Konten dari Pengguna

Terjebak 'Couple Goals'? Definisi Pasangan Idaman Menurut Al-Qur'an

Ilustrasi pasangan idaman. Foto: Haris Iskandar/pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pasangan idaman. Foto: Haris Iskandar/pexels.

Pernahkah Anda merasa hubungan asmara tiba-tiba terasa hambar dan membosankan, tepat setelah menutup layar media sosial? Perasaan ganjil ini ternyata dialami oleh jutaan orang setiap harinya.

Bayangkan, Anda baru saja melihat video seorang suami yang menghadiahkan mobil mewah berbalut pita merah kepada istrinya, atau pasangan muda yang selalu tertawa lepas di sudut kafe estetik tanpa kelihatan lelah sedikit pun.

Tanpa disadari, bisikan kecil mulai menyusup ke dalam benak: "Kenapa pasanganku tidak bisa seromantis itu? Kenapa hubungan kami begini-begini saja?"

Standar kebahagiaan modern telah mengalami pergeseran radikal. Di era banjir informasi visual, tolok ukur pasangan idaman kerap dipangkas menjadi hal-hal yang kasatmata: paras yang rupawan, gaya hidup glamor, dan kebiasaan memamerkan afeksi di ruang digital. Pasangan yang jarang mengunggah foto berdua di media sosial bahkan sering kali dicurigai sedang bermasalah.

Namun, benarkah keintiman diukur dari seberapa sering kita memajang kemesraan di layar kaca? Melalui pendekatan tafsir sastra-kemasyarakatan (adabī ijtimā‘ī), Sayyid Quthb membalik total premis tersebut.

Jauh sebelum peradaban internet lahir, Al-Qur'an telah merumuskan cetak biru pasangan ideal yang tidak silau oleh gemerlap visual, melainkan berakar kokoh pada keluhuran budi pekerti.

Jebakan Layar Kaca: Menukar Ketulusan dengan Tepuk Tangan Netizen

Fenomena couple goals di ruang siber sering kali menjebak pasangan ke dalam labirin impression management. Hubungan yang mulanya murni dijalani berdua perlahan-lahan berubah menjadi pertunjukan yang menuntut penonton.

Muncullah kecenderungan komodifikasi romantisme: kemesraan diproduksi ulang, ditata dengan sudut kamera terbaik, dan disunting sedemikian rupa demi meraup angka interaksi, algoritma, serta popularitas.

Dampak paling berbahaya dari tren ini adalah terkikisnya rasa malu (hayā’) dan lenyapnya batas privasi keluarga. Dalam masyarakat digital, tidak sedikit pasangan yang rela mengaburkan wilayah tabu demi konten.

Bahkan yang lebih memprihatinkan, ketika riak perselisihan melanda, ruang siber kerap dijadikan arena untuk meluapkan amarah, menyindir pasangan secara pasif-agresif, atau mengumbar kekurangan keluarga demi memancing simpati warganet.

Padahal, citra sempurna di media sosial ibarat istana pasir di bibir pantai. Begitu ombak persoalan hidup yang sesungguhnya datang, mulai dari krisis finansial, kelelahan mengasuh anak, hingga kejenuhan komunikasi.

Pencitraan visual sama sekali tidak memiliki daya tahan untuk menopang keutuhan rumah tangga. Hubungan yang hanya hidup dari tepuk tangan netizen akan mati kelaparan saat berada di ruang nyata.

Mengembalikan Marwah Pasangan: Belajar dari Tiga Keteladanan Sejarah

Al-Qur'an tidak berbicara tentang pasangan ideal dalam angan-angan kosong. Nilai-nilai ketuhanan yang diuraikan Sayyid Quthb tercermin nyata dalam potret sejarah kenabian yang sangat membumi:

  1. Khadijah r.a. dan Seni Menjadi Penenang Jiwa

Saat menafsirkan konsep sakīnah dalam Surat Ar-Rum ayat 21, Quthb menekankan bahwa ketenangan bukanlah situasi steril tanpa konflik, melainkan kapasitas mental untuk menghadirkan rasa aman bagi pasangan.

