Konten dari Pengguna

Benarkah Adam Punya Ibu? Menakar Klaim Viral Tafsir 'Stem Cell' di Medsos

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi stem cell. Foto: Edward Junner/pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi stem cell. Foto: Edward Junner/pexels.

Media sosial belakangan ini kembali dihangatkan oleh diskursus keagamaan yang memancing perdebatan sengit. Di jagat YouTube, potongan ceramah KH. Nur Ihya' lewat kanalnya mendadak menyedot atensi publik karena melontarkan tesis yang mendobrak kemapanan teologis.

Nabi Adam as diklaim bukanlah manusia pertama yang diciptakan langsung dari tanah, melainkan lahir melalui rahim seorang ibu. Tak berhenti di situ, istilah biologi mutakhir seperti stem cell (sel induk) turut disematkan ke dalam pembacaan ayat suci Al-Qur'an.

Bagi warganet yang haus akan narasi integrasi antara agama dan sains modern, penjelasan semacam ini tentu terdengar memukau.

Kedengarannya begitu progresif, rasional, dan "masuk akal" di era laboratorium modern. Narasi ini seolah menyuguhkan jawaban cerdas untuk mendamaikan narasi penciptaan manusia dengan hukum biologi konvensional.

Namun, apakah keberanian menghubungkan teks suci dengan istilah medis ini berdiri di atas fondasi metodologi tafsir yang kukuh? Ataukah ia sekadar bentuk cocoklogi saintifik yang justru merusak logika internal bahasa dan pesan Al-Qur'an?

Cacat Semantik Frasa 'Nafs Wāḥidah'

Pintu masuk dari bangunan tafsir KH. Nur Ihya' berakar pada reinterpretasinya terhadap Surat An-Nisa' ayat 1. Firman Allah yang berbunyi khalaqakum min nafsin wāḥidah (Allah yang menciptakan kamu dari diri yang satu) tidak dipahami sebagai sosok personal Nabi Adam, sebagaimana konsensus mayoritas ulama.

Ia justru menarik frasa tersebut ke ranah biologi molekuler, yakni sebagai sumber kehidupan universal berupa stem cell yang mampu berkembang biak dan berdiferensiasi menjadi beragam jaringan tubuh manusia.

Gagasan ini sekilas tampak canggih, namun rapuh secara leksikal dan linguistik. Dalam khazanah leksikografi bahasa Arab, kamus otoritatif seperti Lisān al-‘Arab karya Ibn Manẓūr dan Al-Munjid menegaskan bahwa kata nafs berakar pada makna jiwa, roh, nyawa, esensi personal, atau totalitas manusia itu sendiri.

Sepanjang Al-Qur'an diturunkan, kata nafs beserta derivasinya terulang sebanyak 295 kali dalam 63 surah berbeda. Tak satu pun di antaranya merujuk pada materi mikroskopis seperti sel atau organ reproduksi.

Kata nafs selalu berkelindan dengan dimensi eksistensial, moral, dan spiritual manusia. Menyeret kata nafs menjadi sel induk di laboratorium adalah lompatan semantik tanpa landasan kaidah bahasa yang sah.

Kelemahan ini semakin nyata bila kita menilik konteks ayat (siyāq al-āyah). Sebagaimana diuraikan para mufasir klasik seperti al-Ṭabarī, al-Qurṭubī, hingga pakar tafsir modern M. Quraish Shihab, Surat An-Nisa' ayat 1 dibuka dengan seruan universal yā ayyuhan-nās (wahai sekalian manusia).

Ayat ini diposisikan sebagai fondasi etika sosial dan hukum keluarga. Tujuannya mengingatkan umat manusia bahwa mereka berasal dari satu garis keturunan genealogis yang sama—yakni Adam dan Hawa—agar lahir kesadaran untuk saling menghormati, menyambung silaturahmi, serta melindungi hak-hak kelompok rentan seperti perempuan dan anak yatim. Ayat ini sama sekali tidak menyajikan petunjuk praktis mengenai biologi reproduksi atau diferensiasi sel tubuh.

