Menengok Ragam Tradisi Unik Maulid Nabi di Pelosok Nusantara
Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika bulan Rabiul Awal menyapa, lanskap Nusantara dipenuhi perayaan yang semarak dari ujung barat Sumatra hingga perairan Maluku. Di balik populernya tradisi Sekaten dan Grebeg Mulud di keraton Jawa, bentang tradisi Maulid di luar Jawa menyajikan mozaik akulturasi yang tak kalah memesona dan kaya makna spiritual.
Fenomena ini menegaskan bahwa Islam hadir di Nusantara bukan dalam ruang yang hampa budaya. Alih-alih menggusur adat lokal secara konfrontatif, Islam justru mengakomodasi dan mewarnai kebudayaan setempat dengan nilai-nilai tauhid guna meluruskan orientasi spiritual serta memperkuat kohesi sosial masyarakat.
Tiga Corak Masuknya Islam dalam Bingkai Budaya
Dialektika antara wahyu universal dan realitas lokal melahirkan pola dakwah yang sangat khas di kepulauan Nusantara. Mengutip Abdul Hadi W.M. (2008), persebaran dan penerimaan Islam di Indonesia terbagi ke dalam tiga corak utama: integratif, dialogis, serta perpaduan dialogis-integratif.
Corak integratif berkembang di pesisir Melayu, Sumatra, Banjar, pesisir Jawa, dan Madura, di mana nilai Islam langsung membentuk pandangan hidup serta pranata sosial karena masyarakat telah memeluk Islam mendahului atau bersamaan dengan penguasa. Sementara itu, corak dialogis terjadi di pedalaman Jawa yang dipengaruhi tradisi keraton, tempat Islam berdialog harmonis dengan warisan estetika dan mistik masa lalu.
Pada kawasan Indonesia Timur seperti Sulawesi dan Maluku, berkembang corak dialogis-integratif yang bermula dari masuk Islamnya para raja dan bangsawan sebelum diikuti oleh rakyatnya. Menurut Suriadi dalam penelitiannya yang berjudul "Akulturasi Budaya dalam Tradisi Maulid Nabi Muhammad di Nusantara" mengatakan bahwa ketiga pola interaksi sosio-kultural ini mewujud secara nyata dalam beragam ritual keagamaan, dengan tradisi perayaan Maulid Nabi sebagai etalase paling hidup hingga hari ini.
Ekspedisi Kultural: Merayakan Kelahiran Nabi di Luar Jawa
Menelusuri ritual perayaan Maulid di berbagai daerah di luar Jawa membuka wawasan tentang betapa kreatifnya para pendahulu dalam mengemas rasa syukur atas kelahiran Rasulullah SAW ke dalam wadah kearifan lokal.
Di Sumatra Barat, masyarakat Minangkabau menyambut bulan Maulid dengan tradisi Malamang dan Mulud Badikia. Malamang adalah tradisi membuat lemang—beras ketan yang dimasak di dalam seruas bambu—secara bersama-sama oleh kaum kerabat dan warga nagari. Setelah lemang matang, makanan ini dibawa ke surau atau masjid untuk dinikmati bersama di sela-sela prosesi Badikia (berzikir dan melantunkan puji-pujian syair keagamaan semalam suntuk). Nilai gotong royong dan silaturahmi yang hidup dalam proses pembuatan lemang menjadi bejana sosial yang mempererat kerukunan antarwarga nagari.
Melangkah ke Kalimantan Selatan, masyarakat Banjar melestarikan tradisi Baayun Maulid atau Baayun Mulud. Tradisi ini mempertemukan ritus daur hidup anak-anak dengan peringatan keagamaan. Ratusan bahkan ribuan balita diletakkan di dalam ayunan kain berlapis yang dihias dengan aneka hiasan janur, kue tradisional, serta hasil bumi. Sembari ayunan digerakkan secara perlahan, para alim ulama dan jemaah melantunkan selawat dan doa-doa keselamatan dengan harapan anak-anak yang diayun kelak tumbuh menjadi pribadi yang saleh, sehat, dan meneladani akhlak luhur Nabi Muhammad SAW.