Keteladanan ini terpancar sempurna pada diri Sayyidah Khadijah r.a. Ketika Rasulullah saw. pulang dari Gua Hira dalam keadaan gemetar hebat, dicekam rasa takut yang luar biasa setelah menerima wahyu pertama, Khadijah tidak menghujaninya dengan tuntutan atau kepanikan. Ia menyelimuti suaminya, memvalidasi perasaannya, dan merangkai kata-kata peneguh:

"Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu."

Pasangan idaman adalah mereka yang menjadi tempat berteduh paling sunyi saat dunia di luar sedang meruntuhkan rasa percaya dirimu.

2. Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra sebagai Cermin Libās

Konsep pasangan sebagai libās (pakaian) dalam Surat Al-Baqarah ayat 187 menemukan wujud nyatanya pada rumah tangga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra r.a. Kehidupan rumah tangga mereka jauh dari gelimang materi; tangan Fatimah kerap melepuh karena menumbuk gandum sendiri, dan Ali bekerja keras membanting tulang.

Kendati hidup dalam keterbatasan ekonomi yang nyata, keduanya tidak pernah menjadikan kekurangan tersebut sebagai alasan untuk membongkar urusan dapur ke hadapan orang lain.

Mereka menjadi pakaian satu sama lain. Saling menutupi cela, menjaga martabat keluarga, dan mempertahankan kemuliaan rumah tangga. Mereka tidak butuh dunia tahu seberapa berat ujian mereka, karena kehormatan keluarga tersimpan rapi di dalam dada.

3. Rasulullah saw. dan Dialog yang Menghangatkan Bersama Aisyah r.a.

Banyak orang keliru menafsirkan kepemimpinan suami (qowwāmah dalam QS. An-Nisa: 34) sebagai legitimasi untuk bersikap kaku dan menuntut tunduk mutlak. Padahal, Sayyid Quthb menegaskan bahwa esensi kepemimpinan Qur'ani adalah pengayoman yang dilandasi rasa tanggung jawab moral.

Lihatlah bagaimana Rasulullah saw. memperlakukan Aisyah r.a. Di tengah kesibukannya memimpin umat dan negara, beliau mengajak istrinya berlomba lari, bercanda ria, dan mendengarkan celoteh serta curahan hatinya tanpa memotong pembicaraan.

Kepemimpinan beliau tidak melahirkan ketakutan, melainkan memancarkan kehangatan dan rasa dihargai yang membuat pasangannya merasa aman seutuhnya.

Kafa'ah Rohani: Saat Hubungan Berpijak pada Titik Temu Tauhid

Salah satu kritik paling mendasar yang diajukan Quthb terhadap standar sosial masyarakat adalah konsep kesetaraan (kafa'ah). Jika budaya digital hari ini mengukur kesetaraan dari strata sosial, gaya hidup konsumtif, atau estetika fisik, Islam menempatkan kesepadanan pada kematangan spiritual dan keselarasan tauhid.

Pasangan yang sepadan secara hakiki adalah mereka yang memiliki frekuensi keimanan yang sama. Mereka bisa saling mengingatkan ketika salah satunya mulai lalai, saling menenangkan ketika dunia sedang sempit, dan sama-sama melangkah menuju tujuan yang melampaui batas-batas duniawi.

Cinta yang bertumpu pada fisik akan memudar seiring munculnya kerutan di wajah, tetapi cinta yang diikat oleh kesamaan orientasi kepada Allah akan bertambah kuat seiring berjalannya waktu.

Sudah saatnya kita berhenti membandingkan realitas rumah tangga kita dengan etalase media sosial orang lain yang sudah melewati seribu kali penyuntingan.

Pasangan idaman bukanlah mereka yang sempurna tanpa cela, melainkan dua manusia biasa yang memilih untuk saling menutupi aib, menjaga kehormatan, dan menjadikan rumah mereka sebagai surga kecil yang damai.

Pernahkah kamu merasa tertekan oleh standar couple goals yang berseliweran di linimasa media sosial? Bagikan caramu menjaga keintiman dan kehangatan nyata bersama pasangan di kolom komentar!