Konten dari Pengguna

Sains Berubah, Al-Qur'an Abadi: Bagaimana Mempertemukan Keduanya Tanpa Bias?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Al-Qur'an. Foto: GR Stocks/pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Al-Qur'an. Foto: GR Stocks/pexels.

Ketika teori mekanika klasik abad ke-19 harus dikoreksi oleh relativitas umum dan mekanika kuantum, lanskap pemikiran manusia terguncang. Kebenaran ilmiah ternyata tidak pernah bersifat absolut. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar muncul di ranah teologis: haruskah tafsir ayat Al-Qur'an ikut berganti setiap kali paradigma laboratorium diperbarui?

Memaksakan ayat suci agar selalu presisi dengan temuan riset mutakhir merupakan langkah apologetis yang naif dan bentuk reduksi terhadap sakralitas wahyu sekaligus pelecehan terhadap integritas metodologis sains itu sendiri.

Mendudukkan relasi antara teks transenden yang bersifat permanen dan kalkulasi empiris yang bersifat tentatif menuntut ketajaman epistemologis, bukan sekadar euforia pembenaran.

Jebakan Cocoklogi dan Dilema Falsifikasi

Kecenderungan memaksakan kesesuaian antara teks suci dan penemuan kontemporer melahirkan gejala reduksionisme yang kerap dipopulerkan sebagai mukjizat ilmiah (al-i'jaz al-'ilmi). Pendekatan ini kerap terjebak dalam cocoklogi.

Mengisolasi kosakata bahasa Arab dari konteks sosiolinguistiknya, lalu menempelkannya secara paksa pada hipotesis fisika, biologi, atau kosmologi terkini. Fenomena ini tampak memukau di mimbar-mimbar dakwah dan platform digital karena menyuguhkan rasa bangga instan, namun menyimpan kerapuhan logika yang fatal.

Sains modern bekerja di atas fondasi falsifikasi—sebagaimana ditegaskan Karl Popper—di mana sebuah teori diakui bernilai ilmiah justru karena ia terbuka untuk diuji, ditumbangkan, dan digantikan oleh model penjelasan yang lebih akurat. Thomas Kuhn melengkapinya dengan konsep pergeseran paradigma: sains bergerak secara diskontinu melalui krisis dan anomali.

Di sinilah letak dilema intelektualnya. Jika sebuah ayat Al-Qur'an ditafsirkan secara tunggal dan definitif menggunakan satu teori sains tertentu—misalnya mekanika Newton—apa yang terjadi ketika teori tersebut digeser oleh teori Relativitas Einstein? Apakah teks Al-Qur'an ikut menjadi usang, atau firman Tuhan yang kemudian dianggap keliru?

Menjadikan teori ilmiah yang belum mapan sebagai legitimator kebenaran firman Allah adalah kekeliruan bernalar. Langkah tersebut secara tidak sadar memposisikan otoritas laboratorium lebih tinggi daripada teks wahyu.

Al-Qur'an baru dianggap absah dan modern jika telah "disahkan" oleh jurnal peer-reviewed. Ini adalah kerancuan posisi yang menurunkan derajat wahyu dari pedoman eksistensial universal menjadi sekadar teka-teki ilmiah yang menunggu konfirmasi peradaban Barat.

Menata Epistemologi Bahasa Penuntun dan Formula Teknis

Akar dari bias penafsiran ini berpangkal pada kekacauan epistemologis dalam mendudukkan fungsi Al-Qur'an. Kitab suci ini memproklamasikan dirinya sebagai hudan li an-nas—penuntun nilai, kompas moralitas, dan peta etika eksistensial manusia—bukan manual teknis rancang bangun galaksi atau ensiklopedia anatomi seluler.

Al-Qur'an menggunakan bahasa komunikasi manusia abad ke-7 di Semenanjung Arab yang sarat metafora, tamsil, dan retorika puitik yang kaya (balaghah), bertujuan menggugah akal budi dan kesadaran spiritual audiensnya, bukan menyajikan rumus matematika.