Meraba Kerancuan Analogi Adam dan Nabi Isa

Klaim berikutnya yang tak kalah menghebohkan adalah anggapan bahwa Nabi Adam dilahirkan melalui rahim seorang ibu. Landasan yang dipakai adalah Surat Ali 'Imran ayat 59:

"Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berfirman kepadanya: 'Jadilah', maka jadilah ia."

Logika yang dibangun: karena Nabi Isa lahir dari rahim Maryam tanpa sosok ayah, dan penciptaan Adam diibaratkan seperti Isa, maka Adam mestilah lahir melalui proses reproduksi yang serupa, yakni melalui rahim seorang ibu.

Penarikan kesimpulan ini jelas membalik struktur argumentasi ayat tersebut. Imam al-Qurṭubī dan Ibnu Katsir mengurai secara gamblang bahwa Surat Ali 'Imran ayat 59 turun dalam konteks dialog teologis untuk membantah delegasi Kristen Najran yang menuhankan Nabi Isa karena ia lahir tanpa ayah.

Al-Qur'an mematahkan anggapan tersebut dengan menghadirkan perumpamaan Nabi Adam. Logikanya sangat lugas. Jika ketiadaan ayah biologis dijadikan dalih untuk menuhankan Isa, maka Nabi Adam jauh lebih pantas dituhankan karena ia diciptakan langsung dari tanah (turāb) tanpa perantara ayah dan tanpa rahim ibu.

Jika Nabi Adam dipaksakan lahir dari rahim seorang wanita purba, maka daya tawar argumentasi Al-Qur'an dalam membantah kaum Nasrani Najran menjadi tumpul seketika.

Kesamaan antara Adam dan Isa terletak pada kemahakuasaan Allah menciptakan manusia di luar kelaziman biologis (amr ilāhī), bukan pada kesamaan mekanisme medis kelahiran keduanya.

Selain itu, kesimpulan bahwa Adam punya ibu menabrak deskripsi tekstual Al-Qur'an yang sangat eksplisit dalam Surat Al-Hijr ayat 26–29.

Al-Qur'an melukiskan fase penciptaan Adam secara bertahap dari tanah liat kering (ṣolṣol) yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk (hama'in masnūn), lalu disempurnakan fisiknya, dan ditiupkan roh Ilahi ke dalamnya hingga para malaikat diperintahkan bersujud.

Mufasir saintifik kenamaan asal Mesir, Syaikh Tantawi Jawhari dalam Al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, menegaskan bahwa istilah-istilah material tersebut menjelaskan fase pembentukan langsung materi fisik Adam oleh Sang Pencipta, bukan simbolisasi janin yang meringkuk di dalam rahim seorang ibu biologis.

Menghargai Ijtihad Tanpa Merusak Otoritas Teks

Upaya membaca kitab suci dengan kacamata ilmu pengetahuan modern tentu patut diapresiasi sebagai ikhtiar intelektual yang dinamis. Islam tidak pernah memusuhi biologi, genetika, maupun ilmu fa'al tubuh manusia.

Akan tetapi, semangat integrasi tidak boleh kebablasan hingga menumbalkan kaidah dasar metodologi tafsir.

Menafsirkan Al-Qur'an bukan sekadar mencari kecocokan bunyi kata dengan istilah sains terkini di internet. Ia menuntut disiplin semantik, ketelitian konteks, dan koherensi antarayat yang utuh.

Mengeklaim Nabi Adam dilahirkan oleh seorang ibu demi mengejar kesan "ilmiah" justru mengabaikan keunikan mukjizat penciptaan manusia pertama yang ditegaskan kitab suci.

Sebagai audiens di ruang digital, kita perlu lebih matang dan kritis dalam menyaring wacana. Tidak semua yang terdengar saintifik di media sosial serta-merta sahih di hadapan meja kajian tafsir!