Ekonomi Cuma Dongeng Saja?

Peneliti Lapangan untuk berbagai proyek riset akademis di Universitas Udayana
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari made didi kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manusia sering kali membayangkan dirinya sebagai makhluk rasional. Ketika dihadapkan pada pilihan ekonomi—membeli rumah pertama, menumpuk tabungan di bank, atau mengambil risiko berpindah pekerjaan—kita membayangkan diri kita sedang mengkalkulasi risiko dengan dingin. Kita meneliti tabel suku bunga, membandingkan tren inflasi, dan menimbang grafik laba-rugi secara teliti. Namun, jika kita mau jujur menatap riwayat keputusan hidup kita, kebenarannya justru jauh dari hitungan matematis itu.
Pikiran kita tidak pernah benar-benar kebal terhadap kekuatan sebuah cerita. Tanpa disadari, narasi yang beredar di media sosial, obrolan santai di meja makan, hingga romantisasi kesuksesan yang sering kita dengar, memegang kendali atas dompet dan arah hidup kita. Keputusan-keputusan finansial terbesar dalam hidup manusia sering kali lahir bukan dari lembar kerja spreadsheet, melainkan dari kisah yang paling meyakinkan yang berhasil merasuki benak kita.
Ilusi Rasionalitas di Balik Pilihan Hidup
Psikologi modern dan ekonomi perilaku telah lama mengonfirmasi bahwa otak manusia bekerja lewat jalan pintas berupa cerita. Ketika seseorang memutuskan untuk mengikatkan diri pada kredit pemilikan rumah selama dua puluh tahun, apakah ia benar-benar menghitung proyeksi arus kas masa depannya secara cermat? Ataukah ia sedang membeli narasi klasik tentang 'pencapaian hidup', 'kemandirian', dan 'keamanan masa tua' yang dibisikkan oleh masyarakat sejak ia kecil?
Sama halnya dengan keputusan untuk bertahan di pekerjaan yang beracun atau nekat melompat ke industri baru yang belum pasti. Pilihan tersebut sangat jarang didasari oleh angka objektif belaka. Ada narasi tentang 'zona nyaman yang membunuh', 'panggilan jiwa', atau 'kejayaan instan' yang sedang kita hidupi. Kita meyakinkan diri sendiri bahwa kita sedang mengambil langkah strategis, padahal kita sebenarnya hanya sedang menjadi aktor dari sebuah skenario cerita yang dibuat oleh orang lain.
Kekuatan Narasi dalam Menggerakkan Roda Ekonomi
Pada tingkat yang lebih makro, pasar finansial global pun berjalan di atas fondasi yang sama. Naik turunnya harga saham, lonjakan nilai aset digital, hingga krisis ekonomi yang meruntuhkan negara, semuanya bermula dari pengalihan narasi kolektif. Ketika jutaan orang percaya pada cerita bahwa suatu aset akan menjadi masa depan dunia, harganya akan meroket tanpa memedulikan nilai intrinsiknya. Sebaliknya, ketika narasi ketakutan dan kepanikan mulai menyebar, pasar terbaik pun bisa hancur dalam hitungan jam.
Pemenang Nobel Ekonomi, Robert Shiller, menyebut fenomena ini sebagai 'Ekonomi Naratif'. Ia menjelaskan bagaimana cerita-cerita sederhana yang menyebar secara epidemik mampu menggerakkan fenomena ekonomi makro. Orang-orang tidak bertindak berdasarkan data mentah yang dirilis oleh bank sentral; mereka bertindak berdasarkan interpretasi dan cerita yang membungkus data tersebut. Cerita memiliki daya tular yang jauh lebih cepat daripada angka, dan daya tular itulah yang membentuk realitas finansial kita.
Eksploitasi Cerita dalam Dunia Modern
Di era digital saat ini, kerentanan kita terhadap narasi dimanfaatkan secara jauh lebih sistematis. Algoritma media sosial dirancang khusus untuk memunculkan cerita-cerita yang memicu emosi terkuat—ketakutan akan tertinggal (fear of missing out), rasa iri atas pencapaian orang lain, atau janji-janji kebebasan finansial yang terkesan mudah. Setiap hari kita disuguhi narasi tentang bagaimana orang lain mendadak kaya, bagaimana industri tertentu akan mati, atau mengapa kita harus segera memiliki aset tertentu sebelum terlambat.
Tanpa kesadaran kritis, kita akan terus menjadi konsumen pasif dari narasi-narasi ini. Kita menabung bukan karena paham perencanaan finansial, tetapi karena takut pada cerita horor tentang kemiskinan di masa depan. Kita berbelanja barang mewah bukan karena butuh, melainkan untuk melengkapi cerita identitas yang ingin kita tampilkan kepada dunia. Pemasar, politisi, dan pelaku industri sangat memahami hal ini: jika Anda bisa mengendalikan narasi yang dipercaya seseorang, Anda bisa mengendalikan ke mana uang dan tenaga orang tersebut akan mengalir.
Ekonomi Adalah Refleksi Jiwa Manusia
Kita harus menyadari bahwa ekonomi bukanlah sekadar sains keras yang melayang di udara tanpa emosi. Ekonomi bukan cuma soal grafik, rumus kalkulus, atau laporan neraca keuangan. Pada tingkatan paling mendasar, ekonomi adalah jalinan dari jutaan keputusan manusia yang saling bertabrakan dan berkelindan setiap detiknya—dan manusia, dari zaman purba hingga era kecerdasan buatan, adalah makhluk yang hidup dan bernapas dengan cerita.
Memahami hal ini adalah langkah pertama untuk merebut kembali kendali atas pikiran dan dompet kita sendiri. Kita tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari pengaruh narasi, tetapi kita bisa memilih untuk lebih kritis. Saat hendak mengambil keputusan besar berikutnya—apakah itu membeli aset, menabung, atau mengubah jalan karier—hentikan sejenak kalkulasi Anda dan ajukan pertanyaan yang lebih mendalam: Cerita siapa yang sebenarnya sedang saya percaya? Dan apakah cerita ini benar-benar milik saya, atau sekadar bisikan luar yang lupa saya pertanyakan?
