Bukan Sekedar Mengisi Kepala, Begini Seni Menjadi Guru Yang Dirindukan Murid

Guru di Sekolah IAS Al-Jannah
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Eko Suryo Pranoto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menjadi seorang guru bukan hanya datang ke sekolah, membuka kelas, membaca buku teks, lalu memastikan para murid menghafal rumus-rumus yang berabad-abad sudah tertulis, dan juga menghafal seluruh kejadian sejarah yang telah berlalu. Lebih dari itu, seni sejati dari mengajar adalah membangun sebuah jembatan hati.
Bagi guru, ruang kelas bukanlah panggung sandiwara tempat guru berpidato atau berceramah. Kelas ada ruang kolaborasi yang penuh dengan energi, tawa dan rasa ingin tahu. Bayangkan jika kelas hanya sebuah tempat pidato atau ceramah, apa bedanya dengan mimbar-mimbar agama yang pesertanya hanya mendengar saja, tanpa ada umpan balik. Bukankan hal tersebut hanya membuat para murid menjadi bosan?
Guru selalu membawa energi positif dan menularkannya. Jika guru memasuki ruang kelas dengan wajah yang lesu atau membawa beban pikiran dari rumah, murid yang ada di kelas secara langsung akan merasakan apa yang guru pikirkan. Sebaiknya seorang guru harus selalu membawa sapaan hangat di pagi hari serta senyuman tulus. Yakinlah bahwa keceriaan guru adalah mood booster bagi para murid.
Murid zaman sekarang sudah cerdas-cerdas, perkembangan teknologi membuat pengetahuan mereka bertambah. Dalam kondisi seperti itu, maka murid tidak membutuhkan guru yang dictator, hanya hanya mendikte benar dan salah saja. Mereka para murid mendambakan seorang guru yang mau mendengarkan keluh-kesah. Ketika suara mereka didengar oleh sang guru, maka mereka akan senang dan merasa dihargai. Di situlah rasa percaya diri tumbuh dengan cepat.
Belajar dengan murid zaman sekarang tidak boleh seperti hukuman. Selipkan beberapa humor, kuis interaaktif, atau beberapa kasus yang ada di masyarakat dan mereka akan mendiskusikannya. Ketika suasana belajar yang menyenangkan, otak akan lebih mudah menyerap ilmu pengetahuan. Mengajar dengan menggembirakan akan membuat materi sesulit apapun menjadi mudah.
Menjadi guru yang diidamkan bukanlah tentang menjadi sempurna. Menjadi guru yang diidamkan adalah menjadi manusia yang hadir seutuhnya untuk manusia lain, mengajar penuh cinta, dan selalu menyisakan ruang untuk canda tawa di setiap proses pembelajaran. Jadilah guru yang selalu diidamkan oleh murid-murid.