Di Sulawesi Selatan, tepatnya di komunitas Cikoang, Takalar, terselenggara tradisi Maudu Lompoa (Maulid Besar) yang sarat dengan simbol-simbol mistis dan ajaran tasawuf. Masyarakat menghias ratusan perahu tradisional (julung-julung) dengan kain warna-warni, ribuan butir telur rebus yang dicat, serta gunungan bahan pangan. Perahu-perahu hias tersebut bukan sekadar ornamen estetis, melainkan representasi simbolik dari bahtera keselamatan spiritual dan jejak masuknya ajaran Islam melalui jalur pelayaran maritim yang dibawa oleh para ulama penyebar tarekat.
Sementara itu di bumi rempah Maluku Utara, Kesultanan Ternate menyelenggarakan tradisi Babaca Maulid. Dalam suasana yang khidmat di masjid-masjid dan lingkungan kesultanan, pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad dilantunkan secara berirama dengan diiringi ketukan rebana tradisional yang ritmis. Denting musik rebana dan lantunan teks klasik menyatu menjadi instrumen pengikat loyalitas kultural masyarakat terhadap nilai-nilai keteladanan kenabian dan kedaulatan moral kesultanan.
Spirit Sufistik: Mahabbah sebagai Jembatan Tradisi
Jika dibedah lebih dalam dari kacamata sosiologi agama, meluasnya perayaan Maulid di seantero Nusantara tidak dapat dilepaskan dari peran dominan para pendakwah sufi dan saudagar asal Yaman serta Kurdistan yang membawa kitab-kitab sastra maulid. Kitab-kitab maulid klasik seperti Al-Barzanji karya Syaikh Ja'far al-Barzanji yang berakar dari Tarekat Qadiriyyah, maupun kitab Al-Diba'i karya Imam Wajihuddin al-Diba'i, menjadi teks yang sangat populer dibacakan di tengah masyarakat.
Menurut Suriadi, para juru dakwah sufi memahami betul bahwa masyarakat agraris dan maritim Nusantara memiliki afinitas kultural yang tinggi terhadap tradisi penuturan sastra lisan dan penghormatan figur guru spiritual. Oleh karena itu, ajaran Islam tidak diperkenalkan melalui doktrin teologis yang kaku dan rumit, melainkan melalui penanaman rasa cinta kepada sosok Rasulullah SAW.
Seni syair dan prosa berirama dalam kitab Maulid bertindak sebagai medium wushuliyyah (jembatan penghubung batin) menuju kecintaan kepada Allah SWT melalui pengagungan Nur Muhammad sebagai pusat penciptaan alam semesta. Pembacaan kisah hidup Nabi yang dibawakan secara musikal dan puitis tidak hanya menjadi santapan batin masyarakat, tetapi juga secara efektif berfungsi sebagai perekat ikatan sosial lintas kelas dan etnisitas.
Merawat Warisan Kemanusiaan dan Keberagamaan
Keberhasilan Islam berakar kuat di bumi Nusantara bersandar pada kecerdasan metodologis dalam menerapkan kaidah usul fikih klasik; al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah—memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih maslahat. Para ulama dan leluhur bangsa kita menolak pandangan sempit yang melihat budaya lokal sebagai ancaman permanen bagi kemurnian akidah. Sebaliknya, selama suatu tradisi bersih dari praktik yang nyata-nyata diharamkan, ia diposisikan sebagai wadah muamalah yang sah untuk mengekspresikan nilai-nilai kebaikan dan rasa syukur.
Sebagaimana dicatat oleh Suriadi, ragam perayaan Maulid dari Minangkabau, Banjar, Takalar, hingga Ternate membuktikan bahwa lokalitas tidak pernah menjadi penghalang bagi universalitas ajaran Islam. Kesalehan beragama dan kecintaan pada adat-istiadat tanah air dapat berjalan beriringan secara damai dan saling menguatkan.
Merawat tradisi-tradisi Maulid di penjuru Nusantara bukan sekadar melestarikan nostalgia seremonial tahunan. Lebih dari itu, ia adalah ikhtiar merawat mozaik peradaban yang mengajarkan kita bagaimana nilai-nilai luhur kenabian—kasih sayang, gotong royong, dan keadilan sosial—dapat terus hidup, bernapas, dan membumi di tengah kebhinekaan bangsa.

