Konten dari Pengguna

Jebakan Tafsir Saintifik: Saat Al-Qur'an Dipaksa Tunduk pada Teori Sains

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi planet dengan tafsir sains. Foto: Hidden/iStock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi planet dengan tafsir sains. Foto: Hidden/iStock

Di era media sosial yang serba cepat, konten keagamaan bertema "mukjizat ilmiah Al-Qur'an" hampir selalu berhasil mendulang ribuan tanda suka dan dibagikan secara masif. Muncul kepuasan psikologis tersendiri di kalangan umat ketika ada penceramah atau kreator konten yang berhasil mencocok-cocokkan ayat kitab suci dengan teori fisika kuantum, temuan kosmologi mutakhir, hingga istilah biologi seluler.

Ada semacam kebanggaan kolektif yang menyeruak bahwa kitab suci Al-Qur'an terbukti sangat modern dan saintifik!

Namun, di balik riuh tepuk tangan linimasa tersebut, terselip sebuah jebakan epistemologis yang teramat berbahaya. Dalam dunia studi Al-Qur'an kontemporer, fenomena ini kerap menggelincirkan penafsir ke dalam kubangan subordinasi teks, yakni sebuah kecenderungan memaksakan firman Tuhan agar tunduk, pas, dan seirama dengan teori ilmiah manusia.

Ketika sains diperlakukan bukan lagi sebagai alat bantu penjelas, melainkan sebagai hakim yang mendikte arti ayat, di situlah letak petaka intelektual bermula.

Kebenaran Teori Sains yang Berubah-ubah vs Kemutlakan Wahyu

Problem paling mendasar dari penafsiran saintifik yang kebablasan adalah ketidakmampuan membedakan sifat dasar antara teks suci dan produk ilmu pengetahuan. Fisikawan dan intelektual Muslim Aljazair, Nidhal Guessoum, dalam bukunya Islam’s Quantum Question (2011), mengingatkan sebuah kaidah sains elementer: teori ilmiah secara hakiki bersifat tentatif, dinamis, dan selalu terbuka untuk digugurkan (provisional).

Apa yang hari ini dianggap sebagai kebenaran mutlak di dunia laboratorium, bisa saja terkoreksi total dua puluh tahun kemudian karena ditemukannya metodologi observasi baru.

Mari kita bayangkan risiko teologisnya. Jika seorang mufasir memaksakan makna sebuah ayat Al-Qur'an agar persis mewakili teori ilmiah tertentu hari ini—misalnya menyamakan frasa nafs wāhidah secara kaku dengan stem cell—apa yang akan terjadi jika di masa depan paradigma biologi mengenai sel induk mengalami perubahan fundamental?

Apakah itu berarti ayat Al-Qur'an ikut kedaluwarsa dan menjadi keliru? Tentu saja tidak. Kesalahan fatalnya terletak pada sang penafsir yang menggantungkan kemutlakan wahyu Ilahi pada dinding teori manusia yang rapuh dan terus bergeser.

Teks Al-Qur'an memiliki dimensi keabadian nilai yang melintasi ruang dan zaman, sehingga tidak selayaknya disempitkan hanya untuk memvalidasi hipotesis ilmiah yang sifatnya temporer.

Belajar dari Zaghloul El-Najjar dan Quraish Shihab

Apakah ini berarti Al-Qur'an anti-sains dan pendekatan tafsir saintifik (al-tafsīr al-‘ilmī) harus dibuang ke keranjang sampah? Sama sekali tidak. Kehadiran sains dalam studi Islam tetap memiliki nilai strategis untuk memperkaya wawasan keimanan.

Namun, ada batas rambu metodologis yang dipasang kokoh oleh para begawan tafsir kontemporer agar kita tidak terperosok ke dalam lubang cocoklogi.

Pakar geologi sekaligus mufasir saintifik asal Mesir, Dr. Zaghloul El-Najjar, menegaskan kaidah penting. Temuan sains modern hanya boleh berposisi sebagai instrumen penguat (konfirmasi ilmiah) dan penjelas hikmah terhadap ayat-ayat kauniyah, bukan sebagai fondasi tunggal untuk membentuk atau merombak makna teks.

Dalam bukunya mengenai ayat-ayat kosmos, Zaghloul tetap mempertahankan makna tekstual asal-usul manusia dari Adam dan Hawa. Ia memanfaatkan data genetika modern, seperti DNA mitokondria yang diwariskan lewat garis ibu, semata-mata untuk mengonfirmasi pesan tekstual kesatuan asal-usul manusia, bukan untuk mengaburkan makna dasarnya.

Senada dengan itu, pakar tafsir Indonesia M. Quraish Shihab dalam karya monumentalnya Kaidah Tafsir (2013) menegaskan bahwa penafsiran ilmiah hanya sah selama ia tidak menabrak struktur gramatika bahasa Arab (lughawī) dan tidak keluar dari konteks pembicaraan ayat (siyāq).

Sains modern tidak boleh dijadikan pintu belakang untuk menyelundupkan makna-makna asing yang sama sekali tidak dikenal dalam memori kultural bahasa Arab masa turunnya wahyu. Apalagi sampai mereduksi pesan moral-eksistensial ayat menjadi sekadar jargon medis.

Pakar metodologi tafsir UIN Sunan Kalijaga, Abdul Mustaqim (2010), merumuskan bahwa pembacaan ayat Al-Qur'an masa kini harus menjaga keseimbangan simfoni antara pendekatan bayānī (analisis teks dan kebahasaan), burhānī (penalaran rasional-saintifik), dan ‘irfānī (kepekaan spiritual). Menghilangkan analisis kebahasaan demi mengejar nalar saintifik semata hanyalah melahirkan ketimpangan nalar yang fatal.

Menepis Inferioritas dan Mengembalikan Martabat Teks

Di balik maraknya cocoklogi ayat Al-Qur'an di ruang publik digital, sesungguhnya tersimpan gejala psikologis yang jarang disadari. Sindrom rendah diri intelektual. Ada kecenderungan sebagian kalangan beragama yang merasa bahwa teks Al-Qur'an baru tampak terhormat, bernilai tinggi, dan sahih jika kebenarannya telah diakui oleh jurnal-jurnal biologi atau fisika Barat.

Sikap semacam ini justru merendahkan derajat wahyu itu sendiri. Al-Qur'an diturunkan sebagai hudan lin-nās—petunjuk moral, spiritual, dan etika hidup bagi manusia sepanjang peradaban—bukan sebagai buku pedoman biologi molekuler atau manual bedah kedokteran.

Al-Qur'an memang mendorong manusia untuk meneliti alam semesta (afalā yaṇẓurūn), tetapi fungsi utamanya adalah menuntun kesadaran eksistensial manusia kepada Sang Pencipta, bukan menyediakan rumus-rumus sains instan.

Mendialogkan agama dan sains adalah ikhtiar luhur yang harus terus dirawat dengan penuh kedewasaan intelektual. Namun, dialog tersebut harus dibangun di atas fondasi kejujuran ilmiah dan ketatnya disiplin metodologi. Jangan biarkan Al-Qur'an dipaksa meliuk-liuk menuruti setiap riak teori sains yang lewat.

Sebagai umat yang cerdas, tugas kita di ruang digital bukan sekadar terpukau oleh istilah ilmiah yang disisipkan dalam mimbar pengajian, melainkan memastikan bahwa firman Tuhan tetap dibaca secara terhormat, proporsional, dan bertanggung jawab.