Akrab Tanpa Batas Tantangan Guru Saat Ini

Guru di Sekolah IAS Al-Jannah
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Eko Suryo Pranoto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi guru zaman sekarang bukan hanya berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi pembelajaran. Guru hari ini berada di persimpangan dilema, di satu sisi dituntut untuk ramah dengan murid, dan menjadi “teman” bagi murid, di sisi lain tetap harus menjaga figur penegak kedisiplinan dan aturan.
Perubahan zaman memberikan dampak yang berarti bagi guru. Pengaruh media sosial, serta pola asuh yang semakin permisif membuat jarak antara guru dan murid semakin menipis. Murid zaman ini sudah berani berbicara, menyela, bahkan bercanda tanpa sekat. Keakraban yang berkembang saat ini justru dipuja sebagai bentuk kedekatan emosi.
Keakraban yang dikemas dengan bentuk kedekatan antara guru dan murid bisa menjadi bencana yang besar bagi murid dan bahkan bagi guru. Dengan keakraban memberikan ruang yang sangat sempit untuk sebuah kewibawaan. Murid sudah berani memanggil guru tanpa etika, melontarkan candaan yang melampaui batas, bahkan mengabaikan aturan dengan dalih “dekat” dengan guru.
Guru yang menegur murid dianggap sebagai guru yang kaku, galak, bahkan dianggap sebagai guru yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Dan lebih mencengangkan, guru yang menegakkan kedisiplinan dianggap sebagai guru yang otoriter.
Kasus yang menimpa guru di daerah Tanjung Jabung Timur, Jambi menjadi sebuah tamparan yang keras dalam dunia pendidikan. Menurut berita yang beredar, ada seorang guru yang menjadi idaman di sekolah tersebut, asyik diajak becanda, dan sangat dekat dengan murid-muridnya. Selain itu, guru tersebut juga tegas dalam penegakkan kedisiplinan.
Kedekatan guru tersebut dengan murid membuka pintu konflik diantara mereka. Saking akrabnya antara guru dan murid membuat sekat yang sangat tipis setipis tisu. Akibatnya adalah wibawa guru tersebut menjadi luntur, dan rasa hormat pindah ke lain hati. Dengan kedekatan seperti ‘bestie’ menjadi sebuah bencana.
Akrab dengan murid bagi sebagian guru memang dibutuhkan agar pembelajaran menjadi menyenangkan. Namun, keakraban yang kebablasan akan menjadi petaka. Masalahnya, banyak diantara murid yang belum mampu memfilter untuk membedakan mana “bercanda antar teman” dan mana “menghargai guru”.
Ketika seorang guru memposisikan dirinya seperti teman tongkrongan, murid akan melupakan sosok didepan mereka adalah seorang guru yang memberikan ilmu pengetahuan, bukan hanya sebuah teman mabar atau teman bercanda.
Kejadian yang terjadi di sekolah daerah Tanjung Jabung Timur, Jambi bukan hanya kekerasan fisik, tapi soal “hilangnya rasa hormat”. Kalau murid sudah berani berteriak hingga mengacungkan tinju ke gurunya, berarti ada kesalahan dalam sistem rasa hormat. Rasa segan dan rasa hormat sudah hilang entah kemana, karena di mulai dengan ‘bestie’.
Inilah pentingnya wibawa guru. Banyak guru zaman sekarang terlalu takut dibilang kolot oleh muridnya hanya karena guru tersebut tidak dekat dengan murid. Padahal menjaga jarak diantara guru dan murid bukan berarti memutus hubungan diantara mereka. Menjaga jarak antara guru dan murid adalah menjaga hati dan emosi diantara mereka. Keakraban yang berlebihan akan mengakibatkan lahirnya rasa remeh.
Belajar dari beberapa kasus diatas, dapat disimpulkan bahwa guru bukan teman sebaya, walau guru harus mengikuti perkembangan anak zaman sekarang, harus diingatkan kepada murid bahwa guru bukan teman sebaya, bukan teman bermainnya. Guru adalah orang tua yang harus dihormati.
Selanjutnya, wibawa guru harus dibangun tanpa teriakan, namun dari cara guru tersebut menjaga sikap agar tetap dihormati tanpa harus ditakuti. Jaga kehormatan guru, jangan sampai kehormatan guru dinjak-injak atas nama solidaritas.
Menjadi guru yang dicintai itu bagus, tapi menjadi guru yang disegani pun tak kalah bagusnya dan ini harus dimiliki oleh setiap guru. Jangan sampai karena ingin dibilang gaul dengan muridnya, malah hilang kendali. Kasus guru dipukuli murid menjadi pelajaran yang berharga dalam dunia pendidikan. Jangan biarkan pintu keakraban terbuka lebar tanpa kunci yang bernama ketegasan.
