Konten dari Pengguna

Bahaya Sains Tanpa Nilai: Mengapa Teknologi Butuh Etika Islam dan Filsafat?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi teknologi. Foto:Jakub/pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi teknologi. Foto:Jakub/pexels.

Kita tengah hidup di era yang sangat diagungkan oleh angka, kecepatan komputasi, dan efisiensi mekanis. Dalam hitungan detik, algoritma kecerdasan buatan mampu merangkai kode pemrograman, memprediksi struktur protein, hingga menghasilkan sintesis visual yang memukau mata.

Namun, di balik lompatan teknologi yang begitu memukau tersebut, ada kegelisahan eksistensial yang diam-diam menjalar ke seluruh dunia. Dari ruang laboratorium hingga meja pembuat kebijakan, muncul pertanyaan mendasar yang belum terjawab, yakni ke mana arah peradaban ini hendak bermuara jika kemajuan sains berjalan tanpa kendali moral dan kesadaran spiritual?

Sains modern, sejak melepaskan diri dari rahim metafisika pada abad pencerahan Eropa, kerap memosisikan diri sebagai entitas yang netral nilai. Realitas dunia direduksi menjadi sekadar partikel materi, kalkulasi matematis, dan transaksi fungsional belaka.

Ketika sains dipisahkan secara paksa dari panduan etika ketuhanan dan perenungan kritis filsafat, hasilnya bukan melulu emansipasi manusia, melainkan potensi kehancuran massal. Kita melihat bagaimana kemajuan bioteknologi kini berkejaran dengan ancaman modifikasi genetik yang tak etis.

Otomatisasi sistem senjata otonom yang mencabut nurani dari peperangan hingga eksploitasi alam liar secara brutal demi menyokong ambisi industri. Sains yang melaju tanpa rem etis pada akhirnya menjadi instrumen kering yang meminggirkan nilai kemanusiaan itu sendiri.

Sinergi Trinitas: Sains, Filsafat, dan Agama

Dalam khazanah intelektual, manusia dianugerahi perangkat akal dan nurani untuk menembus misteri alam semesta. Melalui akal budi ini, lahir tiga instrumen agung yang semestinya berjalan seiring dalam mencari kebenaran hakiki, yaitu sains, filsafat, dan agama. Ketiganya memiliki pendekatan metodologis yang berbeda, namun hakikat tujuannya saling melengkapi.

Sains bekerja melalui metode observasi, eksperimen laboratorium, dan pembuktian empiris untuk menjawab pertanyaan teknis tentang bagaimana (how) alam semesta ini bergerak. Namun, sains memiliki keterbatasan ontologis. Ia tak mampu menjawab pertanyaan metafisik mengenai mengapa (why) kehidupan ini ada dan untuk apa teknologi diciptakan.

Di sinilah filsafat mengambil perannya. Filsafat membedah asumsi-asumsi dasar, menguji konsistensi penalaran logis, serta menelusuri implikasi aksiologis dari setiap penemuan manusia.

Melalui filsafat, ilmuwan diajak berhenti sejenak untuk berefleksi. Apakah inovasi yang kita buat membawa kemaslahatan bersama ataukah sekadar melayani ketamakan korporasi global?

Sementara itu, agama—khususnya Islam—hadir membawa kompas nilai dan arah moral yang berakar pada wahyu transendental. Islam memandang seluruh cakrawala alam raya sebagai ayat yang memancarkan tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta. Agama tidak menghalangi riset, melainkan memberikan batas etis dan kerangka tanggung jawab.

Filsuf agung al-Farabi pernah menegaskan bahwa muara tertinggi dari filsafat dan agama adalah satu, yakni mengantarkan manusia pada kebahagiaan sejati (as-sa‘ādah), bukan kehancuran atau alienasi diri.

Jika sains membuktikan fakta, filsafat mengasah nalar kritis, dan agama membimbing kesucian tujuan, maka ketiganya membentuk simfoni peradaban yang utuh dan berkeadaban.

Ketika Wahyu Menggerakkan Laboratorium

Anggapan bahwa religiusitas adalah penghambat kemajuan sains runtuh seketika saat kita menengok sejarah peradaban Islam klasik. Pada era keemasan Daulah Abbasiyah di bawah naungan Khalifah Harun al-Rasyid, Baghdad menjelma menjadi episentrum ilmu pengetahuan dunia dengan berdirinya Bait al-Hikmah pada abad ke-8 Masehi.