Dalam diskursus metodologi tafsir, Abu Ishaq Asy-Syathibi dalam mahakaryanya Al-Muwafaqat telah memberikan rambu-rambu fundamental: Al-Qur'an diturunkan dengan lisan dan tradisi pemahaman bangsa Arab.

Upaya membebani teks Al-Qur'an dengan disiplin ilmu pengetahuan yang asing dari cakrawala penerima pertamanya merupakan bentuk pemaksaan hermeneutis yang merusak keotentikan pesan.

Sains dan wahyu memiliki wilayah teritori eksplanasi yang berbeda:

  • Sains murni bertugas menjawab pertanyaan faktual: bagaimana (how) alam semesta bekerja secara kausalitas material, bagaimana sebuah atom terbelah, atau bagaimana sel membelah diri.

  • Al-Qur'an menjawab pertanyaan ontologis dan aksiologis: mengapa (why) kosmos ini diciptakan, siapa di balik keteraturan hukum alam dan ke mana tujuan akhir dari eksistensi manusia.

Ketika Al-Qur'an menyinggung fenomena embriologi, orbit tata surya, atau bentangan atmosfer, teks tersebut tidak sedang menyusun diktat kedokteran atau astrofisika. Teks tersebut sedang menyajikan ayat—tanda, isyarat, dan stimulasi kontemplatif.

Gunanya agar manusia menggunakan instrumen kognitifnya (afala ya'qilun, afala yatadabbarun) untuk menemukan keteraturan Ilahi di balik semesta. Mengaburkan batas demarkasi ini hanya akan melahirkan sains yang dogmatis atau tafsir yang spekulatif.

Titik Temu Tanpa Bias: Menjaga Otoritas Teks dan Independensi Riset

Membangun hubungan harmonis antara sains dan Al-Qur'an tanpa saling menjajah membutuhkan hermeneutika yang objektif dan berdisiplin tinggi. Al-Qur'an harus dibaca dengan perangkat filologi dan semantik Arab yang ketat—menelusuri medan makna kata, sebagaimana kajian semantik Al-Qur'an.

Perlu juga menimbang konteks historis (asbab an-nuzul), serta memahami perangkat stilistika teks secara komprehensif. Menghindari anakronisme adalah harga mati; kosakata teks klasik tidak boleh ditarik paksa untuk memvalidasi terminologi sains modern yang lahir ribuan tahun setelahnya.

Di sisi lain, riset ilmiah empiris harus dibiarkan bekerja secara otonom, mandiri, dan jujur. Saintis Muslim tidak perlu membebani eksperimen laboratorium mereka dengan pretensi untuk "mencari ayat pendukung" demi justifikasi religius. Keduanya bertemu bukan pada tataran teknis materi, melainkan pada tataran aksiologi dan etika filosofis:

  1. Inspirasi Eksplorasi Empiris: Teks wahyu menempatkan keteraturan alam semesta sebagai realitas objektif yang dapat dipelajari, membebaskan manusia dari takhayul dan animisme mitologis.

  2. Kawal Etika dan Batasan Moral: Sains modern kerap terjebak dalam krisis nihilisme dan bahaya dehumanisasi—seperti destruksi lingkungan dan manipulasi genetik tanpa batas. Al-Qur'an hadir menyuntikkan kompas moral dan rasa tanggung jawab transendental.

  3. Harmonisasi Kosmis: Penemuan hukum-hukum keteraturan alam justru memperdalam ketakjuban manusia terhadap keagungan Sang Pencipta, tanpa perlu merekayasa makna ayat secara berlebihan.

Dengan cara pandang ini, sains tidak lagi diposisikan sebagai lawan yang mengancam keimanan, dan Al-Qur'an tidak dijadikan bemper justifikasi penemuan manusia yang fana.

Al-Qur'an memanggil kita untuk membaca, lalu merawat semesta. Jika air dan tanah di sekitar kita mulai kehilangan daya hidupnya, mari jadikan tilawah kita sebagai panggilan nurani: menghidupkan ayat-ayat suci menjadi laku nyata menjaga bumi.