Refleksi Maulid: Menemukan Kembali Sosok Nabi Muhammad SAW di Tengah Krisis Umat
Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali bulan Rabiul Awal menyapa kalender hijriah, gema selawat, lantunan syair puji-pujian, dan perhelatan akbar menyemarakkan berbagai sudut dunia Islam. Namun, di balik panggung-panggung perayaan yang megah itu, realitas umat manusia hari ini justru tengah didera oleh berbagai luka kemanusiaan yang menganga.
Polarisasi sosial kian meruncing. Perselisihan sektoral mudah menyulut permusuhan, ketimpangan ekonomi meminggirkan kaum lemah, dan empati sosial kerap tergerus oleh individualisme yang dingin.
Kondisi kontras ini melahirkan sebuah kegelisahan. Apakah peringatan Maulid Nabi SAW yang kita laksanakan setiap tahun telah benar-benar menyentuh kesadaran etis kita, ataukah ia sekadar berputar menjadi rutinitas seremonial yang kehilangan ruh transformatifnya?
Untuk menjawab kegelisahan tersebut, mempertemukan refleksi otoritas keilmuan Islam dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, dengan perenungan para ulama di Yaman memberikan kita sudut pandang yang sangat kaya, utuh, dan kontekstual.
Keduanya sepakat bahwa merayakan kelahiran Rasulullah SAW bukanlah perayaan kultus terhadap masa lalu, melainkan ikhtiar mendesak untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur sang Rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi semesta alam) di tengah retaknya lanskap peradaban manusia.
Menyelami Hakikat Al-Insan Al-Kamil
Dalam sebuah pidato peringatan Maulid yang sarat perenungan mendalam, Syaikh Al-Azhar menegaskan sebuah distingsi penting, yakni perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sama sekali berbeda dengan peringatan hari lahir para tokoh besar dunia pada umumnya.
Sejarah kerap mencatat para pembesar peradaban—mulai dari para penakluk, kaisar, hingga cendekiawan ulung—yang perannya disinggahi peradaban sejenak, dikagumi dalam kurun waktu tertentu, untuk kemudian pelan-pelan ditinggalkan dan memudar ditelan zaman.
Maulid Nabi adalah perayaan dari jenis yang lain. Ia adalah perayaan atas puncak kesempurnaan manusiawi (al-kamāl al-insānī), pancaran wahyu Ilahi, dan kehadiran duta langit yang membimbing bumi.
Rasulullah SAW telah mencapai derajat keluhuran budi pekerti yang begitu agung hingga beliau layak disematkan gelar sebagai Al-Insān Al-Kāmil (Manusia Sempurna). Gelar ini terbukti secara nyata dalam ratusan catatan literatur akhlak dan Syamāil Muḥammadiyyah.
Syaikh Al-Azhar menguraikan bagaimana keagungan karakter kenabian ini membumi dalam keseharian:
1. Beliau bukan sosok yang berwatak kasar. Tidak bertutur kata kotor (faḥisy), tidak bertindak keji, dan tidak pernah berteriak-teriak mencari perhatian di jalanan maupun pusat keramaian.
2. Tangan beliau yang mulia tidak pernah sekalipun memukul pelayan ataupun perempuan. Beliau tidak pernah membalas dendam atas perlakuan zalim yang menimpa dirinya pribadi, melainkan senantiasa memaafkan dan berlapang dada.
3. Ketika berada di dalam bilik rumahnya, beliau menanggalkan segala atribut kebesaran dan bersikap layaknya manusia biasa. Memerah susu kambingnya sendiri, menjahit pakaian yang koyak, dan melayani kebutuhannya sendiri tanpa membebani orang lain.
4. Beliau menolak perlakuan feodal. Saat tiba di suatu majelis, beliau langsung duduk di tempat yang masih tersisa tanpa menuntut tempat duduk khusus yang diistimewakan.
Keagungan moral semacam inilah yang hari ini sangat dirindukan. Ketika dunia modern sering kali mengukur kehebatan seseorang dari seberapa besar kekuasaan, akumulasi materi, dan dominasi yang ia miliki, figur Rasulullah SAW justru mengajarkan bahwa puncak kejayaan kemanusiaan terletak pada kerendahan hati, kejujuran budi, dan kemampuan menundukkan hawa nafsu dari kesombongan.
Menjaga Api Spiritual di Tengah Ujian
Jika refleksi dari Al-Azhar Mesir mengajak kita menyelami kedalaman filosofi akhlak kenabian, maka realitas masyarakat di Yaman memberikan kita teladan nyata tentang bagaimana cinta kepada Rasulullah SAW mampu menjadi lentera ketahanan jiwa di tengah situasi paling kelam sekalipun.
Sebagaimana dicatat dalam laporan surat kabar mingguan 26 September 2018 di Sana'a, di tengah belenggu konflik bersenjata, blokade ekonomi, dan derita kemanusiaan yang berkepanjangan, masyarakat Yaman tetap bersikukuh merayakan Maulid Nabi dengan penuh kekhidmatan dan kesemarakkan.
Bagi mereka, memperingati kelahiran Rasulullah SAW merupakan wujud kesetiaan abadi kepada nabi yang telah mendoakan keberkahan bagi negeri mereka: "Ya Allah, berkahilah negeri Yaman dan Syam kami."
