Dari Segumpal Daging Jadi Makhluk Berakal: Menelisik Makna 'Khalqan Akhar'
Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita benar-benar meluangkan waktu hening untuk mengamati telapak tangan, helaan napas, atau gemuruh pikiran kita sendiri? Di era modern yang serba cepat ini, manusia sering kali terlalu sibuk memikirkan pencapaian karier, status sosial, dan deretan saldo rekening, hingga melupakan misteri paling mendasar tentang keberadaannya sendiri.
Bagaimana mungkin dari segumpal materi yang basah dan rapuh di dalam kegelapan rahim, kita bisa bertransformasi menjadi sosok yang mampu menatap langit, menggubah sajak cinta, merumuskan teori fisika kuantum, hingga merindukan Sang Pencipta?
Sains modern yang beraliran materialistik kerap mencoba menyederhanakan fenomena ini. Mereka mendefinisikan manusia semata-mata sebagai akumulasi acak dari miliaran sel, ledakan neuron di otak, dan interaksi kimiawi cairan tubuh.
Namun, ada sesuatu yang terasa hilang dalam penjelasan mekanistik tersebut. Jika manusia hanyalah tumpukan daging dan tulang yang bereaksi secara biologis, dari mana datangnya kesadaran moral, rasa bersalah ketika berbuat jahat, dan kerinduan abadi akan keadilan?
Al-Qur'an mengajak kita membedah misteri ini melalui sebuah perjalanan eksistensial yang tertuang indah dalam Surah Al-Mu'minun ayat 12 hingga 14. Di sana dipaparkan tahapan pembentukan jasmani manusia secara amat presisi.
Bermula dari saripati tanah (sulālah min ṭīn), tetesan air mani (nuṭfah), sesuatu yang melekat di dinding rahim (‘alaqah), segumpal daging yang menyerupai kunyahan (muḍghah), hingga pembentukan tulang belulang yang kemudian dibungkus rapi oleh jaringan otot dan daging (fa-kasawnāl-‘iẓāma laḥmā).
Ketika embrio manusia telah mencapai fase pembungkusan tulang oleh daging, sebuah struktur tubuh lengkap memang telah terwujud secara anatomis. Ada kepala, sepasang tangan, kaki, serta organ-organ dalam yang mulai terhubung dalam satu sistem sirkulasi. Namun, di titik ini, wujud tersebut sesungguhnya masih berada pada titik nadir biologis murni.
Syaikh Tantawi Jawhari, dalam karyanya Al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, memberikan catatan menarik; pada fase pembentukan fisik ini, embrio manusia secara visual dan fisiologis belum menunjukkan perbedaan martabat yang radikal jika dibandingkan dengan embrio hewan mamalia lainnya.
Tubuh kecil itu memang hidup, tetapi cara hidupnya masih bersifat vegetatif. Ia menerima nutrisi secara pasif melalui plasenta ibunya. Belum memiliki kesadaran eksistensial, belum bernalar, dan belum sanggup memikul beban moral apa pun.
Jika proses penciptaan terhenti pada tahap pembungkusan daging semata, maka manusia tidak lebih dari sekadar seekor primata bertulang tegak yang hidup hanya berdasar dorongan insting lapar, haus, dan reproduksi.
Saat Daging Biasa Menjadi Ciptaan Berbeda
Namun, di ayat 14 Surah Al-Mu'minun, narasi penciptaan itu tidak berhenti pada uraian organ tubuh. Al-Qur'an kemudian mengguncang kesadaran kita melalui kalimatnya: “Tsumma ansya’nāhu khalqan ākhar”—kemudian Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain!
Perhatikan lompatan linguistik yang digunakan. Allah tidak mengatakan "kemudian Kami membesarkan ukuran badannya", melainkan "Kami menjadikannya makhluk dalam bentuk yang lain". Kata khalqan ākhar adalah sebuah deklarasi metamorfosis ontologis.
Mayoritas mufasir otoritatif sepakat bahwa kalimat ini menandai momentum ditiupkannya roh ilahi ke dalam jasad janin. Inilah peristiwa kosmik yang sangat sakral di mana dimensi langit menyentuh dimensi bumi.
Daging yang tadinya pasif seketika terhubung dengan substansi metafisik yang suci. Tiupan roh itulah yang menganugerahkan percikan akal budi (‘aql), kehendak bebas (irādah), suara hati nurani (ḍamīr), serta kemampuan memikul amanah ketuhanan.
Melalui transformasi ini, manusia tidak hanya entitas biologis yang bergerak di atas tanah, melainkan telah dinobatkan menjadi entitas spiritual yang memiliki kapasitas intelektual dan transendental.
Beban Moral Sang Pemilik Akal Budi
Status baru sebagai khalqan ākhar melahirkan konsekuensi teologis dan etis yang tidak main-main. Dalam teologi Islam, manusia dipandang sebagai sintesis unik antara dua elemen. Unsur bumi yang rendah berupa tanah dan unsur langit yang luhur berupa roh. Dualitas ini menempatkan manusia di persimpangan jalan.
Jika manusia hanya mengabdikan hidupnya untuk menuruti nafsu hewani, menumpuk materi tanpa batas, bersikap serakah, dan menindas sesamanya, maka sesungguhnya ia sedang membongkar kembali kemuliaan dirinya. Ia sedang menurunkan derajatnya sendiri dari posisi khalqan ākhar kembali menjadi sekadar sekerat daging yang dikendalikan oleh insting primitif.
Sebaliknya, anugerah akal budi dan roh itu dititipkan agar manusia sanggup mengemban mandat kepemimpinan di bumi (khilāfah) dengan penuh rasa keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Akal manusia diciptakan bukan sekadar alat bertahan hidup, melainkan radar spiritual untuk membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta dan mengarahkan perilaku sosialnya agar tetap berpijak pada nilai-nilai kebaikan.
Kini saatnya kita menolak pandangan sempit kaum reduksionis yang memandang kehidupan manusia hanya dari angka-angka laboratorium, kecocokan genetik, dan transaksi material semata.
Kita bukan robot organik. Kita bukan sekadar gumpalan daging yang berjalan tanpa tujuan di atas bumi. Di dalam rongga dada setiap insan, bersemayam hembusan napas ketuhanan yang menuntut tanggung jawab etis di hadapan sejarah dan Tuhan.
Mengingat hakikat khalqan ākhar adalah jalan pembuka untuk memulihkan martabat kemanusiaan kita yang kerap tergerus oleh materialisme zaman. Jadilah manusia yang berakal dan berjiwa luhur, karena untuk itulah kita diciptakan menjadi "makhluk yang berbeda!"

