Mengapa Sains Kita Tertinggal? Melacak Nalar Burhani yang Hilang
Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda menyadari sebuah ironi peradaban yang teramat perih ketika melihat daftar peraih Nobel Sains dunia? Dari ratusan ilmuwan yang telah dianugerahi penghargaan tertinggi di bidang fisika, kimia, dan kedokteran sejak seabad terakhir, jumlah ilmuwan dari dunia Muslim yang berpenduduk hampir dua miliar jiwa ini bisa dihitung dengan jari sebelah tangan.
Kontras ini menjadi semakin menyakitkan manakala kita menengok buku-buku sejarah peradaban abad pertengahan. Di era ketika Eropa masih tenggelam dalam zaman kegelapan dan membakar ilmuwan di tiang gantungan, kota Baghdad, Kairo, dan Kordoba justru bermandikan cahaya laboratorium.
Ilmuwan Muslim seperti Ibnu Al-Haitsam meletakkan dasar ilmu optik modern, Jabir bin Hayyan merumuskan kaidah kimia eksperimental, dan Al-Khawarizmi menciptakan algoritma dan aljabar.
Namun, hari ini, mengapa kejayaan ilmiah yang gemilang itu seolah lenyap tak berbekas? Ke mana perginya peradaban sains kita dan mengapa hari ini kita hanya menjadi konsumen pasif atas teknologi yang diciptakan bangsa lain?
Jawaban atas teka-teki peradaban ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyalahkan konspirasi Barat atau meratap bernostalgia ria. Filsuf kontemporer asal Maroko, Mohammad Abed al-Jabiri, dalam karya monumentalnya Takwīn al-‘Aql al-‘Arabī, membedah problem ini melalui pisau kritik epistemologi.
Al-Jabiri menemukan bahwa akar dari kemandekan sains di dunia Islam adalah tersingkirnya nalar burhani dari panggung utama kebudayaan Islam sejak abad ke-12 Masehi. Dalam konstruksi pemikiran Islam, terdapat tiga nalar utama: bayani (otoritas teks), ‘irfani (intuisi mistik), dan burhani (demonstrasi rasional-ilmiah).
Senjakala Nalar Kritis Peradaban
Pada masa-masa awal keemasan Abbasiyah dan Andalusia, nalar burhani yang dipelopori para filsuf seperti Ibnu Rusyd tumbuh sangat subur. Mereka memperlakukan alam semesta sebagai kitab terbuka yang memiliki hukum keteraturan kausalitas objektif yang bisa diteliti melalui eksperimen empiris dan hukum logika.
Namun, dinamika politik kekuasaan dan pergulatan teologi mazhab perlahan-lahan mengubah arah angin. Tradisi intelektual Islam secara sistematis mengalami penyempitan yang parah: nalar teks fikih (bayani) dan nalar mistisisme sufistik (‘irfani) mendominasi ruang publik keagamaan secara mutlak.
Pendekatan bayani yang kian mengeras melahirkan kecenderungan bahwa kebenaran hanyalah apa yang tertulis dalam matan teks masa lalu, sementara nalar rasional-filosofis dicurigai sebagai bibit kesesatan akidah.
Di sisi lain, pelarian massal masyarakat ke dalam nalar ‘irfani yang ekstrem—di mana intuisi spiritual, mimpi, dan keramat mistis dianggap lebih bernilai daripada kerja keras riset ilmiah—secara perlahan mematikan etos sains.
Ketika nalar burhani akhirnya disingkirkan dan dicap bid'ah, ruang-ruang laboratorium pun redup, berganti menjadi majelis-majelis debat lafaz fikih yang tak berujung atau pelarian batin yang abai terhadap realitas materi duniawi.
Harga mahal yang harus dibayar oleh dunia Islam akibat peminggiran nalar burhani ini sangatlah fatal. Selama berabad-abad, sains diperlakukan laksana "tamu asing" yang mencurigakan.
Ketika negara-negara Eropa mengalami Revolusi Industri berkat adopsi metode berpikir Ibnu Rusyd yang mereka kembangkan menjadi empirisme ilmiah, mayoritas masyarakat Muslim justru masih berkutat memperdebatkan apakah mempelajari matematika dan astronomi memiliki ganjaran pahala di akhirat.
Pola pikir irasional ini merembes kuat hingga hari ini. Sebagian masyarakat kita jauh lebih antusias mendanai narasi cocoklogi mukjizat instan atau memburu air doa daripada mengucurkan dana miliaran rupiah untuk membiayai fasilitas riset sains dasar di universitas-universitas Islam.
Merebut Kembali Mahkota Pengetahuan
Jika dunia Islam bertekad untuk bangkit dari senjakala peradaban ini, tidak ada jalan pintas selain merebut kembali warisan epistemologi burhani yang telah lama hilang. Kita harus berani mereformasi kurikulum pendidikan Islam dengan menempatkan sains dan logika demonstratif sebagai bentuk manifestasi tertinggi dari ketundukan kepada hukum-hukum Allah di alam semesta.
Nalar kritis, metode ilmiah berbasis data, dan penghormatan terhadap kausalitas alam harus kembali dijadikan kurikulum wajib di setiap pesantren dan universitas Islam.
Menghidupkan kembali nalar burhani sama sekali tidak berarti membuang teks wahyu (bayani) atau mematikan kelembutan batin (‘irfani). Ini adalah upaya mengembalikan keseimbangan ekologi pemikiran Islam.
Wahyu memberi kita arah moral, spiritualitas memberi kita ketenangan jiwa, namun nalar burhani adalah mesin penggerak peradaban.
Tanpa menyalakan kembali obor nalar burhani, peradaban Islam akan selamanya tertinggal, meratap di sudut sejarah peradaban modern, seraya terus bernostalgia tentang kejayaan masa lalu yang tak pernah mampu kita ulangi.