Selain dikenal memiliki perpustakaan raksasa, Baghdad juga tersohor dengan para filsuf, dokter, astronom, dan penerjemah lintas iman serta bangsa.

Para cendekiawan Muslim saat itu tidak memusuhi warisan ilmiah dari Yunani, Persia, India, maupun Tiongkok. Mereka menerjemahkan, mengkritisi, lalu menyempurnakannya secara mandiri.

Spirit pencarian ilmiah tersebut berakar langsung dari wahyu Al-Qur'an surat al-‘Alaq ayat 1 yang memerintahkan manusia untuk membaca dan meneliti dengan menyebut asma Tuhan Sang Pencipta. Bagi sarjana klasik, meneliti alam merupakan manifestasi ketundukan spritual yang tidak dapat dipisahkan dari ibadah.

Tengoklah jejak Abu Bakar ar-Razi pada abad ke-8. Sebagai peletak dasar kimia modern dan pelopor klasifikasi ilmiah mineral serta zat organik. Ia menolak takhayul alkimia kuno yang mengeklaim bisa menyulap logam murah menjadi emas murni. Ia menggantinya dengan eksperimentasi nyata di laboratorium, menemukan teknik distilasi dan kristalisasi yang terus dipakai umat manusia hingga abad ini.

Begitu pula al-Hasan Ibnu al-Haitsam pada abad ke-10 yang merombak pemahaman keliru optik kuno dengan membuktikan bahwa cahaya merambat dari objek menuju mata. Temuannya mendahului prinsip tindakan terkecil dalam fisika modern.

Apa yang membuat karya mereka abadi melintasi zaman? Mereka tidak hanya menguasai sains murni, tetapi juga berakar pada pemahaman filsafat yang matang dan etika ketuhanan yang kokoh. Di tangan mereka, riset ilmiah tidak mencabut manusia dari keimanan, melainkan kian mendekatkan jiwa pada Sang Khaliq.

Mengembalikan Roh Kemanusiaan pada Teknologi Modern

Kondisi peradaban kontemporer menuntut kita untuk merekonstruksi kembali harmonisasi tersebut. Kemajuan ilmu pengetahuan yang tercerabut dari panduan etis terbukti membawa malapetaka.

Krisis ekologi global, perubahan iklim, perusakan habitat, hingga alienasi manusia di tengah rimba data. Kita membutuhkan sains yang memiliki kepekaan rasa dan tanggung jawab sosial.

Integrasi antara Islam dan filsafat menawarkan paradigma solutif. Dari kacamata filsafat, ilmuwan masa kini dituntut mengadopsi nalar kritis agar tidak terjebak dalam pragmatisme pasar yang memuja kecepatan tanpa memikirkan keberlanjutan.

Dari kacamata nilai Islam, sains dipandu oleh prinsip Maqāṣid asy-Syarī‘ah—yakni menjaga keselamatan jiwa (ḥifz an-nafs), melindungi keturunan (ḥifz an-nasl), menjaga akal (ḥifz al-‘aql), dan melestarikan alam lingkungan.

Teknologi modern seperti kecerdasan buatan, rekayasa biomedis, dan eksplorasi energi terbarukan harus diarahkan untuk memuliakan martabat manusia. Bukan mereduksinya menjadi sekadar komoditas.

Kehebatan sebuah bangsa tidak lagi diukur semata-mata dari seberapa canggih pabrik dan mesin komputasi yang dimilikinya, melainkan seberapa adil dan bijak teknologi tersebut digunakan demi kemaslahatan seluruh makhluk di muka bumi.

Masa depan ilmu pengetahuan tidak boleh dibiarkan bergerak dalam kehampaan nilai. Sains membutuhkan ketajaman logika filsafat untuk menjaga kewarasan metodologinya, dan memerlukan kehangatan bimbingan moral agama untuk memastikan arah langkahnya.

Menghidupkan kembali dialog antara wahyu, akal filosofis, dan penyelidikan ilmiah adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan peradaban modern dari kekeringan spiritual dan jurang kehancuran.