Konten dari Pengguna

BoP: Strategi Hadapi Gaya Transaksional Trump

Dr Eko Wahyuanto

Dr Eko Wahyuanto

Dosen dan Pengamat Kebijakan Publik

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr Eko Wahyuanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Presiden AS Donald Trump berbicara selama World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/2026). Foto: Denis Balibouse/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden AS Donald Trump berbicara selama World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/2026). Foto: Denis Balibouse/REUTERS

​Keberangkatan Presiden Prabowo Subianto ke Amerika Serikat mengemban misi diplomatik tingkat tinggi, untuk mengunci kepentingan nasional di tengah dinamika global berubah cepat.

Kini semua fokus tertuju pada Gedung Putih, di mana Presiden Prabowo akan melakukan negosiasi tidak mudah. Mengingat presiden Donald Trump, dikenal dengan gaya transaksional.

Apa pun, ini momentum strategis bagi Indonesia menginisiasi relasi setara dan saling menguntungkan, di tengah ketegangan global makin memanas.

Ingat, pertemuan penandatangan tarif bersamaan dengan berlangsungnya Board Of Peace (BoP) ini diselenggarakan bersamaan dengan protes keras Eropa ke presiden Trump. Sekutu Eropa menuding Trump merusak tatanan dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

​National Interest First

Indonesia tidak boleh terjebak dalam pembicaraan seremonial tanpa makna. Strategi negosiasi sudah dimatangkan Presiden Prabowo bersama para menteri kunci. Sebelumnya presiden juga mengundang berbagai elemen bangsa mulai Nahdlatul Ulama-NU, Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia-MUI, para oposisi dan mantan menteri luar negeri.

Tujuannya membangun landasan pacu mitigasi, guna merespons segala risiko geopolitik yang mungkin muncul saat pertemuan BoP digelar. Semua celah distorsi dikunci dengan target diplomasi untuk satu tujuan utama: menegakkan kedaulatan ekonomi nasional secara terukur.

​Publik percaya, Presiden Prabowo paham karakter lawan bicaranya. Gaya dialektika Trump tidak suka retorika dan basa-basi. Lugas menekankan tujuan, dalam hal ini soal neraca perdagangan dan komitmen investasi nyata. Konstruksi hubungan internasional di mata Trump sebuah kalkulasi untung-rugi atau zero-sum game.

Karakter ini dapat dilihat sebagai peluang, bukan ancaman. Syaratnya, Indonesia mempunyai tawaran memikat dan membuat Trump merasa "menang" tanpa sedikit pun Indonesia kehilangan martabat dan kedaulatan.

Dengan tidak mengandalkan diplomasi normatif, melainkan melalui penguatan strategi diserap dari berbagai energi bangsa, termasuk gagasan para tokoh agama dan oposisi serta mantan Menlu yang  diundang ke istana belum lama berselang.

Sebuah upaya nyata guna mematangkan prinsip "National Interest First". Bahwa kepentingan nasional menjadi panglima dalam setiap kesepakatan yang dibicarakan.

Rekonsiliasi Neraca Perdagangan

Strategi dirancang sejajar dengan posisi dan kepentingan AS. Tujuannya menciptakan titik temu keuntungan secara timbal balik. Presiden Prabowo dapat menunjukkan bahwa Indonesia adalah mitra strategis Amerika, dengan tetap berpegang teguh pada harga diri bangsa. Namun terbuka dalam kerja sama  saling menguntungkan secara profesional.

Gagasan tersebut nampak dalam berbagai pernyataan presiden selama ini, sebagai pilar perundingan sangat teknis dan taktis. Salah satunya adalah soal Rekonsiliasi Neraca Perdagangan (Trade Balancing), poin sensitif Trump mengenai defisit perdagangan AS terhadap mitra globalnya.

Dalam konteks ini, skema Counter-Purchase atau Imbal Dagang dapat menjadi komitmen meningkatkan impor produk strategis dari AS, mulai dari pesawat Boeing untuk penguatan alutsista dan transportasi sipil, hingga produk energi LNG serta kedelai.

Sebuah strategi dengan cermin ganda, yakni mengurangi kekhawatiran Trump terhadap surplus perdagangan Indonesia sekaligus mengamankan Indonesia dari ancaman tarif impor (Section 232). “Senjata negosiasi Trump yang kerap membuat ciut banyak negara.”

​Hilirisasi dan Rantai Pasok Global

Seperti sering ditegaskan Presiden Prabowo, Indonesia akan memposisikan diri sebagai “pemain” kunci dalam transisi energi AS. Misinya: Indonesia membantu AS memutus ketergantungan pada dominasi pihak lain di sektor mineral kritis. Dalam waktu bersamaan Indonesia menawarkan kerja sama investasi pemurnian nikel dan tembaga dengan standar lingkungan dapat diterima pasar.

Dengan mendorong kesepakatan terbatas atau Limited Free Trade Agreement untuk mineral kritis agar produk Indonesia mendapatkan insentif di bawah Inflation Reduction Act (IRA) milik AS, merupakan jurus taktis. Selain menawarkan "alternatif aman" bagi rantai pasok industri otomotif listrik AS di Asia Tenggara.

Jika AS ingin mandiri secara manufaktur, maka pilihannya ada di Jakarta. Indonesia memiliki sumber daya, AS mempunyai teknologinya.

“Sebuah simbiosis mutualisme yang kemungkinan sulit ditolak Trump, jika Amerika tetap ingin unggul dalam industri.”

Isu Ketahanan Pangan dan Energi Juga Sangat Strategis

Prinsip kemandirian bangsa sebagai harga mati, namun dicapai lebih cepat lewat kemitraan teknologi dengan raksasa Amerika  seperti ExxonMobil atau Chevron.

Indonesia butuh produksi minyak naik, Amerika mempunyai teknologinya.

Sektor pangan pun krusial; Presiden Prabowo dapat mengajak korporasi agrikultur AS masuk ke proyek I. Fokusnya bukan sekadar menanam, tetapi transfer teknologi benih dan mekanisasi modern.

Indonesia ingin mandiri, bukan sekadar menjadi pasar, melainkan kuat dari sisi pendanaan dan investasi, di mana AS dapat masuk lewat ekuitas dan kemitraan pemerintah-swasta (PPP) melalui Danantara dan INA, bukan lewat skema utang agar tidak jadi beban masa depan.

Ekonomi dan Geopolitik

​Narasi modern, seperti membangun kawasan Smart and Green City di IKN didukung teknologi AS, atau dalam tatanan Geopolitik, posisi Indonesia sebagai kekuatan penengah di Indo-Pasifik.

Belum lagi soal posisi non-blok secara stabilitas kawasan tetap terjaga, bisa jadi garansi kemitraan strategis. Bahwa Indonesia bukan ancaman, melainkan pasar besar dengan 280 juta penduduk. Aset bagi stabilitas ekonomi global mereka sendiri. Semua narasi seperti itu menarik bagi Trump.

​Publik berharap Presiden Prabowo bukan hanya seorang jenderal lapangan, tetapi juga jenderal di atas meja perundingan. Lugas, tajam, dan memegang teguh nasionalisme.

Pekan ini dunia akan melihat bagaimana “kepak sayap" Garuda bernegosiasi secara bermartabat dengan Eagle untuk masa depan ekonomi lebih cerah.