Konten dari Pengguna

Merajut Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045

Eko Suryo Pranoto

Eko Suryo Pranoto

Guru di Sekolah IAS Al-Jannah

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eko Suryo Pranoto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dengan mengubah pendidikan, kita sedang mengubah cara pandang manusia. Foto: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dengan mengubah pendidikan, kita sedang mengubah cara pandang manusia. Foto: Dokumentasi pribadi

Hari Pendidikan Nasional yang setiap tahun kita peringati sejatinya tidak hanya mengenang jasa pahlawan Ki Hajar Dewantara. Lebih dari itu, Hari Pendidikan Nasional merupakan momentum untuk kita mengevaluasi pendidikan yang sedang berlangsung di negeri kita tercinta Indonesia.

Saat ini, kita sedang dalam persimpangan jalan menuju Indonesia Emas 2045. Dalam persimpangan jalan ini, apakah pendidikan yang selama ini kita laksanakan sudah baik menjadi pendidikan yang unggul dan juga pendidikan yang menghasilkan para pemimpin-pemimpin yang siap bertanding dalam kerasnya dunia yang sedang bergejolak ini?

Krisis energi—yang dialami oleh hampir seluruh negara yang ada di dunia ini—membuat dunia pendidikan harus lebih maju dan memberikan inovasi agar kondisi seperti krisis energi dapat dilalui dengan baik dan tidak memengaruhi jalannya pendidikan di Indonesia.

Bukan hanya krisis energi, dunia pendidikan Indonesia selalu dihantui dengan adanya kasus perundungan yang tak henti-henti. Perundungan (bullying) merupakan kasus nomor satu yang ada di dunia pendidikan Indonesia.

Sebut saja beberapa murid yang melakukan perundungan terhadap temannya dengan mengolok-olok murid lainnya—bahkan ada sebagian murid yang berani memukul dan menendang temannya. Kasus tersebut tidak hanya kita temui di kota besar, di kota-kota kecil pun kasus perundungan dan kekerasan terhadap teman semakin marak.

Ilustrasi anak korban bullying. Foto: Shutterstock

Selain kasus perundungan murid dengan murid, kita temui juga beberapa kasus perundungan murid terhadap gurunya. Beberapa pekan yang lalu kita temui, di sekolah ada beberapa murid yang berani mengacungkan jari tengahnya kepada gurunya, serta memberikan perlakuan yang tidak senonoh kepada gurunya saat sang guru keluar dari kelas. Bukannya memberikan ucapan dan perilaku yang baik, beberapa murid malah berani melakukan hal tersebut.

Tujuan Pendidikan Nasional sejatinya adalah melahirkan generasi yang unggul dan memiliki kapabilitas, serta generasi yang inovatif dan bermartabat. Ungkapan itu bukan hanya tujuan yang hanya ditulis dalam lembaran-lembaran putih. Lebih dari itu, para pahlawan pendidikan menginginkan agar pendidikan benar-benar terwujud, sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang unggul dan inovatif.

Tentu saja, menggapai cita-cita itu harus penuh perjuangan, mulai dari karakter murid dan guru. Kurikulum juga harus menjadi pegangan agar tujuan yang mulia tersebut tercapai. Kasus-kasus perundungan yang selama ini terjadi di beberapa sekolah menjadi tidak ada. Pembelajaran yang berbasis karakter dan peningkatan kemampuan dalam inovasi energi terus dikembangkan, sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mandiri dan unggul.

Sekolah tidak hanya mencetak murid yang pandai dalam akademik. Sekolah selayaknya memberikan ruang terbuka untuk mengasah kompetensi murid agar keunggulan yang ada dalam diri murid tersebut terasah dan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, sehingga memberikan inovasi yang akan berguna bagi bangsa dan negara.

Dengan mengubah pendidikan, berarti kita sedang mengubah cara pandang manusia. Jika kita mulai memperlakukan murid sebagai subjek yang berdaya—bukan sekadar objek yang menerima perintah—jalan menuju Indonesia Emas 2045 akan terbentang luas. Mari jadikan Hari Pendidikan Nasional sebagai titik balik. Jangan biarkan api pendidikan padam karena ketidakpedulian kita. Bergeraklah, berdampaklah, dan mari kita rawat mimpi anak-anak Indonesia bersama-sama.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!