Ketika Orang Lain Memandang Kita Sebagai Objek Bukan Manusia
Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda merasa mendadak kikuk, serbasalah, dan kehilangan rasa percaya diri hanya karena ditatap lekat-lekat oleh seseorang di sebuah ruangan? Atau merasa identitas Anda tiba-tiba menyusut kerdil menjadi sekadar label pekerjaan, saldo rekening, atau penampilan fisik yang dinilai sepihak oleh orang lain?
Sensasi tidak nyaman itu bukan sekadar reaksi psikologis biasa. Di ruang publik yang bising dan media sosial yang haus penghakiman, kita kerap merasa kebebasan kita dirampas dalam sekejap. Kita merasa tidak lagi dipandang sebagai manusia utuh yang bernyawa dan berproses, melainkan dibekukan menjadi benda mati yang siap dinilai, diukur, dan dihakimi.
Lebih dari setengah abad lalu, filsuf eksistensialis kenamaan asal Prancis, Jean-Paul Sartre, telah merumuskan kegelisahan ini dalam satu kalimat yang sangat tajam sekaligus terkenal, yaitu “L’enfer, c’est les autres”—neraka adalah orang lain. Sartre tidak sedang bersikap misantropis tanpa alasan. Melalui mahakaryanya, Being and Nothingness, ia membedah secara radikal mengapa kehadiran sesama manusia begitu sering memicu ketegangan batin, rasa terasing, dan mematikan kemerdekaan diri.
Eksistensi Manusia Sadar versus Benda Mati
Untuk memahami mengapa tatapan orang lain bisa begitu mengintimidasi, Sartre membagi cara berada segala sesuatu di alam semesta ini ke dalam dua kategori mendasar; l'etre-en-soi (berada pada dirinya) dan l'etre-pour-soi (berada untuk dirinya).
L'etre-en-soi adalah cara berada dunia objek atau benda-benda materi. Sebuah meja, batu, atau pohon berada begitu saja (an sich) tanpa kesadaran, tanpa makna internal, pasif, dan tidak memiliki kehendak bebas. Benda mati terikat kaku pada hukum identitas; sebuah batu selamanya adalah batu dan tidak bisa merancang masa depannya sendiri. Sartre bahkan menyebut keberadaan benda-benda tanpa kesadaran ini sebagai sesuatu yang memuakkan karena ada begitu saja tanpa arti.
Sebaliknya, l'etre-pour-soi adalah cara berada manusia. Manusia adalah makhluk yang memiliki kesadaran reflektif atas dirinya dan dunianya. Karena memiliki kesadaran, manusia tidak pernah selesai atau kaku seperti benda. Manusia selalu terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru, aktif memilih, merancang tujuan, dan memberi makna pada kenyataan di sekitarnya. Bagi Sartre, eksistensi manusia mendahului esensinya. Manusia lahir terlebih dahulu ke dunia, baru kemudian menciptakan jati dirinya sendiri secara terus-menerus melalui tindakan nyata.
Persoalan dan kepedihan eksistensial muncul ketika kita yang berwujud pour-soi (subjek yang sadar dan merdeka) mendadak diperlakukan atau direduksi menjadi sekadar en-soi (objek mati) oleh orang lain di sekitar kita.
Medan Pertikaian Subjek Melawan Objek
Bagaimana proses pembendaan itu terjadi dalam keseharian kita? Kuncinya terletak pada apa yang disebut Sartre sebagai dinamika tatapan mata (the look).
Tatapan mata dalam filsafat eksistensialisme bukanlah sekadar proses optik ketika retina menangkap cahaya. Tatapan adalah peristiwa perebutan kekuasaan makna. Ketika seseorang menatap kita, ia sedang memosisikan dirinya sebagai subjek—sang pusat dunia—dan secara otomatis menempatkan kita sebagai objek dalam lanskap dunianya.
Di bawah tatapan mata orang lain, kita tidak lagi bebas mendefinisikan siapa diri kita secara utuh. Kita terperangkap ke dalam definisi, asumsi, dan kategori yang diciptakan oleh sang penatap. Seorang atasan yang memandang bawahannya sekadar alat produksi, seorang teman yang menilai rekannya hanya dari status sosial, atau warganet yang menghakimi seseorang berdasarkan potongan video pendek, pada hakikatnya sedang melakukan tindakan en-soi: membendakan manusia hidup.
