Konten dari Pengguna

Amankan Energi dalam Negeri, Presiden Prabowo Bertolak Ke Kremlin Dini Hari

Dr Eko Wahyuanto

Dr Eko Wahyuanto

Dosen dan Pengamat Kebijakan Publik

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr Eko Wahyuanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin, Moskow, Rusia, Senin (13/4/2026).
 Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin, Moskow, Rusia, Senin (13/4/2026). Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden

Jelang tengah malam, Presiden Prabowo Subianto bersama delegasi Indonesia bertolak ke Kremlin \ Rusia. Dalam kunjungan kenegaraan dengan misi mengamankan kedaulatan energi khususnya BBM, pupuk dan pangan.

Di tengah turbulensi internasional akibat perang Timur Tengah, pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden Vladimir Putin di Kremlin menjadi kebutuhan penting pertahanan ekonomi Indonesia.

Dalam kacamata kebijakan publik, dapat dibaca sebagai strategi intervensi dini untuk memitigasi ancaman krisis domestik.

​Minyak Murah dan Stabilitas Domestik

​Target utamanya pengamanan pasokan minyak mentah dan produk migas. Mengapa harus Rusia? Sanksi barat dan pergeseran rantai pasok BBM, memposisikan Rusia pemegang kunci suplai hidrokarbon dunia dengan harga kompetitif.

Bagi negara dengan positioning netral seperti Indonesia, ruang negosiasi itu sangat cair dan terbuka. Bahkan bisa jadi mendapat harga lebih murah.

​Presiden Prabowo mengamankan minyak dengan harga murah dan stabil, sebagai kunci utama menjaga inflasi.

Setiap kenaikan harga BBM selalu muncul efek domino pada pasar dan daya beli. Dengan "jemput bola" langsung ke Moskow, Presiden mengokohkan stabilitas domestik. menjaga agar defisit APBN tidak jebol.

Perlu diketahui, anggarani untuk menambal subsidi energi BBM terus membengkak, maka harus dicegah. Agar dana dapat dimanfaatkan untuk sektor lain, seperti pendidikan dan kesehatan. Karena itu ketergantungan fluktuasi pasar spot harus dipotong.

​Transaksi Jangka Panjang

​Jual-beli BBM di Kremlin bukan dalam transaksi jangka pendek. Indonesia dimungkinkan membuat peta jalan menuju kemandirian energi lebih permanen, melalui dukungan Rusia.

Karena itu tidak berlebihan jika dalam kunjungan kali ini presiden menawarkan hilirisasi, sebagai bagian dari kerja sama. Selain tentu saja transfer teknologi nuklir untuk kepentingan damai melalui Rosatom.

Mengingat “nuklirisasi” juga menjadi bagian penting dan tidak bisa diabaikan, maka kedaulatan energi yang ditopang dengan diversifikasi sumber daya dan teknologi, akan memiliki daya gedor kuat menuju Indonesia maju.

Keterlibatan Rusia memiliki kekuatan dalam proyek seperti itu. Termasuk pembangunan kilang minyak dan eksplorasi energi baru terbarukan. Dalam hal ini

Indonesia memiliki posisi tawar kuat. Inilah cara presiden mengamankan stabilitas dalam negeri, tidak hanyut dalam polarisasi politik internasional, tetapi bekerja keras memastikan masa depan ekonomi nasional memiliki pondasi energi kokoh.

Jika Indonesia gagal merebut peluang ini, mimpi menjadi kekuatan ekonomi kelima dunia tahun 2045, jauh panggang dari api.

​Diplomasi Tengah Malam

​Keberangkatan Presiden jelang tengah malam mengirim sinyal simbolis pentingnya terus menjaga nasionalisme tanpa mengenal waktu.

Sebuah cermin kepemimpinan adaptif dan responsif. Presiden memahami di tengah kecamuk Timur Tengah dan Eropa Timur, peluang mengamankan kepentingan nasional selalu terbuka.

​Tentu bukan semata urusan dagang, tapi sekaligus Presiden menunjukkan bagaimana buah diplomasi bebas aktif ketika menghadapi situasi paling buruk sekalipun. Bebas bergerak ke segala penjuru, dan leluasa memainkan diplomasi untuk kepentingan nasional. Bukan ditakar oleh formalitas atau kepantasan dukungan sebagai sebuah bangsa berdaulat.

Di mata dunia, kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia mempertegas posisi Indonesia sebagai negara dengan politik bebas aktif, dan peran sebagai penengah di tengah polarisasi kekuatan besar.

Sekaligus pesan kuat tentang pentingnya diplomasi multilateral untuk menjaga stabilitas rantai pasok energi dan ketahanan pangan. Meski tatanan global sedang terganggu.

Bagi rakyat Indonesia, bermakna pada penguatan kedaulatan ekonomi. Kerja sama teknologi dan investasi juga diharapkan mampu mempercepat hilirisasi industri nasional serta menjamin ketersediaan energi.

Secara simbolis membuktikan pilihan politik luar negeri tepat bagi kepentingan nyata.

Strategi Jitu

Kunjungan ke Rusia cermin dari doktrin pertahanan ekonomi mandiri. Dengan menggunakan jalur suplai Jakarta-Kremlin baik minyak maupun pupuk maupun gandum maka sesungguhnya presiden Prabowo sedang memperkuat ekonomi domestik sambil memitigasi risiko bagaimana dampak permainan ekonomi dunia oleh kekuatan-kekuatan besar.

Rusia, sebagai salah satu produsen pupuk terbesar, menjadi kunci peningkatan produktivitas pertanian kita. Tanpa pupuk terjangkau, swasembada pangan yang sudah diciptakan oleh pemerintahan Presiden Prabowo bisa turun.

Karena itu, diplomasi Kremlin menjadi langkah hulu sangat penting untuk menyelesaikan masalah di hilir. Solusi cerdas memastikan bahwa stabilitas nasional tidak goyah oleh tekanan eksternal.

Pentingnya Dukungan Publik

Langkah berani seperti ini bukan tanpa tanpa tantangan. Tekanan diplomatik blok Barat dan kendala sistem pembayaran internasional akibat sanksi ke Rusia, sebuah realitas harus dihadapi.

Penggunaan mata uang lokal (Local Currency Settlement) dan sistem alternatif lain, menjadi PR yang segera difinalisasi.

Diperlukan dukungan publik, terutama soal kesadaran dan pemahaman bahwa setiap liter bensin atau BBM dan setiap “piring nasi” yang mereka konsumsi, memiliki keterkaitan dengan kunjungan kerja semacam ini.

Dibutuhkan konsensus nasional sebagai modal sosial bagi Presiden bertindak tegas dan mengambil kebijakan publik yang tepat demi kesejahteraan rakyat. Negara tidak boleh ragu mengambil keputusan, jika itu menyangkut kelangsungan hidup bangsa.

Kunjungan ke Rusia bukti bahwa Indonesia pemain utama dalam geopolitik kesejahteraan, dengan pertimbangan kepentingan rakyat di atas segalanya.

Kunjungan ini akan dicatat sebagai momentum krusial sejarah diplomasi ekonomi nasional. Presiden Prabowo tidak memilih Timur atau Barat, tetapi memilih agar industri tidak mati suri dan agar rakyat tidak terpukul dengan krisis yang makin tak terkendali.

Keberanian mengambil keputusan sulit di tengah kegentingan untuk menjaga energi dan pangan menjadi fondasi negara. Kremlin hanyalah salah satu titik koordinat, tetapi manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh rakyat.