Menanam Benih Peradaban di Sekolah Ramadan

Guru di Sekolah IAS Al-Jannah
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Eko Suryo Pranoto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebagai seorang guru yang setiap hari bertemu dengan keriuhan di sekolah, terlihat wajah-wajah polos yang setiap hari menghiasi kelas. Di mata mereka yang berbinar, guru tidak hanya melihat anak-anak yang belajar membaca dan berhitung, tetapi juga melihat para nahkoda-nahkoda yang akan memegang kemudi kapal besar bernama Indonesia. Lalu, bekal apa yang cukup untuk mereka bawa menuju Indonesia Emas 2045?
Jawabannya seringkali tidak kita temukan dalam buku teks matematika, sains, atau buku pelajaran lainnya, melainkan ada dalam “kurikulum langit” yang datang setahun sekali bernama Ramadan. Ramadan merupakan laboratorium karakter yang paling canggih. Di sekolah, guru selalu mengajarkan kepada anak-anak, bahwa puasa Ramadan bukan hanya menahan lapar, tetapi juga Ramadan merupakan perjalanan ke dalam diri.
Di era digital yang serba terbuka, kejujuran menjadi barang mewah. Namun, puasa Ramadan mengajarkan anak-anak tentang pengawasan malaikat. Tidak ada seorang pun yang tahu jika anak-anak secara diam-diam meneguk air saat berwudu di kamar mandi sekolah. Namun, ketika mereka memilih untuk tetap kering kerongkongannya demi ketaatan pada Sang Pencipta. Mereka sedang belajar tentang pelajaran penting dalam kehidupan yaitu integritas. Jika sejak usia dini kita tanamkan integritas kepada anak didik kita, maka dimanapun mereka berada, kejujuran akan selalu di hati mereka.
Pelajaran berikutnya yang dapat kita berikan kepada anak didik kita adalah tentang empati. Seringkali anak didik kita tumbuh dalam gelembung kenyamanan yang membuat mereka abai pada sekitar. Saat Ramadan, anak dari keluarga berkecukupan akan merasakan perihnya lambung yang sama dengan temannya yang kekurangan. Puasa Ramadan ini memberikan pelajaran kepada anak didik kita tentang penyamaan derajat. Mereka belajar bahwa lapar itu menyakitkan, dan dari rasa sakit itulah lahir keinginan untuk berbagi. Inilah pondasi kedermawanan sosial yang akan menjaga persatuan bangsa kita agar tidak terjadi kesenjangan sosial.
Ramadan merupakan sekolah kedisiplinan dan daya juang. Di Tengah tren instans gratification di mana anak-anak ingin segalanya serba cepat dan instan melalui gawai, puasa hadir sebagai antitesis. Mereka akan belajar menunda kesenangan. Mereka belajar bahwa untuk mencapai kemenangan, ada perjuangan dengan bangun sahur dan menahan nafsu yang harus dilalui.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah: 183). Kata “Takwa” di sini adalah selfregulation atau kontrol diri tertinggi. Manusia yang memiliki kontrol diri adalah manusia yang merdeka, tidak diperbudak oleh keinginan sesaat. Inilah sosok manusia unggul yang akan dibutuhkan oleh Indonesia dalam menghadapi perubahan global dunia.
Mari kita sadari bahwa tugas kita sebagai pendidik bukan sekedar mentransfer ilmu, tapi menanam benih peradaban. Mari jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk menyemai benih kejujuran, disiplin, dan peduli di ladang jiwa anak-anak kita. Jika benih yang kita tanam baik, maka pohon Indonesia Emas 2045 akan tumbuh rimbun, berakar kuat pada iman, dan berbuah manis bagi seluruh rakyat Indonesia.