Inilah alasan mengapa Sartre memandang bahwa hakikat dari setiap relasi antarmanusia pada dasarnya beralaskan konflik. Setiap kesadaran (pour-soi) memiliki dorongan alamiah untuk mempertahankan subjektivitasnya sendiri dan ingin menjadi pusat dunianya masing-masing. Ketika dua kesadaran bertemu, terjadi gesekan eksistensial. Saya ingin menjadikan Anda objek bagi dunia saya, sementara Anda pun berjuang keras menjadikan saya objek bagi dunia Anda.
Dalam kacamata Sartre yang sinis, cinta tanpa pamrih atau kebersamaan yang murni objektif sangat sulit terwujud dalam realitas sehari-hari. Cinta kerap kali terjebak menjadi upaya saling menguasai. Aku ingin eksistensiku diakui, tubuhku diinginkan, dan nilaiku dihargai oleh orang lain. Relasi antarpribadi pun berubah menjadi ajang tatap-menatap yang melelahkan, tempat masing-masing pihak saling mengobjekkan dan berusaha mematikan subjektivitas pihak lain.
Kematian Subjektivitas dan Jebakan 'Nous-Objet'
Sartre menegaskan bahwa "kematian" yang sesungguhnya bukanlah ketika jantung berhenti berdetak, melainkan saat orang lain sepenuhnya menang atas diri kita dan kita pasrah dijadikan benda (en-soi) di bawah kendali mereka.
Ketika kita hidup semata-mata demi memenuhi ekspektasi sosial, takut melangkah karena khawatir dihakimi, atau membiarkan label orang lain mendikte jalan hidup kita, kita sesungguhnya telah mengalami kematian subjektivitas. Kita membiarkan diri kita membatu dan kehilangan esensi kebebasan.
Lalu, apakah manusia sama sekali tidak bisa bersatu tanpa saling memusuhi? Sartre melihat ada celah persatuan, namun sifatnya sangat rapuh dan kondisional, yakni melalui konsep nous-objet (kita-sebagai-objek).
Manusia biasanya baru bisa benar-benar merasa dekat, membentuk kata "kita", dan menunjukkan solidaritas ketika mereka bersama-sama menghadapi pihak ketiga atau musuh bersama. Krisis kelaparan, ancaman perang, atau penindasan kelas adalah contoh kondisi yang mampu menyatukan manusia yang terasing. Namun, begitu musuh bersama itu hilang atau ancaman mereda, persatuan tersebut biasanya ikut pudar dan manusia akan kembali ke setelan awalnya. Saling bersaing, saling memusuhi, dan kembali berkonflik dalam dialektika subjek-objek.
Merebut Kembali Kedaulatan Diri
Membaca analisis Sartre memang terasa dingin dan getir, namun ia memberikan peta diagnosis yang sangat jernih bagi penyakit relasi sosial modern. Filsafat eksistensialisme tidak bermaksud menuntun kita pada keputusasaan mutlak, melainkan menyadarkan kita akan beban tanggung jawab yang melekat pada kemerdekaan manusia.
Karena manusia adalah makhluk yang memiliki pour-soi, kita dikutuk untuk bebas. Kita tidak memiliki kuasa untuk melarang orang lain menatap, menilai, atau berusaha membendakan kita. Namun, kita memiliki kedaulatan mutlak untuk menolak label tersebut dan tidak membiarkan diri kita membeku menjadi benda mati.
Kebebasan sejati menuntut kita untuk berani berdiri di atas kaki sendiri. Memikul tanggung jawab penuh atas masa depan dan terus bertindak menciptakan makna hidup tanpa harus mendiktekan diri pada pengakuan orang lain. Pada saat yang sama, kesadaran ini menuntut kedewasaan etis.
Jika kita tidak ingin dibendakan oleh orang lain, kita pun harus berhenti memandang sesama kita sebagai sekadar objek pemuas ego, melainkan menghormati mereka sebagai sesama jiwa yang merdeka.

