Konten dari Pengguna

Kenapa Generasi Z Memilih Gaya Hidup Digital Nomad?

Eky Ayu Veriska

Eky Ayu Veriska

Penulis lepas di bidang teknologi, gaya hidup, dan inovasi lingkungan. Mahasiswa Data Science, Telkom University.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eky Ayu Veriska tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi digital nomad.                                                                                      kredit foto : istock.
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi digital nomad. kredit foto : istock.

Di era digital yang semakin maju, berbagai aktivitas kini dapat dilakukan dengan lebih mudah dan efisien. Generasi Z, yang besar di tengah pesatnya perkembangan teknologi, tidak hanya piawai memanfaatkannya, tetapi juga menjadikan teknologi sebagai elemen kunci dalam kehidupan mereka.

Generasi yang lahir antara 1996 hingga 2012 ini memiliki kecenderungan untuk mengutamakan fleksibilitas, termasuk dalam pekerjaan. Bagi mereka, efisiensi adalah prioritas utama, sehingga mereka cenderung memilih cara-cara yang cepat, praktis, dan selaras dengan gaya hidup modern yang serba dinamis. Mengapa harus terikat pada meja kerja jika rapat bisa dilakukan dari pantai, atau laporan bisa selesai di kafe favorit? Di sinilah digital nomadisme muncul sebagai jawaban. Gaya hidup ini menawarkan kebebasan bekerja dari mana saja, sejalan dengan semangat fleksibilitas dan efisiensi yang mereka anut.

Tapi, apa sebenarnya yang membuat digital nomadisme begitu menggoda bagi Generasi Z? Mari kita telusuri lebih dalam.

  1. Fleksibel Sebagai Prioritas Utama

    Bagi Gen Z, kebebasan dalam menentukan waktu dan tempat kerja bukan sekadar keinginan, melainkan kebutuhan. Mereka ingin bekerja dari mana saja, kapan saja, asal tetap produktif. Tak heran jika mereka memilih bekerja dari kafe, coworking space, bahkan dari hostel di kota asing yang baru mereka kunjungi semalam. Dengan ritme kerja yang bisa disesuaikan, mereka merasa punya kendali atas hidup mereka, bukan sekadar jadi roda gigi dalam mesin perusahaan.

    Menariknya, tren global menunjukkan bahwa sekitar 70% digital nomad hanya bekerja kurang dari 40 jam per minggu. Artinya, gaya hidup ini bukan cuma soal berpindah tempat, tapi juga soal membangun keseimbangan hidup yang lebih sehat—di mana pekerjaan tetap berjalan, tanpa harus mengorbankan waktu untuk diri sendiri.

  2. Dunia Digital Sudah Jadi Rumah Kedua

    Tumbuh bersama internet membuat Gen Z sangat akrab dengan teknologi. Sejak kecil mereka sudah terbiasa berinteraksi lewat dunia maya, jadi nggak heran kalau cuma dengan laptop dan koneksi Wi-Fi, pantai, gunung, atau sudut kecil kafe bisa langsung disulap jadi kantor pribadi. Mengandalkan Zoom buat rapat, Notion buat catatan, atau AI tools buat mempercepat kerjaan sudah jadi bagian dari rutinitas mereka.

    Alih-alih terjebak dalam pola kerja 9 to 5 yang kaku, Gen Z lebih memilih ritme kerja yang fleksibel dan personal. Mereka percaya kerja itu soal hasil, bukan soal berapa lama duduk di depan meja. Buat mereka, remote working bukan cuma pilihan alternatif, tapi sudah jadi ritme hidup yang paling cocok.

  3. Pengalaman Lebih Berharga daripada Jabatan

    Bagi banyak Gen Z, hidup bukan hanya soal mengejar jabatan atau gaji besar, melainkan tentang mengumpulkan pengalaman yang berarti. Mereka lebih menghargai perjalanan hidup—bertemu orang baru, menjelajah budaya asing, atau menemukan tempat baru untuk bekerja. Digital nomadisme memungkinkan mereka untuk bekerja sambil menjelajah dunia, bukan hanya mengejar target dan angka di kantor. Pengalaman hidup dan cerita-cerita perjalanan lebih berharga dibandingkan deretan gelar dan prestasi di atas kertas. Bagi Gen Z, pencapaian materi mungkin penting, tetapi pengalaman yang didapat selama perjalanan jauh lebih bernilai.

  4. Gaji Global, Biaya Lokal

    Bekerja untuk perusahaan luar negeri sambil tinggal di negara dengan biaya hidup lebih rendah menjadi salah satu strategi finansial yang populer di kalangan Gen Z. Dengan gaji yang dibayar dalam mata uang yang kuat seperti dolar atau euro, sementara pengeluaran mereka di negara dengan biaya hidup lebih murah, mereka bisa hidup lebih nyaman, menabung lebih banyak, dan bahkan berinvestasi untuk masa depan. Pola hidup ini memungkinkan mereka untuk mengatur keuangan dengan lebih baik dan memanfaatkan "value for money" secara optimal.

  5. Mental Health sebagai Fondasi Hidup

    Selain kebebasan finansial, digital nomadisme memberikan kesempatan bagi Gen Z untuk menjaga kesehatan mental mereka. Dengan tidak terikat pada rutinitas kerja yang stresful atau lingkungan kantor yang kadang membebani, mereka bisa lebih bebas dalam memilih waktu istirahat dan liburan. Fleksibilitas ini memungkinkan mereka untuk mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup. Terlepas dari pekerjaan, mereka juga dapat lebih banyak menikmati waktu pribadi untuk refleksi diri, berolahraga, atau melakukan hal-hal yang mereka nikmati, sehingga menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang lebih sehat.

Pada akhirnya, pilihan Generasi Z untuk menjalani gaya hidup digital nomad bukan sekadar mengejar kebebasan atau mengikuti tren. Ini adalah cara mereka menjalani hidup yang lebih bermakna, lebih fleksibel, dan lebih produktif, sambil menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Data dari Nomad List dan MBO Partners menunjukkan bahwa lebih dari 35% pekerja digital nomad di seluruh dunia melaporkan bahwa gaya hidup ini memberi mereka kebebasan finansial dan pribadi yang lebih besar, serta hampir 60% merasa lebih bahagia dan lebih sehat secara mental dan fisik dibandingkan dengan pekerjaan tradisional.

Di Indonesia, peluang untuk menjadi digital nomad semakin terbuka lebar. Kota-kota seperti Bali, Yogyakarta, dan Bandung kini dikenal sebagai destinasi ideal bagi digital nomad, dengan biaya hidup yang terjangkau, akses internet cepat, dan komunitas yang berkembang pesat. Jika Anda merasa terjebak dalam rutinitas kerja yang monoton, mungkin saatnya untuk mempertimbangkan gaya hidup digital nomad. Indonesia menawarkan lingkungan yang sempurna untuk menjalani kehidupan yang lebih bebas dan memuaskan, sekaligus produktif.

Jadi, mulailah mengeksplorasi dunia dengan tetap bekerja dan menikmati pengalaman hidup yang lebih bermakna.

Sumber:

MBO Partners. (2022). The State of Independence in America: 2022. MBO Partners. Diakses dari https://www.mbopartners.com

Nomad List. (2023). Global Digital Nomad Statistics and Rankings. Diakses dari https://www.nomadlist.com

Body Factory Property. (2024). The New Epicenter for Tourism and Digital Nomads in 2024. Diakses dari https://bodyfactoryproperty.com

Fragomen. (2024). The Rise of Indonesia’s Remote Worker Visa: Considerations for Digital Nomads. Diakses dari https://www.fragomen.com