Konten dari Pengguna

Kemerdekaan Indonesia Tanpa Literasi Apakah Merdeka?

Eko Suryo Pranoto

Eko Suryo Pranoto

Guru di Sekolah IAS Al-Jannah

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eko Suryo Pranoto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanggal 17 Agustus merupakan hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal tersebut, dimulailah peradaban bangsa baru, dimulailah paradigma baru tentang bangsa yang akan menyejahterakan rakyatnya dari belenggu kebodohan yang selama bertahun-tahun menjadi rantai kemajuan bangsa Indonesia.

Pada hari kemerdekaan, masih terus terngiang pertanyaan reflektif, sudahkah kita benar-benar Merdeka? Nyatanya kita masih tidak bisa merasakan kenikmatan kemerdekaan ini penuh suka cita secara personal, bahkan secara bersama-sama. Setiap hari ada saja yang membuat kita menggelengkan kepala.

Dunia pendidikan yang menjadi ujung tombak pembentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia tidak lepas dari berbagai macam masalah. Masalah yang masih menggerus sanubari kita tentang tidak sepenuhnya Merdeka dan tidak memerdekakan orang-orang yang bergelut di dalamnya, baik itu guru, dosen, siswa, dan mahasiswa.

Para pendahulu kita telah menegaskan bahwa tujuan dari kemerdekaan Republik Indonesia ini adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada kenyataannya, sistem pendidikan di Indonesia hadir tidak sepenuhnya memberikan ruang bebas merdeka ke murid. Akses pendidikan yang wilayahnya jauh dari jangkauan pemerintah pusat masih terbatas, khususnya pengembangan literasi. Di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) pengembangan literasi hanya sebatas program yang belum terlaksana, karena keterbatasan peran pemerintah.

Peringkat literasi negara Indonesia berada di urutan kedua dari bawah menurut UNESCO pada tahun 2020. Hal ini menggambarkan bahwa bangsa Indonesia masih malas membaca. Sedangkan di dunia, perkembangan teknologi terus melaju dengan pesat, dan kita bangsa Indonesia hanya berdiam diri tanpa bergerak, menjadi penonton diantara bangsa-bangsa lain yang semakin maju.

Jika kita membaca data dari UNESCO mengenai tingkat literasi di Indonesia, bisa dibilang bahwa hanya satu orang yang rajin membaca dari 1.000 orang penduduk yang ada di Indonesia. Jika dibandingkan dengan penggunaan gawai di Indonesia, ini menjadi ketimpangan dan sebuah ironi yang harus segera diatasi dari berbagai lini kehidupan.

Hari ini orang-orang lebaih banyak menghabiskan waktunya menatap layar gawai dengan beragam aplikasi media sosial dibandingkan mereka yang menghabiskan waktu untuk membaca buku. Pemerintah sudah mencanangkan gerakan literasi sekolah untuk giatkan minat bakat baca di sekolah-sekolah. Itu saja belum cukup, dibutuhkan berbagai macam strategi lain yang harus dijalankan diberbagai lini.

Upaya peningkatan literasi ini tidak bisa disematkan kepada pemerintah saja, semua pihak baik swasta, maupun masyarakat luas secara personal ataupun bergerak bersama komunitas harus mengambil peran sesuai perang masing-masing. Tidak harus dengan sokongan dana besar, dengan mengandalkan media sosial, mulai dari jejaring, kepercayaan, kekerabatan sudah sangat membantu perkembangan literasi di Indonesia.

Setiap langkah kecil yang kita lakukan bersama bisa menjadi jalan setiap orang merasakan kemerdekaan yang hakiki. Tidak hanya menjadi jargon sehari, lalu esok kembali bergelut dengan permasalahan dunia pendidikan. Meskipun upaya yang dilakukan secuil, mungkin akan bermakna bagi perkembangan literasi di Indonesia.

Pengembangan literasi tidak hanya merupakan tugas pemerintah saja, tapi semua kalangan, sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju. (Foto Pribadi)