Mental Health Terganggu? Temukan Rahasia Ikhtiar Medis dan Resep Al-Qur'an
Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah maraknya kesadaran masyarakat mengenai kesehatan mental, sebuah vonis lama sering kali masih menyelinap di sela-sela percakapan kita. Ketika ada kerabat atau rekan kerja yang mengeluhkan kecemasan berlebih, depresi, atau burnout, tidak sedikit bibir yang dengan mudah berucap: "Makanya ibadah diperbanyak, itu tanda kamu kurang iman dan jauh dari Tuhan."
Penghakiman semacam ini bukan saja tidak menyelesaikan masalah, melainkan menciptakan beban ganda bagi penderita. Mereka tidak hanya bertarung melawan rasa sakit psikologisnya, tetapi juga dihinggapi perasaan bersalah seolah-olah telah menjadi seorang hamba yang gagal.
Pertanyaannya, apakah benar kecemasan psikologis melulu disebabkan oleh "dangkalnya iman"? Dan bagaimanakah sains medis serta ajaran Islam yang autentik memandang hubungan antara kesehatan jiwa dan spiritualitas?
Pandangan Medis: Spiritualitas sebagai Meaning-Focused Coping
Kesehatan mental adalah struktur yang kompleks. Dalam publikasi klinis terbarunya di Indian Journal of Psychiatry (2024), Prof. Shiv Gautam dan tim psikiater internasional menegaskan bahwa kesehatan mental (mental well-being) tidak hanya dipengaruhi oleh satu aspek tunggal. Ia dibentuk oleh determinan biologis, kondisi sosial-ekonomi, interaksi lingkungan, hingga pengalaman trauma.
Namun, riset tersebut menggarisbawahi satu poin krusial: faktor spiritualitas dan agama diakui secara klinis sebagai instrumen pelindung (protective factor) dan mekanisme pertahanan diri (coping strategy) yang sangat sah.
Dalam psikologi modern, koping terbagi menjadi beberapa tipe. Selain fokus menyelesaikan masalah dan meredakan emosi, ada yang dinamakan Meaning-focused coping. Ini adalah strategi kognitif di mana seseorang menggunakan nilai-nilai kepercayaan, agama, dan spiritualitas untuk memproses, mereframe, serta menemukan makna hidup di tengah krisis atau penderitaan yang tak bisa diubah secara instan.
Artinya, secara sains medis, pendekatan spiritual bukanlah penawar ajaib yang menggantikan pengobatan fisik/psikologis, melainkan pondasi kebermaknaan yang membantu otak manusia mengolah stres dan membangun daya tahan batin.
Resep Al-Qur'an dan Penafsiran Mufassir Nusantara
Pengakuan sains atas peran spiritual coping sebenarnya berkelindan erat dengan petunjuk Al-Qur'an. Salah satu ayat paling mendasar mengenai regulasi emosi dan kesehatan jiwa terdapat dalam Surah Ar-Ra’d [13] ayat 28:
" (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
Bagaimana ulama nusantara menafsirkan ayat ini dalam konteks jiwa manusia?
1. Prof. M. Quraish Shihab
Dalam Tafsir Al-Mishbah, Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata ithmi’nān (ketenangan) dalam ayat ini merujuk pada ketentraman yang mendalam dan kokoh, bukan ketenangan semu yang dikejar lewat kesenangan duniawi yang sementara.
Beliau menekankan bahwa mengingat Allah tidak boleh dipahami secara sempit sebatas ucapan lisan tanpa penghayatan. Zikir adalah kesadaran penuh (mindful awareness) bahwa Allah adalah Pengatur Alam Raya. Ketika seseorang sadar bahwa hidupnya berada dalam genggaman Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa, hati akan terbebas dari keraguan, kebimbangan, dan rasa cemas yang berlebihan (anxiety). Zikir menjadi proses penguatan emosional yang mengubah cara berpikir manusia dalam merespons ujian hidup.
2. Buya Hamka
Penafsiran yang tak kalah menyentuh datang dari Buya Hamka. Ketika menulis Tafsir Al-Azhar, Hamka berada dalam jeruji besi penjara akibat fitnah politik—sebuah kondisi yang sangat rentan memicu depresi dan keputusasaan.
Menurut Buya Hamka, zikir adalah obat pemulih jiwa, penyegar batin, dan benteng pertahanan ketika seseorang berada dalam titik terendah. Hamka menegaskan bahwa ketika situasi eksternal tidak lagi bisa dikendalikan seperti kurungan penjara atau krisis hidup, hubungan batin yang jujur dengan Allah melalui doa, shalat, dan penyandaran diri akan melahirkan kekuatan jiwa. Baginya, zikir adalah tindakan sadar untuk menyegarkan jiwa agar tidak hancur dihantam gelombang ujian.
Kombinasi Ikhtiar Medis dan Spiritual
Setelah membaca penafsiran Quraish Shihab dan Buya Hamka, keduanya memperlihatkan kepada kita bahwa Al-Qur'an memandang spiritualitas sebagai proses pemberdayaan jiwa, bukan alat pembenaran untuk menghakimi sesama.
Mengalami krisis mental bukan berarti iman seseorang telah habis. Sebagaimana tubuh fisik yang bisa sakit terkena demam meskipun seseorang rajin berolahraga, jiwa manusia pun bisa mengalami luka psikologis akibat akumulasi beban hidup, gangguan senyawa kimia di otak, atau trauma.
Oleh karena itu, narasi keislaman kita dalam merespons isu kesehatan mental harus diubah. Mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater adalah bentuk ikhtiar medis yang sangat dianjurkan dalam Islam. Di saat yang sama, mendekatkan diri pada Al-Qur'an, memperbaiki kualitas shalat, dan meresapi arti zikir adalah ikhtiar spiritual untuk merawat sanubari.
Keduanya tidak untuk dipertentangkan. Memeluk pengobatan medis sembari memegang teguh resep Al-Qur'an adalah wujud keimanan yang utuh: ikhtiar yang rasional di bumi, dan penyandaran jiwa yang tulus ke Langit.