Allamah Muhammad bin Ali Ar-Rawafi, mufti dan pengajar ilmu syariah di Masjid Jami' Kabir Sana'a, menjelaskan bahwa perayaan ini berakar dari perintah Al-Qur'an untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah (QS. Yunus: 58). Menghadirkan kembali kisah kelahiran Nabi yang diiringi padamnya api kesombongan Persia dan runtuhnya tiang istana tirani Kisra adalah simbol bahwa kebenaran dan keadilan pasti akan mengalahkan kezaliman.
Bagi rakyat Yaman yang merupakan keturunan kaum Aus dan Khazraj (kaum Anshar), perayaan Maulid adalah komitmen historis untuk terus membela nilai-nilai kenabian. Dari sudut pandang ini, perayaan Maulid berubah menjadi sumber kekuatan spiritual yang memancarkan optimisme. Meneguhkan solidaritas kaum yang terluka dan menyatukan elemen masyarakat di atas ikatan ukhuwah Islamiyah yang melampaui sekat-sekat materiil.
Empati kepada yang Lemah dan Terpinggirkan
Salah satu dimensi paling memesona dari risalah Rasulullah SAW yang diangkat oleh para ulama adalah kepekaan sosial beliau yang melintasi batas-batas formalitas. Syaikh Muhammad Musa'id Al-Arsyani menegaskan bahwa hakikat sejati dari risalah Islam adalah rahmat yang mengejawantah ke dalam tindakan nyata.
Ketika Sayyidah Aisyah r.a. ditanya mengenai bagaimana akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari, beliau menjawab secara singkat namun padat, yakni "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an."
Al-Qur'an yang bernafaskan keadilan, kasih sayang, dan pembelaan terhadap kaum tertindas tidak sekadar dibaca, melainkan hidup dan berjalan di dalam gerak-gerik Nabi.
Kepekaan nurani ini tercermin secara luar biasa bahkan dalam ibadah ritual yang paling sakral sekalipun. Rasulullah SAW mengisahkan bahwa ketika beliau mengimami salat berjamaah dengan niat awal ingin memperpanjang bacaan ayat-ayat suci, beliau serta-merta mempercepat salatnya begitu mendengar tangisan seorang bayi dari kejauhan. Beliau tidak ingin ibadah tersebut membuat sang ibu yang sedang salat merasa terbebani dan cemas atas tangisan buah hatinya.
Kasih sayang beliau juga menyentuh makhluk yang tak berdaya bersuara. Beliau pernah secara langsung menegur seorang pemuda Anshar yang membiarkan seekor unta bekerja terlampau berat hingga kelaparan dan meneteskan air mata.
Jika terhadap tangisan bayi dan rintihan seekor binatang saja Rasulullah SAW menunjukkan empati yang sedemikian halus, betapa jauh lebih besarnya kepedulian yang semestinya kita curahkan kepada jutaan saudara kita yang hari ini menjerit akibat ketidakadilan, kemiskinan, dan penindasan.
Dari Euforia Seremonial Menuju Tindakan Nyata (Ittiba')
Pada akhirnya, dialog gagasan antara para cendekiawan Al-Azhar dan para ulama Yaman bermuara pada satu kesimpulan mendasar, yaitu perayaan Maulid Nabi tidak akan memiliki dampak transformatif bagi kebangkitan umat jika ia berhenti pada level euforia seremonial semata.
Menyanjung Nabi di atas mimbar-mimbar perayaan tanpa diiringi upaya meneladani tindakannya adalah bentuk pengagungan yang kehilangan substansi.
Krisis yang menimpa peradaban manusia hari ini—mulai dari krisis kepemimpinan, merajalelanya fitnah, hingga retaknya persaudaraan—terjadi karena umat menjauh dari empat pilar risalah kenabian; tilawah dan penghayatan ayat-ayat Al-Qur'an, penyucian jiwa (tazkiyah) dari penyakit dengki dan kesombongan, penguasaan ilmu pengetahuan, serta pengamalan hikmah dalam setiap tindakan.
Ketika Nabi mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah, beliau meletakkan prinsip itsār—yaitu keikhlasan untuk mendahulukan kepentingan saudara seiman di atas kepentingan pribadi. Prinsip inilah yang menjadi obat penawar paling mujarab untuk memadamkan api egoisme kelompok dan sentimen kebencian yang kerap mengoyak tatanan masyarakat kita hari ini.
Menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum reflektif berarti menjadikan sosok Rasulullah SAW sebagai kompas moral dalam seluruh sendi kehidupan kita. Kita dipanggil untuk meneladani kejujurannya di ruang publik. Meniru kelembutan tutur katanya di dalam ruang keluarga. Mencontoh integritasnya dalam mengemban amanah, serta menyerap keberaniannya dalam membela kaum yang papa.
Hanya dengan cara itulah, perayaan Maulid Nabi tidak lagi sekadar menjadi romantisme sejarah masa lalu, melainkan menjelma menjadi energi perubahan yang hidup—menghadirkan kembali sosok Rahmatan lil 'Alamin untuk menyembuhkan luka dunia dan menuntun manusia keluar dari kegelapan krisis menuju keadilan hakiki.

