Yang bikin miris, banyak orang malah tergoda beli produk pelangsing ilegal yang dijual bebas di medsos. Padahal belum tentu aman, dan nggak ada izin dari BPOM.

Obesitas Bisa Ditangani Secara Legal dan Ilmiah

Yang perlu diinget: obesitas itu bisa banget dikonsultasikan ke dokter. Ada terapi yang udah terdaftar resmi dan diawasi BPOM, yang bisa diresepkan sesuai kondisi tubuh.

Nggak semua orang cocok diet ketat atau olahraga ekstrem. Kadang tubuh butuh bantuan medis buat ngatur hormon dan metabolisme. Dan itu sah-sah aja, asal lewat jalur yang aman dan legal.

Jadi daripada nekat beli produk sembarangan, mending ngobrol sama tenaga kesehatan. Penurunan berat badan bisa dicapai secara bertahap, aman, dan berkelanjutan.

Obesitas itu tantangan zaman sekarang. Dari obat yang bikin deg-degan sampai suntikan hormon yang bantu tubuh kerja lebih cerdas, kita udah melangkah jauh. Tapi langkah ini harus dibarengi sama edukasi yang bijak dan kesadaran bahwa tubuh sehat itu bukan soal kurus, tapi soal seimbang.

Karena tubuh yang sehat itu bukan yang paling ramping, tapi yang paling dihargai dan dirawat dengan penuh kesadaran.

Referensi :

https://www.unicef.org/indonesia/media/22496/file

https://www.fda.gov/news-events/press-announcements/fda-approves-new-medication-chronic-weight-management

https://www.antaranews.com/berita/4803609/bpom-temukan-6-produk-herbal-pelangsing-berbahaya-ini-daftarnya