Bukan Sekadar Hafal Matan: Tiga Tangga Memahami Kebenaran Hakiki
Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah pertunjukan kesalehan yang ganjil kini merayap di layar gawai kita setiap hari. Ada orang-orang yang begitu mahir mengutip potongan lafaz matan kitab klasik. Mereka sangat fasih menyebut sanad riwayat yang panjang. Nada bicaranya garang saat menyalahkan pandangan orang lain di kolom komentar media sosial.
Namun, pada detik berikutnya, pemandangan kontras justru tersaji nyata. Jari yang sama dengan enteng menyebarkan ujaran kebencian. Mereka kerap menipu publik lewat dalih donasi umat yang fiktif. Tidak sedikit pula yang tertipu mentah-mentah oleh kabar burung bernuansa klenik. Fenomena tragis ini bukan sekadar anomali sesaat.
Mengapa orang yang tampak berilmu secara tekstual justru kehilangan akal sehat dan kepekaan nurani secara bersamaan? Jawabannya teramat terang. Kita sedang terjangkit wabah keberagamaan yang timpang.
Pencarian kebenaran direduksi hanya sebatas kemampuan menghafal bunyi kata. Kita lupa menapaki tangga pemahaman yang lebih tinggi dan utuh.
Dalam diskursus epistemologi Islam kontemporer, Mohammad Abed al-Jabiri merumuskan peta berpikir yang jernih. Bangunan pemikiran Islam sejatinya ditopang oleh tiga pilar utama: bayani, burhani, dan ‘irfani. Ketiganya tidak harus saling menjatuhkan, melainkan menjadi anak tangga pencarian kebenaran yang saling melengkapi.
Tangga pertama adalah nalar bayani. Ini adalah ranah tekstual yang bertumpu pada otoritas nash suci, yakni Al-Qur'an dan Sunnah, serta instrumen gramatika bahasa Arab. Pendekatan bayani menjadi pijakan awal yang kokoh. Ia menjaga agar ajaran agama tidak melenceng dari rel normatifnya.
Tanpa tangga bayani, seseorang akan kehilangan arah kiblat moral dan terjebak dalam subjektivisme liar. Namun, berhenti di tangga ini semata-mata menyimpan bahaya laten. Seseorang bisa menjadi kaku dan skripturalis. Fanatisme buta mudah lahir tatkala bunyi teks disembah laksana berhala tanpa dipahami ruhnya.
Dari Teks Menuju Ujian Logika
Itulah sebabnya seorang pembelajar sejati harus berani melangkah ke anak tangga kedua: epistemologi burhani. Jika tangga bayani membimbing kita pada "apa bunyi teks", maka tangga burhani menuntun kita pada "bagaimana menguji dan mengontekstualisasikan teks dalam kenyataan".
Nalar ini digerakkan oleh daya rasio, hukum silogisme, dan verifikasi empiris. Pendekatan burhani menolak kepatuhan buta tanpa penalaran yang jelas. Di tangga burhani, bunyi teks suci tidak dibaca secara terisolasi dari denyut zaman.
Ayat-ayat Al-Qur'an didialogkan secara terbuka dengan fakta sains, realitas sosiologis, dan prinsip kausalitas alam semesta. Nalar burhani bekerja laksana penyaring rasional. Ia menjaga agar pemahaman keagamaan tidak diracuni oleh mitos, klenik, atau cocoklogi semu yang memalukan nalar sehat.
Seseorang yang matang dalam nalar burhani memiliki daya tahan kritis yang luar biasa. Ia tidak gampang silau oleh retorika manis seorang figur publik. Ia tidak mudah tertipu oleh klaim manipulatif yang dibungkus dengan kutipan ayat suci. Setiap informasi selalu ia timbang lewat data, bukti demonstratif, dan penalaran yang runtut.
Nalar ini menuntut bukti nyata sebelum sebuah klaim diyakini sebagai kebenaran mutlak. Tanpa nalar burhani, umat akan selalu menjadi korban penipuan berkedok agama dan tertinggal jauh dalam perlombaan sains global.
Namun, perjalanan pencarian kebenaran belum sampai ke garis akhir jika kita hanya berhenti pada ketajaman logika. Manusia yang hanya mengandalkan teks dan logika kerap kali berubah menjadi sosok yang dingin, kaku, dan gemar berdebat kusir tanpa empati.
Akal yang tajam tanpa kelembutan jiwa justru bisa melahirkan arogansi intelektual baru. Kita bisa terjebak merasa paling logis seraya memandang rendah orang lain yang belum sampai pada taraf berpikir yang sama.
Puncak Makrifat dan Kelembutan Batin
Oleh karena itu, kita harus menapaki anak tangga ketiga yang paling intim: epistemologi ‘irfani. Berakar dari tradisi tasawuf dan spiritualitas mendalam, ‘irfani adalah pengetahuan yang tidak diperoleh lewat lembaran buku ataupun silogisme otak semata.
Pengetahuan ini diraih melalui penyingkapan batin (kasyf) dan pengalaman personal yang langsung dengan Tuhan melalui latihan penyucian jiwa (riyāḍah).
Pengetahuan ‘irfani adalah pengetahuan rasa (dzawq). Ini adalah kepekaan batin yang melahirkan cinta kasih universal, kerendahan hati eksistensial, dan kelembutan sikap terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya. Nalar ‘irfani mengubah teori tentang kebaikan menjadi tindakan welas asih yang nyata.
Di tangga inilah seorang hamba menyadari betapa kerdilnya dirinya di hadapan kemahabesaran Allah. Pengetahuan spiritual ini meruntuhkan keangkuhan diri yang kerap muncul akibat tumpukan gelar dan hafalan.
Krisis keberagamaan kita hari ini meletus justru karena anak-anak tangga tersebut diinjak secara terpisah dan saling menghakimi. Orang yang asyik di ranah bayani kerap menuduh mereka yang memakai nalar burhani sebagai kaum liberal yang sesat.
Mereka juga memvonis kaum ‘irfani sebagai pelaku bid'ah yang menyimpang. Sebaliknya, mereka yang mabuk di tangga ‘irfani sering kali meremehkan syariat lahiriah teks bayani dan memandang rendah penalaran logis burhani.
Akibatnya sangat memilukan bagi perjalanan peradaban. Ruang publik Islam terbelah menjadi faksi-faksi yang saling bertikai. Kaum tekstualis yang beringas menebar vonis, kaum rasionalis yang kering dari kehangatan spiritualitas.
Atau kaum mistikus yang pasif dan lari dari kenyataan dunia. Ketimpangan ini membuat wajah agama tampak menakutkan bagi generasi muda yang haus akan rasionalitas dan kedamaian batin.
Kebenaran hakiki di hadapan Allah hanya bisa diraih tatkala ketiga tangga ini dipadukan dalam satu tarikan napas yang harmonis.
Teks bayani menjadi kompas petunjuk arah agar langkah tidak tersesat. Nalar burhani menjadi lentera akal yang menguji kelayakan pijakan kaki di alam nyata. Keheningan ‘irfani menjadi ruh penyejuk yang mengisi dada dengan cinta kasih ketuhanan.
Berhentilah merasa paling suci hanya karena kita telah menghafal ribuan baris matan klasik. Turunkan ego kesalehan kita. Asah akal budi kita dengan ketelitian ilmu pengetahuan modern.
Bersihkan cermin hati dari kotoran dengki dan riya agar cahaya makrifat sejati dapat memantul dengan sempurna di ruang kehidupan kita sehari-hari.

